Sejarah Persahabatan RI–Venezuela di Tengah Ketegangan Global

Hubungan Indonesia dan Venezuela (Foto: Ilutrasi oleh Tim El John Media Network)
El John News, Jakarta-Konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela memuncak pada awal Januari 2026 ketika pasukan AS melancarkan operasi militer di ibu kota Caracas. Operasi ini berakhir dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, yang kemudian dibawa ke Amerika Serikat untuk menghadapi tuduhan pidana narko-terorisme. Peristiwa ini mengejutkan dunia dan memicu reaksi diplomatik global.
Menanggapi situasi tersebut, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan keprihatinan resmi. Pernyataan yang diunggah melalui akun X @Kemlu_RI pada Minggu (4/1/2026) menekankan pentingnya menjaga kedaulatan negara dan stabilitas kawasan.
“Indonesia menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas setiap tindakan yang melibatkan penggunaan atau ancaman kekuatan, yang berisiko menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan internasional, mengganggu stabilitas dan perdamaian kawasan, serta melemahkan prinsip kedaulatan dan diplomasi,” – Kemlu RI
Hubungan diplomatik Indonesia dan Venezuela telah terjalin sejak 1959 dan tetap kokoh meski menghadapi tantangan politik dan ekonomi, termasuk krisis internal Venezuela dan ketegangan geopolitik dengan Amerika Serikat.
Hubungan resmi kedua negara dimulai pada 10 Oktober 1959, dibangun atas semangat anti-imperialis dan anti-kolonialisme. Presiden Soekarno bahkan dipandang setara dengan tokoh pembebasan Amerika Latin Simon Bolivar. Kedua negara juga berbagi keanggotaan di Gerakan Non-Blok (GNB) dan WTO, memperkuat kerja sama di forum internasional.
Seiring waktu, kerja sama Indonesia–Venezuela berkembang di sektor energi, perdagangan, dan pariwisata. Venezuela menjadi pemasok energi penting, sementara Indonesia mengekspor karet, furnitur, dan makanan. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas aktif mempromosikan budaya melalui festival dan pameran.
Hubungan kembali menguat pada era 2000-an ketika Presiden Venezuela Hugo Chavez mengunjungi Indonesia atas undangan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Venezuela menawarkan pasokan minyak murah, meski Indonesia saat itu belum mampu menjalin investasi besar karena fokus pembangunan.
Kerja sama energi dijajaki melalui peluang investasi migas oleh PT Pertamina, sedangkan perdagangan tetap berjalan dengan ekspor karet, furnitur, dan pakaian. Dalam bidang budaya dan pariwisata, promosi Indonesia tetap aktif meski terkendala jarak dan biaya.
Di tengah ketegangan AS–Venezuela, Indonesia tetap menjalankan politik luar negeri bebas aktif dengan menekankan penyelesaian damai, penghormatan terhadap kedaulatan negara, serta prinsip kerja sama bilateral yang stabil. Hubungan Indonesia–Venezuela tetap berlandaskan persahabatan, kerja sama ekonomi, dan solidaritas dalam forum internasional.
