BusinessEconomicHeadline News

Perundingan CEPA Jadi Tonggak Baru Kerjasama Indonesia-Turki

Hubungan ekonomi Indonesia dan Turki telah berkembang menuju tahapan yang lebih dalam. Hal ini ditandai dengan ditandatanganinya Pernyataan Bersama Peluncuran  Perundingan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dengan Turki (Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement/IT-CEPA).

Dalam siaran persnya disebutkan penandatanganan dilakukan  Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita dan Menteri Perekonomian Turki Nihat Zybekci pada kunjungan kenegaraan  Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, ke Ankara, Turki, Kamis, 6 Juli 2017.

“Agar para pelaku usaha dapat secepatnya mengambil manfaat dari peluncuran IT- CEPA maka  perundingan perdagangan barang (Trade in Goods Agreement) akan diprioritaskan selesai pada tahap pertama. Sementara perdagangan jasa dan investasi serta bidang lainnya baru akan dirundingkan pada tahapan berikutnya sesuai kesepakatan kedua negara,”ungkap Mendag Enggar.

Mendag Enggar menjelaskan bahwa Indonesia dan Turki sepakat untuk memperhatikan isu-isu sensitif kedua negara agar IT-CEPA dapat memberikan manfaat ekonomi bagi keduanya. Enggar juga menekankan bahwa putaran pertama Perundingan IT-CEPA direncanakan dimulai pada bulan Oktober 2017di Indonesia yang penyelenggaraannya diikuti dengan pelaksanaan Sidang Komisi Bersama (SKB)yang dipimpin oleh Mendag Enggar.

Gagasan pembentukan IT-CEPA sebelumnya telah dibahas di Sidang Komisi Bersama Indonesia-Turki ke-7 pada 2008 di Ankara, Turki. Berdasarkan pembahasan tersebut, disusunlah sebuah kajian bersama pada 2011 yang merekomendasikan dibentuknya CEPA. Selanjutnya pada kurun 2011-2012, hasil kajian bersama tersebut disosialisasikan guna menjaring masukan dan mendapatkan tanggapan dari para pemangku kepentingan di Indonesia.Keseriusan Pemerintah RI dalam menjajaki prospek pembentukan IT-CEPA tercermin dalam Deklarasi Bersama tentang Peningkatan Kemitraan di Tatanan Dunia Baru oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Abdullah Gül pada 5 April 2011 di Jakarta.

Upaya pembentukan IT-CEPA kemudian kembali ditekankan dalam pertemuan Presiden Joko Widodo dan Presiden Recep Tayyip Erdogan pada 31 Juli 2015 di Jakarta.Pintu Masuk Produk Unggulan IndonesiaDengan jumlah populasi 80,2 juta (2016) dan GDP per kapita Purchasing Power Parity(PPP) USD 21.146 (2016), serta pertumbuhan ekonomi rata-rata 3,3% dalam 5 tahun terakhir, Turki merupakan pasar yang sangat prospektif. Selain itu, Turki juga dapat menjadi pintu masuk produk unggulan Indonesia ke kawasan Eropa, Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Tengah mengingat Turki memiliki perjanjian perdagangan dengan berbagai blok ekonomi tersebut.

“Indonesia dapat memanfaatkan posisi strategis Turki dalam suplai dan rantai nilai guna menembus pasar di negara-negara di kawasan tersebut,”lanjut Enggar.

Turki merupakan negara tujuan ekspor nonmigas ke-23 dan mitra investasi ke-43 bagi Indonesia dengan nilai investasi sebesar USD 2,7 juta (2016). Badan Pusat Statistik mencatat bahwa dalam delapan tahun terakhir Indonesia selalu menikmati surplus

perdagangan dengan Turki. Pada 2016, surplus tersebut mencapai USD 712,9 juta bagi Indonesia, dengan ekspor sebesar USD 1 miliar dan impor sebesar USD 311 juta. Namun, jumlah surplus pada 2016 relatif menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa kebijakan perdagangan Turki yang kurang bersahabat bagi produk Indonesia,seperti tarif maupun bea tambahan untuk beberapa produk impor serta trade remedies.

Selain itu,perjanjian perdagangan negara-negara pesaing Indonesia dengan Turki juga menyebabkan daya saing ekspor Indonesiaterganggu.

“Diharapkan pembentukan IT-CEPA dapat mengatasi hambatan-hambatan perdagangan dimaksud,”pungkas Mendag.

 

 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button