Polri Dalami Dugaan Keterpaparan Paham Tertentu di Balik Kasus Ledakan SMAN 72

0
IMG-20251108-WA0007_885671

Kepolisian Republik Indonesia terus mendalami berbagai kemungkinan motif di balik insiden ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan bahwa terduga pelaku ledakan merupakan salah satu siswa sekolah tersebut, dan penyidik kini tengah menyelidiki potensi adanya keterkaitan pelaku dengan paham tertentu atau paparan konten di media sosial.

Saat menjenguk para korban yang masih dirawat di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih, Jenderal Sigit menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya fokus pada aspek teknis ledakan, tetapi juga menyelidiki kemungkinan adanya faktor ideologis, psikologis, maupun sosial yang memengaruhi tindakan pelaku.

“Tentunya hal itu menjadi bagian dari penyelidikan kami. Apakah yang bersangkutan terpapar paham tertentu, terpengaruh oleh konten di media sosial, atau ada hal lain yang menimbulkan ketertarikan hingga melakukan perbuatan tersebut, semuanya sedang didalami,” ujar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Kapolri menegaskan bahwa penyidik masih menelusuri berbagai kemungkinan motif di balik peristiwa yang mengejutkan dunia pendidikan tersebut. Ia menjelaskan bahwa tim gabungan dari Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya telah dikerahkan untuk menggali informasi dari berbagai sumber, termasuk media sosial, keluarga, dan lingkungan sekolah pelaku.

“Kami juga melakukan pemeriksaan terhadap aktivitas media sosial dan berkoordinasi dengan pihak keluarga guna mengumpulkan seluruh informasi yang relevan. Semua fakta sedang kami kumpulkan untuk mendapatkan gambaran utuh tentang latar belakang peristiwa ini,” jelas Jenderal Sigit.

Polri juga tengah menganalisis komunikasi digital dan jejak daring terduga pelaku guna memastikan apakah ada keterlibatan pihak lain atau pengaruh eksternal yang memicu tindakan tersebut.

Selain dugaan keterpaparan paham tertentu, Kapolri mengungkapkan bahwa pihaknya turut menelusuri kemungkinan bahwa terduga pelaku merupakan korban perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.

“Isu itu juga sedang kami kumpulkan informasinya. Semua yang berkaitan dengan motif, termasuk dugaan perundungan, kami periksa dengan hati-hati. Kami ingin mengetahui secara pasti faktor apa yang paling berpengaruh terhadap tindakan pelaku,” ujarnya.

Penelusuran terhadap dugaan perundungan ini melibatkan koordinasi dengan pihak sekolah, teman sekelas, dan konselor pendidikan, guna memastikan penyelidikan berjalan objektif dan komprehensif.

Kapolri menegaskan, Polri akan memastikan bahwa setiap aspek penyebab, baik ideologi, psikologis, maupun sosial — ditelusuri tuntas.

“Semua kemungkinan kami buka. Kami ingin kasus ini tidak hanya selesai dari sisi hukum, tetapi juga menjadi pelajaran penting bagi semua pihak untuk memperkuat sistem pengawasan dan perlindungan di lingkungan sekolah,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Jenderal Sigit menyampaikan bahwa kondisi terduga pelaku berangsur membaik setelah menjalani perawatan intensif. Ia menyebut bahwa perkembangan kondisi ini akan mempermudah proses penyidikan, terutama untuk mendapatkan keterangan langsung dari pelaku ketika kesehatannya sudah memungkinkan.

“Yang jelas, kondisi terduga pelaku semakin membaik. Semoga ke depan dia dapat memberikan keterangan agar motifnya bisa kita ungkap secara terang,” kata Jenderal Sigit.

Kapolri menambahkan bahwa Polri berkomitmen menangani kasus ini dengan pendekatan profesional, objektif, dan humanis, mengingat kasus ini melibatkan pelajar dan terjadi di lingkungan pendidikan. Penegakan hukum akan berjalan beriringan dengan pemulihan psikologis korban dan pencegahan kasus serupa di masa depan.

Ia juga mengingatkan pentingnya pengawasan orang tua dan sekolah terhadap aktivitas anak di dunia maya, terutama dalam mengantisipasi konten-konten yang mengandung kekerasan atau ideologi ekstrem.

“Paparan di media sosial menjadi tantangan besar di era digital. Karena itu, kami mengimbau semua pihak — orang tua, guru, dan masyarakat, untuk lebih aktif memantau perilaku anak-anaknya, agar tidak terpengaruh hal-hal negatif,” tuturnya.

Sebelumnya, ledakan terjadi di SMAN 72 Jakarta Utara pada Jumat (7/11/2025) saat para siswa tengah melaksanakan salat Jumat di masjid sekolah. Insiden itu mengakibatkan sejumlah siswa terluka dan menyebabkan kepanikan di lingkungan sekolah.

Hingga kini, tim gabungan Polri dan Polda Metro Jaya masih melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi, menganalisis barang bukti di lokasi kejadian, serta menelusuri asal bahan peledak yang digunakan.

Polri menegaskan akan mengungkap seluruh motif dan latar belakang kejadian ini secara transparan, guna memastikan tidak ada potensi ancaman serupa di kemudian hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *