Pacu Ekspor Produk Kayu Ringan, Kemendag Rangkul Pelaku Usaha di Kalimantan Tengah
Kementerian Perdagangan merangkul para pelaku usaha kayu ringan di
Provinsi Kalimantan Tengah untuk memacu ekspor produk kayu ringan dengan menyelenggarakan
forum “Pengembangan Potensi Ekspor Kayu Ringan”. Forum berlangsung pada Selasa (20/8) di
Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Dalam forum ini, para peserta yang terdiri dari pelaku usaha
kayu ringan mendapatkan informasi seputar peluang dan pengembangan kayu ringan di pasar
dunia, khususnya di Eropa.
Acara terselenggara atas kerja sama Kemendag dengan The Swiss Import Promotion Programme
(SIPPO), Import Promotion Desk (IPD) Jerman, Fairventures, dan pemerintah daerah. SIPPO, IPD
Jerman, dan Fairventures merupakan lembaga swadaya masyarakat (LSM) mitra Kemendag dalam
meningkatkan ekspor produk kayu ringan ke seluruh dunia.
“Diharapkan dengan kegiatan ini dapat menstimulasi gairah industri kayu ringan dalam negeri
untuk lebih berkarya dan mendapatkan inspirasi pengaplikasian kayu ringan yang lebih modern
dan futuristik di pasar global. Contohnya aplikasi kayu ringan sebagai material bangunan 24 lantai
HoHo Tower Vienna yang tahun ini akan dinobatkan menjadi World’s Tallest Wooden Skycraper,”
jelas Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Marolop Nainggolan.
Kegiatan ini, lanjut Marolop, juga bertujuan mendapatkan masukan dan informasi seputar industri
kayu ringan dari LSM, pemda, dan para pelaku usaha di provinsi Kalimantan Tengah.
Selain itu, para peserta juga melakukan kunjungan lapangan ke beberapa lokasi usaha kayu ringan
di Kalimantan Tengah, termasuk ke sentra kerajinan di Tilung yang merupakan eksportir sumpit ke
Jepang dan ke PT Naga Bhuana di Kabupaten Pulang Pisang, sebuah perusahaan di Kalimantan
yang memproduksi tripleks.
Pulau Kalimantan memiliki sumber daya alam beragam jenis kayu, termasuk kayu ringan. Selama
ini, kayu ringan sering dikategorikan kayu sembarang atau kayu murah. Kayu ringan hanya
digunakan sebagai bahan baku pembuatan panel inti strip kayu atau pengisi balok kayu bernilai
tambah rendah. Dengan memanfaatkan teknologi dan menyasar pasar yang tepat, kayu jenis ini
akan memberikan keuntungan yang berlipat ganda.
“Potensi kayu ringan dari hutan Kalimantan Tengah cukup besar, terutama yang berasal dari 57
unit hak pengusahaan hutan. Jika dibutuhkan, pemda akan menyiapkan lahan untuk penanaman
kayu sengon,” terang Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah Sri Suwanto.
