Produk Furnitur Indonesia Diharapkan Dapat Bersaing di Pasar Jepang
Kementerian Perdagangan menggelar seminar Klinik Produk Ekspor “Peningkatan Daya Saing Produk Furnitur di Pasar Jepang” di Surakarta, Jawa Tengah, hari ini, Kamis (8/3). Seminar ini bertujuan mendorong diversifikasi produk ekspor yang bernilai tambah dan berdaya saing untuk memperkuat pasar produk furnitur Indonesia khususnya di Jepang.
“Melalui seminar ini, diharapkan para pelaku usaha Indonesia akan semakin melakukan inovasi untuk meningkatkan kualitas produk-produknya. Para pelaku usaha juga diharapkan dapat menindaklanjuti hasil komunikasi yang telah dilakukan selama business matching sehingga mampu memperluas jaringan pemasaran, baik di dalam negeri maupun mancanegara khususnya ke pasar Jepang,” jelas Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN) Arlinda.
Seminar Klinik Produk Ekspor merupakan kerja sama Kemendag dengan Japan External Trade Organization (JETRO). Seminar ini dilakukan untuk memberikan wawasan dan pengetahuan kepada para pelaku usaha Indonesia dalam meningkatkan kualitas produk yang sesuai dengan selera pasar. Dalam seminar juga akan diberikan panduan menentukan strategi pemasaran yang efektif dan prosedur ekspor ke Jepang.
Jepang merupakan salah satu negara tujuan ekspor utama bagi produk-produk Indonesia. BPS
mencatat nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Jepang selama lima tahun terakhir (2012-2016)
tercatat sebesar USD 17,23 miliar pada 2012. Namun pada tahun 2016 mengalami penurunan
USD 13,21 miliar dengan tren penurunan sebesar 7,11%. Sedangkan tahun 2017 nilai ekspor
Indonesia mencapai USD 14,69 milyar atau meningkat 11,25% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, nilai ekspor furnitur Indonesia mengalami tren negatif 10,77% selama periode lima tahun terakhir. Sedangkan pada 2017 mencapai USD 167,59 juta. Nilai ini mengalami penurunan menjadi USD 180,16 juta atau turun sebesar 6,98% dibanding tahun sebelumnya.
Sementara itu, pembicara dari dalam negeri yang hadir adalah Direktur Bisnis Persewaan dan
Perdagangan PT. Sarinah Indyruwani Asikin Natanegara dan desainer produk furnitur Raymon Simanjuntak. Keduanya memaparkan distribusi pemasaran produk furnitur Indonesia dan pengembangan produk ekspor berbasis desain.
Pada akhir seminar, dilakukan pertemuan bisnis langsung serta konsultasi antara para peserta
dengan para narasumber. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi pasar Jepang serta meningkatkan jejaring kerja sama bisnis antara pelaku usaha Indonesia dengan Jepang.
“Pelaku usaha harus mampu melihat selera pasar tujuan ekspor. Tidak hanya kualitas produk,
tetapi kemasan juga berperan penting dalam memenangkan persaingan di pasar. Terutama untuk penguasaan dan pemanfaatan teknologi dalam menghasilkan produk yang berkualitas agar produk tersebut diterima oleh konsumen global,” pungkas Arlinda.
