Tinjau Simulasi Pembelajaran Tatap Muka, Gubernur Khofifah Apresiasi Penerapan Prokes

0
img_8521206748472

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) melalui Dinas Pendidikannya mulai melakukan simulasi pembelajaran tatap muka pada Selasa (18/8/2020). Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, ikut meninjau pelaksanaan simulasi tersebut  di dua sekolah di Kota Probolinggo, yakni SMKN 2 Kota Probolinggo dan SMAN 2 Kota Probolinggo.

Dua sekolah tersebut  berada di wilayah zona oranye resiko Covid-19. Hanya sembilan murid yang ikut dalam simulasi pembelajaran tatap muka ini atau 25 persen dari total murid. Para murid diwajibkan untuk mengikuti protokol kesehatan seperti diukur suhu tubuhnya dan  mencuci tangan.

Tak hanya itu, para murid juga diharus  menggunakan masker dan face shield.  Jarak antar kursi diletakan berjauhan sesuai prorokol kesehatan, yakni minimal satu meter.

Khofifah mengapresiasi penerapan protokol kesehatan di simulasi pembelajaran ini. “Hari ini (18/8/2020), hari pertama uji coba pembelajaran tatap muka secara bertahap. Kita bisa lihat bahwa di sekolah ini semua protokol kesehatan terjaga. Anak-anak yang datang dicek dulu di check point, protokol kesehatan ditegakkan betul. Dan kapasitasnya ini hanya sembilan orang per kelas,” kata Khofifah usai peninjauan.

Siswa yang datang ke sekolah mengikuti pembelajaran tatap muka harus atas seizin orang tuanya. Mereka yang sekolah tatap muka juga bergantian.

Setiap satu siswa dalam uji coba dua pekan ke depan hanya akan dapat giliran sebanyak dua kali masuk sekolah tatap muka. Saat tidak dapat giliran sekolah tatap muka mereka tetap melaksanakan pembelajaran daring di rumah.

Dalam kunjungan itu Gubernur Khofifah banyak menyerap pendapat siswa bagaimana yang dirasakan selama pembelajaran daring di rumah. Ternyata siswa di sekolah kejuruan cukup terkendala jika hanya belajar di rumah. Padahal mereka membutuhkan banyak praktik di sekolah.

Selama belajar daring di rumah, mereka menyampaikan ke Gubernur Khofifah bahwa mereka hanya belajar materi saja tidak bisa praktik langsung. Padahal itu sangat dibutuhkan.

“Selama lima bulan pandemi, mereka memang mengeluhkan belajar daring karena di bagian materi tertentu dibutuhkan praktek secata langsung. Seandainya materi online sudah disampaikan namun tetap saja di bagian bagian tertentu dibutuhkan praktek. Saya rasa semua SMK lebih banyak menerapkan keterampilan,” tegasnya.

“Setelah uji coba selama dua pekan kita akan evaluasi. Namun intinya kita mencari format terbaik bagaimana anak-anak kita bisa belajar dengan optimal dengan tetap aman dari penularan Covid-19,” tambah Khofifah.

Sebagaimana dijelaskan kepala dinas pendidikan Provinsi Jawa Timur Wahid Wahyudi bahwa jumlah SMA, SMK dan SLB saat ini di Jawa Timur tercatat 3.703 lembaga dengan 1.326.921 siswa. Sementara yang melakukan uji coba pembelajaran tatap muka bertahap sebanyak 70 lembaga (1,89%) setara dengan 18.621 siswa (1,49 %).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *