Ratusan Anak di Pengungsian Sumbar Dapat Dukungan Psikososial Pascabencana

0
WhatsApp Image 2025-12-07 at 06.31.54_f71d42dc

Kondisi psikologis anak menjadi perhatian utama di tengah situasi bencana, termasuk bagi ratusan anak yang kini mengungsi di Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatra Barat. Kawasan ini terdampak banjir dan longsor, menyebabkan banyak keluarga harus meninggalkan rumahnya yang rusak dan mencari tempat aman sementara.

Di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 02 Cupak Tangah, sebanyak 171 anak dan 481 kepala keluarga—dengan total 1.973 jiwa—menempati ruang-ruang kelas yang dijadikan pos pengungsian. Selain anak-anak, kelompok rentan lain yang turut mengungsi meliputi 71 lansia, 36 balita, 6 ibu hamil, serta 1 penyandang disabilitas.

Untuk membantu pemulihan mental dan emosi anak-anak, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memberikan layanan dukungan psikososial pada Sabtu (6/12), bekerja sama dengan Save the Children Indonesia dan Universitas Negeri Padang. Kegiatan ini dirancang dengan pendekatan bermain agar anak-anak dapat kembali bersemangat dan siap menghadapi ujian sekolah meski sedang berada dalam situasi darurat.

Fasilitator mengajak anak-anak melakukan berbagai aktivitas menyenangkan seperti permainan kelompok, gerak tubuh, serta kegiatan kreatif lainnya. Selain itu, mereka juga diberikan edukasi ringan tentang keamanan ruang digital dengan bahasa yang mudah dipahami. Sejumlah orang tua turut mendampingi dari area sekitar tenda untuk memastikan anak-anak merasa aman.

Program dukungan ini tidak hanya berlangsung di SDN 02 Cupak Tangah, tetapi juga diperluas ke tiga titik pengungsian lain di Kota Padang agar lebih banyak anak penyintas memperoleh bantuan serupa.

Pentingnya Kolaborasi Pentaheliks

Apa yang terjadi di lokasi tersebut menggambarkan betapa besar peran berbagai pihak dalam penanggulangan bencana. Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra Barat meninggalkan dampak luas dan mendalam. Dalam kondisi penuh keterbatasan, kolaborasi semua elemen—pemerintah, akademisi, masyarakat, dunia usaha, dan media—menjadi kekuatan utama pemulihan.

BNPB menegaskan bahwa pendekatan pentaheliks merupakan fondasi penting dalam menghadapi setiap bencana di Indonesia. Pengalaman di Sumbar kembali menunjukkan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan banyak pihak. Bantuan mengalir dalam berbagai bentuk: logistik, donasi, tenaga relawan, hingga dukungan keahlian khusus.

Dukungan dari individu, organisasi masyarakat, lembaga non-pemerintah, swasta hingga kementerian/lembaga dari seluruh penjuru Nusantara menjadi modal besar bangsa untuk bangkit dari setiap bencana. Kolaborasi inilah yang memastikan proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan lebih kuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *