Pemerintah Bakal Pangkas Mata Rantai Perdagangan ke Luar Negeri
Perdagangan Indonesia kepada beberapa negara ternyata mengalamai beberapa hambatan yang kerap merugikan pemerintah. Hal itu diakibatkan banyak pihak ketiga yang ikut dalam mata rantai perdagangan Indonesia kepada dunia.
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Indonesia bakal memangkas mata rantai perdagangan ke sejumlah negara. Informasi tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat bertemu Presiden Jokowi di kompleks Istana Merdeka, Jakarta beberapa waktu lalu.
Menurut Retno yang akan dipangkas adalah mata rantai perdagangan yang melibatkan pihak ketiga. Retno mengakui peran pihak ketiga ada yang membantu pemerintah, ada juga yang justru merugikan pemerintah . Karena itu butuh penyaringan yang ketat mana saja mata rantai yang perlu dipangkas utamanya yang tidak menguntungkan negara.
“Presiden Jokowi setuju perdagangan itu sebaiknya kita jajaki secara langsung,” ujar Retno,
Selain proses menjadi lebih cepat, kebijakan tersebut juga diyakini mampu membuat harga komoditas perdagangan lebih murah. “Intinya, perdagangan langsung itu akan menguntungkan kedua negara,” ujar Retno.
Beberapa sektor perdagangan yang akan dipangkas mata rantainya, kata Retno, antara lain minyak dan gas, furniture, dan CPO. Perdagangan langsung tanpa melibatkan pihak ketiga adalah perdagangan yang diprioritaskan pemerintah. Salah satu perdagangan langsung yang belum lama ini disepakati adalah perdagangan dengan Nigeria. Hal ini karena pasar Nigeria cukup besar dan dianggap sangat potensial bagi berbagai produk asal Indonesia.
Saat ini, Indonesia tengah mengajukan skema perdagangan baru dengan Nigeria. Pemerintah Indonesia akan mengajukan skema perdagangan langsung melalui Preferential Trade Agreement (PTA). Selama ini, perdagangan Indonesia-Nigeria harus melibatkan negara ketiga. PTA juga dianggap sebagai solusi utama guna mendongkrak angka ekspor Indonesia ke Nigeria
“Kemudian kita juga bahas tentang kemungkinan suatu kelompok negara-negara Afrika Barat untuk membentuk PTA dengan Indonesia. Bulan depan akan ditindaklanjuti oleh Pak Menteri Perdagangan (Enggartiasto Lukita) masuk ke Nigeria untuk bahas PTA,” ungkap Retno di lokasi yang sama yakni di kompleks Istana Merdeka.
Menurut Retno, ada banyak peluang produk Indonesia bisa dijual, misalnya produk makanan dan minuman seperti mie instan dan CPO. Dengan jumlah penduduk 180 juta orang, pasar Nigeria dianggap Retno cukup besar. Laju perekonomian Nigeria juga meningkat dari tahun ke tahun.
