Pasokan Ikan Terjaga, Inflasi Babel Terkendali
Perkembangan harga di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada bulan Maret 2018 masih terkendali. Tercatat Bnagka Belitung mengalami inflasi sebesar 0,17 % (mtm), setelah pada Februari 2018 mengalami deflasi 0,64% (mtm). “Walaupun terlihat kenaikan harga di beberapa komoditas pangan, secara umum inflasi di Bangka Belitung masih cukup terkendali” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Tantan Heroika.
Menurut rilis Bank Indonesia yang diterima oleh redaksi eljohnnews.com, diketahui bahwa pada bulan Maret 2018, ditinjau dari kelompok pembentuk inflasi (disagregasi), seluruh kelompok mengalami inflasi yang cukup terkendali. Tercatat volatile food mengalami inflasi sebesar 0,07% (mtm), sedangkan kelompok inti dan administered price masing-masing mengalami inflasi 0,14% (mtm) dan 0,40% (mtm).
Berdasarkan pengeluaran, kelompok bahan makanan tercatat mengalami deflasi sebesar 0,02% (mtm), sedangkan kelompok sandang tercatat mengalami inflasi yang tertinggi yaitu sebesar 0,58% (mtm). Sementara itu untuk kelompok hortikultura mulai mengalami inflasi pada Maret 2018 akbat belum memasuki masa panen raya. Namun, kenaikan harga komoditas hortikultura diimbangi dengan penurunan harga pada kelompok ikan-ikanan sehingga secara keseluruhan inflasi pada kelompok bahan makanan cukup terkendali. Di sisi lain, beberapa jenis pakaian mengalami kenaikan harga yang berimbas pada kenaikan inflasi pada kelompok sandang. Kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan juga mengalami inflasi 0,40% (mtm) seiring dengan mulai masuknya periode peak season (Hari Raya Ceng Beng) sehingga memberi dampak pada kenaikan tarif tiket angkutan udara.
Kondisi inflasi bulan Maret 2018 di Bangka Belitung secara tahunan tercatat sebesar 3,02% (yoy), lebih rendah dari inflasi Maret 2017 sebesar 6,40% (yoy), namun sedikit meningkat dibanding inflasi Februari 2018 sebesar 2,56% (yoy). Inflasi tahunan di Bangka Belitung pada Maret 2018 juga berada dibawah angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,40% (yoy).
Terjaganya inflasi di awal tahun 2018 kiranya perlu dilanjutkan antara lain melalui penguatan sinergi antar lembaga dalam mengawal stabilitas inflasi . “Tantangan pengendalian inflasi tahun 2018 cukup berat, oleh karena itu setiap elemen di TPID Provinsi/Kabupaten/Kota dan Satgas Pangan perlu terus meningkatkan koordinasi dalam upaya pengendalian inflasi di tahun 2018 ini. Oleh karena itu, sinkronisasi program dan anggaran di setiap lembaga perlu diperkuat. Selain itu, program-program yang inovatif perlu diperkaya di dalam progarm tahunan TPID agar permasalahan struktural dapat segera teratasi. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan program yang sudah direncanakan juga perlu dilakukan agar upaya pengendalian inflasi dapat semakin efektif, terukur dan terarah.”, ujar Tantan.
