Presiden Instruksikan Menkes Pangkas Harga Tes PCR
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin untuk meninjau ulang harga tes polymerase chain reaction (PCR) yang saat ini masih memberatkan masyarakat. Presiden ingin harga PCR untuk mendeteksi Covid-19 dapat diturunkan sehingga tes yang dilakukan melalui metode ini dapat terus meningkat.
“Salah satu cara untuk memperbanyak testing adalah dengan menurunkan harga tes PCR dan saya sudah berbicara dengan Menteri Kesehatan mengenai hal ini. Saya minta agar biaya tes PCR berada di kisaran antara Rp450.000 sampai Rp550.000,” jelas Presiden dalam keterangannya persnya di Istana Merdeka, Jakarta, pada Minggu, 15 Agustus 2021.
Selain harga, Presiden juga ingin hasil tes PCR dapat secepatnya diketahui, sehingga masyarakat tidak menunggu lama setelah melakukan tes ini.
“Saya juga minta agar tes PCR bisa diketahui hasilnya dalam waktu maksimal 1×24 jam. Kita butuh kecepatan,” tegasnya.
Untuk diketahui, sebelumnya Kementerian Kesehatan telah mengatur batasan harga tertinggi untuk tes PCR melalui Surat Edaran Nomor HK. 02.02/I/3713/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), yakni Rp900.000. Batasan tarif tersebut berlaku untuk masyarakat yang melakukan pemeriksaan RT-PCR atas permintaan sendiri atau mandiri.
Batasan tarif tertinggi itu tidak berlaku untuk kegiatan penelusuran kontak atau rujukan kasus Covid-19 ke rumah sakit yang penyelenggaraannya mendapatkan bantuan pemeriksaan RT-PCR dari pemerintah atau merupakan bagian dari penjaminan pembiayaan pasien Covid-19.
Terlampau mahalnya harga tes PCR juga disampaikan Wakil Ketua Komisi IX DPR Fraksi PKB Nihayatul Wafiroh. Ia meminta pemerintah menurunkan harga tes PCR.
“Harga PCR kita masih sangat mahal PCR kita, jadi saya sepakat PCR diturunkan,” ujar Nihayatul.
Nihayatul menduga mahalnya harga tes PCR di Indonesia karena alat-alat tes PCR diimpor dari luar negeri. Menurutnya, Indonesia perlu memasifkan dalam memproduksi alat tes PCR sendiri.
“Kita bisa memberdayakan produk dalam negeri sesuai perintah Pak Jokowi kita juga menekan anggaran yang ada sehingga PCR bisa terjangkau, kita tahu masyarakat sangat keberatan,” tegas Nihayatul.
