Setiap 14 Juni Diperingati Sebagai Hari Bakcang, Ini Sejarahnya
Beberapa hari ini, kamu mungkin melihat banyak bakcang dibagikan atau dijual. Soalnya, warga Tionghoa di Indonesia memang tengah merayakan Hari Bakcang (Peh Cun) yang jatuh pada hari 5 bulan 5 kalendar Tionghoa. Kalau di kalender internasional, Hari Bakcang tahun ini jatuh pada 14 Juni 2021. Selain bisa makan bakcang yang enak, kita juga perlu mengetahui sejarah dan makna Hari Bakcang itu sendiri.
Hari Bakcang di Barat dikenal sebagai Festival Perahu Naga atau Festival Dumpling. Karena, balap perahu berbentuk seperti naga dan konsumsi kue beras adalah dua elemen utama festival ini. Bisa juga disebut Double Kelima Festival karena diadakan pada hari 5 bulan 5 kalendar Tionghoa. Kadang juga disebut Festival Extreme Yang karena menurut metafisika Tiongkok, di Hari Bakcang merupakan hari di mana energi “Yang” mengeluarkan energi paling kuat. Sebutan lain untuk Hari Bakcang adalah Festival Bulan Kelima, Festival Hari Kelima, Festival Summer dan Festival Duan Wu.
Festival Bakcang, atau Duan Wu Jie (端午節) atau disebut juga Festival Twan Yang, yang merupakan hari makan “Bak Cang”, atau hari mendayung perahu “Peh Cun”. Twan Yang memiliki arti, yakni ‘Twan’ yang artinya lurus, terkemuka, terang, yang menjadi pokok atau sumber; dan ‘Yang’ artinya sifat positif atau matahari. Jadi Twan Yang adalah saat matahari memancarkan cahaya yang paling kuat. Hari Raya ini dinamai pula Duan Wu. “Wu” artinya saat antara jam 11.00 s/d 13.00 siang, pada saat tengah hari.
Pada hari tersebut, masyarakat Tionghoa biasanya menyantap penganan khas yang bernama Zongzi (粽子) atau di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Rou zong (Hanzi : 肉粽; Hokkian : Bakcang).
Sebagian masyarakat percaya bahwa rebusan obat-obatan yang dipetik pada saat itu akan besar khasiatnya. Karena letak matahari tegak lurus, orang percaya telur ayam pun bila ditegakkan saat itu akan dapat berdiri tegak lurus.
Bakcang merupakan penganan khas Tionghoa, yang berisi nasi ketan dan aneka olahan daging babi.
Qu Yuan (Hanzi : 屈原; Hokkian : Khut Guan) adalah seorang Menteri besar dan setia dari Negara Chu. Beliau hidup pada tahun 340-278 SM dan merupakan seorang tokoh yang paling berhasil menyatukan ke-6 Negara itu untuk menghadapi Negara Qin.
Karena itu rakyat Negara Qin terus menerus berusaha menjatuhkan nama baik Qu Yuan, terutama berhadapan Kaisar Negara Chu, Cho Hwai Ong. Di Negara Chu ternyata banyak pula menteri yang tidak setia.
Dengan bantuan mereka yang tidak setia itu, Tio Gi, seorang Menteri negeri Qin yang cerdik dan licin berhasil meretakkan hubungan Qu Yuan dengan Kaisar Negara Chu. Qu Yuan segera dipecat dan hancurlah aliansi persatuan ke-6 negeri itu! Cho Hwai Ong bahkan terbujuk oleh janji-janji yang menyenangkan agar mau datang berkunjung ke Negara Qin. Di sana dia malah ditawan dan menyesali perbuatannya dalam penjara sampai akhirnya dia meninggal.
Kaisar Negara Chu yang baru, Cho Cing Siang Ong, kembali memanggil dan memberikan kepercayaan kepada Qu Yuan. Aliansi 6 Negara dapat dipersatukan kembali sekalipun tidak sekokoh dahulu. Pada tahun 293 SM, Negara Han dan Wei yang diserang Negara Qin dihancurkan dan dibinasakan.
Akibat peristiwa itu, Qu Yuan pun kembali difitnah. Qu Yuan dikatakan akan membawa Negara Chu kembali mengalami nasib yang sama seperti Negara Han dan Wei. Sang Kaisar pun ternyata lebih buruk kebijaksanaannya daripada raja sebelumnya. Da tidak hanya memecat Qu Yuan, bahkan menjatuhi hukuman agar Qu Yuan dibuang ke daerah danau Tong Ting, dekat sungai Miluo (sekarang terletak di propinsi Hunan). Ditempat pembuangan ini, Qu Yuan hampir tidak tahan. Hanya berkat kebijaksanaan kakak perempuannya, beliau dapat ditenangkan agar rela menerima keadaannya itu.
Meski demikian, Beliau kadang kala tidak selalu dapat menerimanya. Maklum, walau bagaimana pun Beliau adalah seorang bangsawan Negeri Chu, sehingga tidak dapat melupakan tanggung jawab kepada Negara dan leluhurnya. karena itu, Qu Yuan sering merasa kesepian dan timbul kejemuan akan suasana kehidupannya.
Dalam keadaan suasana seperti itu, suatu ketika Beliau berkenalan seorang nelayan yang ternyata seseorang yang bijak. Nelayan itu menyembunyikan nama aslinya, hanya menyebut dirinya sebagai seorang nelayan biasa saja. Dengannya Qu Yuan akhirnya mendapatkan kawan. Mereka sering berkomunikasi meski pandangan hidupnya ada kalanya tidak sejalan.
Qu Yuan yang putus asa, akan situasi dirinya yang difitnah di Negaranya sendiri.
Sang nelayan berprinsip, agar lebih baik meninggalkan kehidupan bermasyarakat apabila keadaannya buruk; sedangkan Qu Yuan, biar pun tidak mau tercemar oleh keserakahan dan kekotoran dunia, tetapi tetap berharap dapat mengembangkan kembali jalan kebenaran bagi kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat.
Demikianlah Qu Yuan sangat akrab dengan nelayan itu. Ketenangan Qu Yuan kala itu dihancurkan oleh berita mengenai hancurnya ibu kota Negara Chu, tempat asal leluhurnya itu yang diserbu orang negeri Qin.
Hal ini menjadikan Qu Yuan yang telah lanjut usia itu merasa tidak berarti bagi hidup pribadinya. Setelah dirundung kebimbangan dan kesedihan, Beliau memutuskan untuk menjadikan dirinya yang telah tua itu menjadi peringatan bagi rakyatnya tentang peristiwa yang sangat menyedihkan yang terjadi tanah airnya itu. Dengan harapan, agar semoga bisa membangkitkan kembali semangat rakyatnya, menegakkan kebenaran serta mencuci bersih aib yang menimpa dirinya.
Ketika itu kebetulan merupakan hari Duan Wu. Qu Yuan mendayung perahunya ke tengah-tengah sungai Miluo, lalu melantunkan sajak-sajak hasil karyanya yang telah dikenal rakyat sekitarnya, yang mencurahkan rasa cinta tanah air dan rakyatnya. Masyarakat sekitar banyak yang tertegun mendengar semuanya itu. Pada saat itu, Beliau sampai ke perairan yang agak jauh dari kerumunan orang. Beliau akhirnya melompat ke dalam sungai yang alirannya deras dan dalam itu, tepat pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Tionghoa.
Ritual bunuh diri tersebut dilakukan untuk memprotes korupsi yang menyebabkan jatuhnya negara Chu. Menurut cerita, penduduk desa pun berusaha mencari tubuhnya di sungai menggunakan perahu. Mereka mendayung perahu sambil memukul drum untuk menakuti-nakuti ikan dan roh-roh jahat agar tidak mengganggu tubuh Qu Yuan. Mereka juga melempar bungkus beras ke dalam sungai agar dimakan ikan dan ikan tidak memakan tubuh Qu Yuan. Pelemparan bungkus beras itu juga dimaksudkan sebagai persembahan untuk roh Qu Yuan.
Beberapa orang yang melihatnya segera berusaha menolongnya, tetapi hasilnya nihil, jenazahnya pun tidak ditemukan. Seharian kawan Qu Yuan yang seorang nelayan itu, dengan menggunakan perahu kecil mengerahkan kawan-kawannya mencari, tetapi hasilnya sia-sia belaka.
Rakyat yang kemudian merasa sedih kemudian mencari jasad tubuh Beliau di sungai tersebut dengan menggunakan perahu. Mereka lalu melemparkan nasi dan makanan lain ke dalam sungai dengan maksud agar ikan, udang, kepiting dengan tujuan agar aneka hewan air yang hidup di dalam sungai tersebut tidak mengganggu jasad tubuh Qu Yuan.
Kemudian untuk menghindari makanan tersebut dimakan oleh sosok Naga yang dipercaya mendiami sungai tersebut, mereka membungkusnya dengan daun-daunan, yang kita kenal sebagai bakcang sekarang.
Bakcang secara harfiah berarti cang yang berisi daging, namun pada prakteknya, cang juga ada yang berisikan sayur-sayuran atau yang tidak berisi. Yang berisi sayur-sayuran disebut chaicang dan yang tidak berisi biasanya dimakan bersama dengan serikaya atau gula disebut kicang.
Bakcang dibuat dari beras ketan sebagai lapisan luar; daging, jamur, udang kecil, seledri dan jahe sebagai isi. Ada juga yang menambahkan kuning telur asin. Untuk perasa biasanya ditambahkan sedikit garam, gula, merica, penyedap makanan, kecap dan sedikit minyak nabati.
Tentunya yang tidak kalah penting adalah daun pembungkus dan tali pengikat. Daun biasanya dipilih daun bambu panjang yang harus dimasak terlebih dahulu untuk detoksifikasi. Bakcang biasanya diikat berbentuk prisma segitiga.
Legenda Qu Yuan merupakan asal usul dari penganan bakcang dan perlombaan perahu Naga. Para nelayan yang mencari jasad tubuh Qu Yuan dengan berperahu, sambil menabuh genderang untuk menakuti roh jahat di sekitarnya agar tidak mengganggu Qu Yuan, yang akhirnya menjadi cikal bakal dari perlombaan perahu Naga di sungai yang diadakan setiap tahunnya.
Ini juga yang melatar-belakangi sebagian kelenteng di Indonesia masih mengadakan “ritual” membuang, melempar atau mengarung Bakcang ke laut setiap tahunnya, pada sembahyang tanggal 05 bulan 05 Imlek.
Pada tahun berikutnya, kebiasaan mempersembahkan beras di dalam tempurung bambu itu diganti dengan kue dari beras ketan yang dibungkus daun bambu, yang disini kita kenal dengan nama Bakcang.
Untuk mengenang jasa Qu Yuan, orang Tionghoa pun melakukan tradisi makan bakcang yang sudah ada pada zaman Qun Chiu (722 SM – 481 SM). Karena, bakcang melambangkan nasi bungkus yang dilempar ke sungai. Seperti yang kita tahu, bakcang menggunakan daun untuk membungkus berat dan dibuat seperti tanduk sapi. Ada juga menggunakan tabung bambu diisi beras ditutup rapat dan dipanggang sampai matang.
Jumlah sudut bakcang ada empat yang dipercaya mengandung arti dan harapan baik. Sudut satu diharapkan suami istri nggak terus-terusan bertengkar, dan saling mencintai satu sama lain. Sudut dua berarti doa baik agar keluarga selalu dalam keadaan damai dan sejahtera, serta sehat selalu. Sudut tiga agar rejeki dan berkah selalu datang dengan lancar. Sudut empat mengandung harapan agar usaha yang dijalankan makin sukses dan kariernya meningkat.
Zaman sekarang, bentuk bakcang pun semakin beragam. Di Taiwan, pada akhir Dinasti Ming, bentuk bakcang yang dibawa oleh pendatang dari Fujian bentuknya bulat gepeng. Isi Bakcang juga bermacam-macam, bukan hanya daging, melainkan juga sayuran. Ada juga yang dibuat dengan ukuran kecil tanpa isi yang dimakan bersama gula pasir ataupun gula merah.
Masih Ada Tradisi Lain Ketika Hari Bakcang
1. Lomba Perahu Naga
Asal mula perlombaan dengan perahu di sungai ini dikaitkan dengan seorang tokoh yang bernama Qu Yuan, pada suatu peristiwa dihari Duan Wu, pada jaman Negara-Negara Berperang 475 – 221 SM (战国时代; warring states period; rentang waktu pilihan Sima Qian), di Negara Chu.
Diadakan perlombaan perahu yang dihiasi aneka gambar Naga, semuanya mengingatkan usaha mencari jenazah Qu Yuan, seorang pecinta tanah air dan rakyatnya. Demikianlah tiap hari raya Duan Wu selalu diadakan pula peringatan untuk Qu Yuan, seorang yang berjiwa mulia dan luhur dari negeri Chu itu.
Suku bangsa kuno Yue yang awalnya melakukan tradisi lomba perahu naga. Para warga menato gambar naga di tubuh mereka, juga memotong rambut. Hal tersebut dilakukan agar mereka mendapatkan perlindungan dari naga ketika hari 5 bulan 5 kalendar lunar China. Perahu yang digunakan adalah perahu sangat panjang, sempit, dan digerakan oleh tenaga manusia. Perahu biasanya dihias dengan kepala dan ekor naga. Peserta diharuskan untuk membawa genderang besar dalam perahunya.
Apakah yang Dimaksud dengan Festival Perahu Naga di Tiongkok?
Tampak sepasang perahu naga di cat dengan penuh warna
Perayaan ini menjadi salah satu hari libur tradisional di Tiongkok. Pada tanggal 20 Mei 2006, festival ini terpilih masuk dalam angkatan pertama Warisan Budaya Non Benda Nasional Tiongkok (National Intangible Cultural Heritage).
Pada tahun 2008, untuk pertama kalinya dirayakan sebagai hari libur Nasional di Tiongkok; dan pada tanggal 30 Oktober 2009 masuk dalam Daftar Warisan Budaya Non Benda Dunia UNESCO (UNESCO World Intangible Cultural Heritage).
Lomba Perahu Naga, Dari Legenda Menjadi Perhelatan Olahraga Internasional
Asal usul lomba perahu Naga dikatakan berawal dari legenda rakyat yang beramai2 mendayung perahu untuk mencari jasad dari seorang penyair patriotik Qu Yuan (屈原) yang hidup pada tahun 340-278 SM, yang menenggelamkan diri di Sungai Miluo (saat ini wilayah Propinsi Hunan).
Perlombaan Perahu Naga merupakan kegiatan terpenting selama perayaan ini berlangsung. Perahu kayu dibentuk dan dihias menjadi wujud seekor Naga. Ukuran perahu bervariasi berdasarkan wilayah.
Umumnya memiliki panjang sekitar 20-35 meter, serta membutuhkan 30-60 tenaga manusia untuk mengayuh dayungnya (mengikuti ukuran/besar perahu).
Sepanjang perlombaan berlangsung, tim perahu Naga akan mengayuhkan dayung dengan ritme gerakan yang harmonis dan cepat, diiringi dengan bunyi genderang yang ditabuh. Dikatakan bahwa tim yang menjadi pemenang akan mendapatkan keberuntungan dan hidup bahagia di tahun berikutnya.
Perlombaan perahu Naga merupakan perhelatan olahraga utama yang digelar di banyak tempat, dimana para kompetitor berlatih keras untuk memenangkannya.
Lokasi untuk Menyaksikan Lomba Perahu Naga
Dengan perkembangan yang berkesinambungan selama 2000 tahun, lomba perahu Naga telah menjadi sebuah cabang olahraga yang kompetitif. Terdapat banyak lokasi di Tiongkok yang mengadakan perlombaan perahu naga selama perayaan ini. Di sini terdapat 4 lokasi yang paling seremonial :
- Festival Perahu Naga Hong Kong: Pelabuhan Victoria, Kowloon, Hong Kong.
- Festival Perahu Naga Internasional Yueyang: Pusat Lomba Perahu Naga Internasional Sungai Miluo, Yueyang Prefecture, Provinsi Hunan.
- Festival Kano Naga Guizhou dari Suku Etnis Miao: Sungai Qingshui, Taijiang County, Qiandongnan Miao and Dong Autonomous Prefecture, Provinsi Guizhou.
- Festival Perahu Naga Hangzhou: Taman Air Nasional Xixi, Jalan, Kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang.
2. Menggantungkan Mugwort (Rumput Ai) dan Calamus (Changpu)
Hari Peh Cun yang jatuh pada musim panas biasanya dianggap sebagai bulan-bulan yang banyak penyakitnya. Sehingga, di rumah-rumah biasanya dilakukan pembersihan dan menggantungkan rumput Ai dan Changpu di depan rumah untuk mengusir dan mencegah datangnya penyakit.
3. Mandi Tengah Hari
Tradisi ini cuma ada di kalangan masyarakat yang berasal dari Fujian (Hokkian, Hokchiu, Hakka), Guangdong (Tiociu, Hokciu, Hakka), dan Taiwan. Mereka mengambil dan menyimpan air pada tengah hari Festival Peh Cun, karena dipercaya dapat menyembuhkan penyakit. Bisa digunakan untuk mandi atau diminum setelah dimasak. Di Indonesia, biasanya tradisi ini dilakukan di Kota Tanjungbalai – Sumatera Utara dan Pontianak – Kalimantan Barat. Mereka mandi di sungai saat tengah hari karena dipercaya saat itu air naga datang.
4. Mendirikan Telur
Kita tahu sulitnya membuat telur berdiri. Kata orang tua zaman dulu, hanya satu hari dalam setahun di mana telur bisa berdiri, yaitu di Hari Bakcang tepat jam 12 siang saat matahari memancarkan cahaya terkuat. Gaya gravitasi di hari tersebut adalah yang terlemah, sehingga telur bisa berdiri. Saat ini matahari berada di “posisi istimewa”, yaitu tepat di atas garis Khatulistiwa. Syaratnya adalah telur tidak dicuci, telur tidak boleh dimasukkan ke dalam kulkas dan jangan direbus.
Konon menurut para ahli, pada tanggal tersebut posisi bulan tepat berada pada satu garis lurus dengan bumi sehingga gaya gravitasi bulan pada tengah hari akan tepat berada dibawah bumi, sehingga kuning2 telur akan tertarik sedikit lebih rendah dibanding pada hari2 biasa. Hal ini yang membuat titik berat telur lebih ke bawah dan membantu sang telur berdiri pada ujung lancipnya.
Karena penanggalan imlek mengandalkan peredaran bulan, maka momen tersebut akan selalu jatuh tepat tengah hari tanggal 5 bulan 5 imlek, sehingga tradisi “mendirikan telur” juga merupakan bagian dari festival budaya ini, selain tentunya menyantap Bakcang.
Data dirangkum dan diolah dari berbagai sumber oleh:
Dr. Andy Kurniawan Bong, SE, MBA. 黄泳腾博士。
Senior Lecturer = 高级教授。
