Tas Jinjing Batik Indonesia yang Ramah Lingkungan Curi Perhatian Pecinta Seni di Los Angeles
Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Los Angeles (LA) menyelenggarakan lokakarya tas jinjing (tote bag) batik ramah lingkungan di Chinatown LA, Amerika Serikat (AS),pada 7 Oktober 2017 lalu.Para pecinta kegiatan seni dari berbagai penjuru kota LA sangat antusias mengikuti lokakarya ini.
“Kegiatan lokakarya ini mendapat apresiasi dari para peserta karena menggunakan produk dan pewarna alami yang ramah lingkungan. Hal tersebut sesuai dengan tren yang berkembang di pasar ASsaat ini,”jelas Kepala ITPC LA, Antonius A. Budiman.
Lokakarya diselenggarakan bertepatan dengan Mid-Autumn Moon Festival yang merupakan perayaan panen bulan purnama yang biasa dirayakan bersama keluarga. Pengelola Chinatown La turut memperingati festivalini dengan menampilkan berbagai acara berbasis komunitas dan budaya seperti akrobat, opera, lokakarya kreatif seperti kaligrafi dan seni mengukir bua,demo memasak ayam sichuan, dan pembuatan kue bulan. Para peserta pameran
yang bergabung memeriahkan festival initerdiri dari berbagai toko
barang antik,kerajinan tangan, dan pop-up food booth.
Antonius menyampaikan, pada festival inipaviliun Indonesia menampilkan produk fesyen artisan dari Toko Toko yang mengusung tema”keberlanjutan” (sustainability). Toko Toko merupakan importir fesyen Indonesia yang merepresentasikan merek-merek asal Indonesia seperti Martini & Milk, Sav Lavin (salah satu desainer Indonesia yang baru tampil pada LA Fashion Week 2017 lalu), Tulisan,dan Sukka Citta Clothi ng. Merek tersebut peduli terhadap perdagangan yang adil dan berkelanjutan,pengembangan sosial, serta penggunaan material yang ramah lingkungan. “Partisipasi Indonesia dalam festival ini turut mempromosikan produk Indonesia yang sumber, proses produksi, pengemasan, dan penjualannya memperhatikan keberlangsungan lingkungan dan pengembangan sosial,”imbuh
Antonius.
Tren tahun 2017 yang dirilis Greenbiz.com menyebutkan bahwa
pelanggan produk ritelsemakin peduli terhadap unsur lingkungan, sosial, dan ekonomis barang konsumsi. Istilah”keberlanjutan” sendiri didefinisikan Universitas Vanderbilt sebagai kemampuan memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi masa depan memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Pelanggan ingin mengetahui dima
na dan bagaimana produk dibuat, dan bahwa penjual
juga peduli terhadap sumber produk tersebut.
“Sensitivitas pengusaha Indonesia memanfaatkan tren ini tentunya diharapkan dapat meningkatkan potensi ekspor produk-produk Indonesia yang berkelanjutan dan ramah lingkungan
ke pasar AS secara signifikan,”kata Antonius.
