Pusat Rehabilitasi Orang Utan di TNTP, Menarik Atensi Wisatawan
Keberadaan Camp Leakey di Balai Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kalimantan Tengah kini tak hanya sebagai penelitian, namun pusat rehabilitasi Orang Utan pertama di Indonesia menjadi daya tarik wisatawan. Sejak dijadikan objek wisata, camp ini tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan, baik itu wisatawan nusantara (wisnus) maupun wisatawan mancanegara (wisman).
Di camp ini, para wisatawan dapat melihat tingkah laku para hewan primata itu, serta mendapat pengetahuan tentang spesies Orang Utan, khususnya yang hidup di TNTP. Atraksi memberi makan Orang Utan ini mendapat atensi yang tinggi dari wisatawan. Atraksi ini tak hanya dapat disaksikan di Camp Leakey, namun dapat juga dilihat di Tanjung Harapan, Pondok Tanggui
Meskipun sejatinya Orang Utan adalah spesies yang hidup soliter dan cenderung menghindari kontak langsung dengan manusia, namun di TNTP atraksi pemberian makan Orang Utan yang bisa ditonton langsung oleh wisatawan. Bukan Orang Utan liar, melainkan Orang Utan yang pernah rehabilitasi (bekas peliharaan masyarakat) dan telah dilepasliarkan dan keturunannya yang menjadi aktor utama pada atraksi itu.
Keunggulan atraksi ini adalah wisatawan bisa melihat tingkah polah Orang Utan saat makan di habitat alaminya. Orang Utan itu beberapa memiliki nama seperti Teri, Uning, Cery, Kalabasus. Saat makan di habitatnya ini, perilaku berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon lainnya, tingkah polah anak Orang Utan, hingga hadirnya sekumpulan babi hutan yang ikut makan saat pemberian makanan tersebut menjadi atraksi tersendiri yang membuat kagum para wisatawan.
Atraksi ini ditonton oleh wisatawan dari bangku bangku kayu yang sengaja dibuat disekitar tempat pemberhentian makan tersebut. Konsep wisata alam ini ternyata sangat menarik perhatian wisatawan terutama wisatawan mancanegara.
“Wisatawan saat ini sangat menyukai kealamian, di TNTP wisatawan bisa dapatkan itu, kita terus berusaha menjaga kealamian ini meskipun disekitar TNTP secara tata ruang bukan kawasan lindung melainkan kawasan budidaya yang cenderung dimanfaatkan dengan cara membuka hutan,” ujar Helmi, Kepala Balai TNTP saat mendampingi rombongan Kunjungan Jurnalistik dan Kunjungan Tematik Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas) dari Biro Hubungan Masyarakat KLHK mengunjungi TNTP, beberapa waktu lalu.
Angka kunjungan wisatawan ke TNTP pertahun tergolong cukup tinggi dan terus meningkat setiap tahunnya, apalagi untuk wisatawanan mancanegara. Tahun 2018 data menunjukan bahwa total ada 29.283 orang wisatawan datang ke TNTP. Dari angka tersebut wisatawan mancanegara mencapai angka 18.834 orang, lebih tinggi dari wisatawan domestik yang hanya 10.449 orang. Dari kunjungan ini TNTP dapat menyumbangkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) kepada negara sebesar 7,77 milyar pada tahun 2018.
Menurut Helmi, kedepan Balai TNTP semakin berupaya untuk meningkatkan minat wisatawan terutama segmen wisatawan muda ke TNTP. Dengan bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kotawaringin Barat, Balai TNTP berupaya menyediakan infrastruktur jaringan internet masuk ke dalam kawasan TNTP.
“Dengan adanya sinyal internet minat wisatawan muda untuk datang ke TNTP semakin tinggi. Anak muda biasanya sangat aktif di sosial media, dengan jaringan internet yang bagus di TNTP wisatawan muda semakin mudah untuk upload aktivitasnya ketika berwisata ke TNTP,” ujar Helmi lagi.
Helmi menambahkan, Balai TNTP bersama stakeholeder terkait juga terus mengembangkan macam-macam kegiatan wisata di TNTP. Saat ini dikenal jenis wisata di TNTP, yaitu susur sungai dengan klotok, jalur trekking, menanam pohon, melihat demplot anggrek, demplot tanaman obat, camping ground, pantai pasir putih, penangkaran penyu, pelepasan tukik, susur mangrove, serta pemberian makan Orang Utan oleh petugas.
Camp Leakey merupakan pusat rehabilitasi orang utan yang berdiri di atas lahan seluas 45.907 Ha. Camp Leakey awalnya merupakan lokasi penelitian mahasiswa berasal dari Universtias Colombia, Los Angeles yang bernama Birute MF. Galdikas pada tahun 1971.Penelitian tersebut didukung oleh Direktorat Perlindungan Pelestarian Alam yang saat ini di sebut Ditjen PHKA. Nama Leakey sendiri di ambil dari pembimbing penelitian dia pada saat itu yang bernama Prof. Louis Leakey. (Sumber KLHK)

