Tingkatkan Pembiayaan Animasi, Bekraf Hadirkan Financial Club
Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) kembali menyelenggarakan Bekraf Financial Club (BFC) subsektor animasi di Ruang Monza, Simply Valore Hotel, Cimahi,Kamis,30 Agustus 2018. Melalui BFC, Bekraf menjembatani pertemuan pelaku ekonomi kreatif subsektor animasi untuk menjelaskan the nature of the business kepada lembaga keuangan. 60 lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan bukan bank menghadiri acara ini.
Walikota Cimahi, Ajay M. Priatna dijadwalkan menghadiri acara ini untuk menjelaskan ekonomi kreatif di Cimahi, termasuk subsektor animasi. Cimahi adalah kota yang mengembangkan ekonomi kreatif khususnya di bidang animasi. Hal ini tercermin dari berkembangnya pelaku ekonomi kreatif subsektor animasi melalui penyelenggaraan festival animasi berskala internasional serta beberapa SMK yang menjadikan animasi kurikulum pembelajaran di Kota Cimahi.
“BFC merupakan sharing session dari pelaku ekonomi kreatif kepada lembaga keuangan mengenai karakter bisnis mereka. Lembaga keuangan yang hadir dapat memperdalam pengetahuan subsektor animasi. Saya berharap acara ini bermanfaat mendorong ekonomi kreatif sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia dimasa mendatang,” tutur Deputi Akses Permodalan Bekraf, Fadjar Hutomo.
Direktur Akses Perbankan Bekraf, Restog K. Kusuma mengawali acara dengan memberikan laporan panitia. Pelaku ekonomi kreatif subsektor animasi yang diundang Bekraf untuk menjelaskan the nature of the business subsektor animasi yaitu Ketua AINAKI, Adrian Elkana; Owner Baros Creative Partner, Rudy Suteja; dan CEO KAABA, Gerryadi Agusta. Kasubdit Perbankan Syariah, Yuke Sri Rahayu memandu acara ini.
Perwakilan perbankan menanggapi presentasi pelaku ekonomi kreatif subsektor animasi, yaitu Deputi Divisi Bisnis Mikro BNI Syariah, Praptiwi Lestiyawati dan regional manager Maybank, Deddy Supriyadi. Hasil diskusi ini diharapkan menghasilkan investasi dan model pembiayaan yang tepat untuk pelaku ekonomi kreatif subsektor animasi.
BFC akan digelar di dua kota selanjutnya yaitu Bali untuk subsektor seni rupa dan Solo untuk subsektor seni pertunjukan. Sebagai tindak lanjut BFC, Bekraf menyusun buku pola pembiayaan subsektor fashion, seni pertunjukan, dan seni rupa bekerjasama dengan IBS. Buku ini diharapkan bisa meningkatkan minat lembaga keuangan menyalurkan investasi dan pembiayaannya.
BFC bertujuan mengenalkan karakteristik bisnis dan rantai nilai subsektor animasi kepada sumber pembiayaan perbankan dan non perbankan. Sehingga, sumber pembiayaan perbankan dan non perbankan menyalurkan pembiayaan kepada pelaku ekonomi kreatif subsektor animasi.
