Outlook Perdagangan 2022, Mendag:Jaga Momentum Pertumbuhan Ekspor dan Kendalikan Inflasi

0

Menteri   Perdagangan   Muhammad   Lutfi   menegaskan,   Kementerian Perdagangan  berkomitmen  untuk  terus  menjaga  momentum  pertumbuhan  ekspor  dan  pengendalian inflasi volatile fooddi tahun 2022 melalui stabilisasi harga bahan pokok. Sejumlah langkah strategis akan dilakukan agar pemulihan kinerja perdagangan terus berlanjut.Hal tersebut disampaikan Mendag Lutfi dalam

“Konferensi Pers Outlook Perdagangan 2022” yang digelar secara virtual belum lama ini. Turut hadir sebagai narasumber yaitu KetuaUmumKamar Dagangdan Industri(Kadin)IndonesiaArsjad Rasjid dan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Prof. Dr. Muhammad Ikhsan, SE., MA.

Momentum pertumbuhan ekspor perlu dijaga mengingat capaian kinerja ekspor Indonesia pada 2021, yang terdiri atas ekspor migas dan nonmigas, telah memecahkan rekor tertinggi dalam sejarah dengan nilai USD 231,54 miliar. Besaran ini bahkan mengalahkan nilai ekspor tertinggi Indonesia yang selama ini dicatatkan pada 2011 sebesar USD 203,50 miliar.

“Ekspor Indonesia di 2021 menembus angka USD 231,54 miliar.  Angka  ini  merupakan  yang  tertinggi, melampaui catatan nilai ekspor tertinggi Indonesia selama ini di 2011 yang sebesar USD 203,50 miliar,”ungkap Mendag Lutfi.

Mendag  Lutfi  menambahkan,  nilai  ekspor  2021  yang  menjadi  rekor  baru  ini  didominasi  oleh  produk-produk manufaktur. Produk-produk tersebut adalah CPO dan turunannya, besi baja, produk elektronik dan elektronika, serta kendaraan bermotor dan suku cadangnya. “Empat dari lima produk ekspor utama di 2021 merupakan produk manufaktur,”kata Mendag Lutfi.

Secara rinci, lima komoditas ekspor nonmigas terbesar Indonesia pada 2021 adalah batu bara dengan nilai  USD  32,84  miliar,  CPO  (USD  32,83  miliar),  besi  baja  (USD  20,95  miliar),  produk  elektronik  dan elektronika (USD 11,80 miliar), serta kendaraan bermotor dan suku cadangnya (USD 8,64 miliar).Sementara itu, neraca perdagangan kumulatif Indonesia periode 2021 mencatatkan surplus sebesar USD 35,54 miliar.

Surplus tersebut diperoleh dari defisit neraca migas sebesarUSD 13,25 miliar dan surplus neraca  nonmigas  sebesar  USD  48,60  miliar.  Nilai  surplus  nonmigas  2021  tersebut  turut  mencatatkan rekor sebagai surplus nonmigas terbesar sepanjang sejarah.Bila dibandingkan dengan ekspor 2020 yang mencatatkan nilai USD 163,19 miliar, ekspor 2021 tumbuh hingga sebesar 41,88 persen. Di sisi lain, impor 2021 tercatat sebesar USD 196,20 miliar atau tumbuh 38,59 persen dibanding impor 2020 yang sebesar USD 141,57 miliar.

Mendag Lutfi menyampaikan, pada 2021 surplus perdagangan tertinggi Indonesia dengan negara mitra dicatatkan oleh perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) dengan nilai USD 14,52 miliar, disusul dengan Filipina (USD 7,33 miliar), dan India (USD 5,62 miliar).Sementara perdagangan Indonesia dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada 2021 mengalami defisit sebesar USD 2,45 miliar. Namun, defisit ini berkurang hingga 68,84 persen dibandingkan pada 2020 yang sebesar USD 7,85 miliar.

Lebih   lanjut   Mendag   Lutfi   juga   menyampaikan,   Kemendag   akan   terus   menjaga   momentum pertumbuhan ekspor di tahun 2022. Sejumlah tantangan yang menjadi perhatian utama Mendag Lutfi adalah  kebijakan tapering off, hambatan logistik dunia, krisis energi, serta strategi menghadapi pandemi Covid-19.

“Indonesia  memperhatikan  kebijakan tapering   offoleh   Amerika   Serikat.   Selain   itu,   diharapkan penyelesaian gangguan logistik global akan lebih baik pada 2022. Pemerintah juga tengah menyiapkan sejumlah  langkah  strategis  untuk  mengatasi  krisis  energi  dalam  perekonomian  global  serta  terus melakukan  upaya  pengendalian  pandemi  Covid-19.  Langkah  ini  perlu  dilakukan  untuk  mendorong kinerja perdagangan dan menjaga momentum pertumbuhan ekspor,”tegasnya. (Sumber Kemendag)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *