Untar Siap Berkolaborasi Dengan PSMTI Untuk Pengembangan SDM
Universitas Tarumanegara (Untar) siap berkolaborasi dengan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) dalam mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang handal dan berkualitas. Kesiapan ini, disampaikan langsung oleh Rektor Untar Prof.Dr.Ir. Agustinus Purna Irawan, saat menjadi pembicara dalam program Indonesia Business Forum (IBF) yang ditayangkan EL JOHN TV.
Program yang dikemas ke dalam webinar ini, merupakan buah hasil kerja sama EL JOHN TV dengan PSMTI. Acara ini dipandu oleh Wakil Ketua Umum Departemen Pariwisata yang juga CEO EL JOHN Media Martinus Johnnie Sugiarto. Acara ini, juga turut disaksikan Ketua Umum PSMTI David Herman Jaya dan Sekretaris Umum PSMTI Eddy Hussy.
Agustinus mengatakan Untar sangat bangga, jika nanti dapat berkolaborasi dengan PSMTI yang anggotanya adalah orang-orang hebat. Apalagi kondisi di tengah pandemi Covid-19 ini, yang dibutuhkan adalah bergandengan tangan untuk mengatasi masalah tersebut.
“PSMTI adalah keluarga besar kita, dan ini tempat kita berkolaborasi, banyak orang hebat di dalamnya, nah kita juga bersedia berbagi. SDM yang mau berkolaborasi dan juga berkontribusi sangat diperlukan untuk keluar dari permasalahan sekarang. Dan saya pikir itu harus kita dengungkan terus, karena dengan berkolaborasi, bersinergi dan berkontribusi kita bisa keluar-bersama-sama dari permasalahan ini dan kita bisa eksis bersama, bisa survive bersama,” kata Agustinus.
Menurut Agustinus, dalam kolaborasi ini, Untar siap untuk memberikan pendampingan terhadap anggota PSMTI yang menjadi pelaku UMKM. “Mahasiswa kami aktif sekitar 15 ribu orang, sekarang sudah ada sekitar 3.000 sampai 4.000 orang yang punya bisnis. Artinya ini pintu masuk yang suatu saat dia akan menjadi penggerak ekonomi di Indonesia,” ujar Agustinus.
Agustinus menjelaskan, bahwa Untar memiliki program yang cocok untuk dikerjakan bersama PSMTI dalam hal pengembangan UMKM. Hal ini sudah dilakukan Untar terhadap para mitra lain dengan hasil yang cukup menggembirakan.
“Tentu karena Untar ini sebagai tempat pengembangan SDM ada banyak sumber daya dari dosen, dari mahasiswa dan juga keilmuan, hal-hal praktis yang bisa dipraktekan, saya kira Untar siap untuk membantu UMKM dan sebenarnya kami sudah banyak sekali melakukan kegiatan pendampingan UMKM tapi belum dengan PSMTI. Jadi dengan berbagai kalangan yang terhubung dengan Universitar Tarumanegara, kami menyiapkan program, kami menyiapkan pendampingan, dan juga mengevaluasi keberlanjutannya,” ungkap Agustinus.
Keinginan kolaborasi Untar disambut baik Wakil Ketua Umum Departemen Usaha dan Ekonomi Kreatif (Ekraf) PSMTI Dedy Rochimat yang juga menjadi nara sumbar dalam program IBF ini. Dedy mengatakan bahwa program pendampingan merupakan salah satu program yang dimiliki Departemen Usaha dan Ekraf PSMTI.
“ Di mana dulu kami bekerjasama dengan GLC dan perguruan tinggi dan kami mengunjungi atas permintaan di mana daerah-daerah yang untuk mendapat seminar bisnis dan akhirnya siapa yang mau pendampingan, siapa yang mau di coach dan lain sebagainya, itu kami serahkan kepada semua anggota yang ikut serta,” kata CEO & Founder VIVERE Group ini
Namun sayang, program itu harus terhenti karena pandemi Covid-19. Akhirnya program pun akan diganti kemasannya secara virtual. Yang terpenting, menurut Dedy, ilmu yang tentang UMKM dapat didapatkan para anggota PSMTI agar dapat tetap beroperasi di masa sulit seperti ini..
“Sekarang tentunya sudah berubah program ini tidak bisa kita jalankan dengan sistem begini lagi. Kami punya rencana untuk memberikan seminar dengan online atau dengan webinar seperti mungkin dan pendampingan juga bisa dengan webinar,” tutur Deddy.
Lebih lanjut, Deddy mengatakan ada tahapan yang harus dijalankan pelaku UMKM agar usahanya tetap beroperasi di tengah pandemi ini. Tahapan itu, di antaranya harus adatif di saat ada kesempatan yang muncul.
“Krisis itu di mana ada bahaya di situ ada kesempatan. Kita punya kesempatan tapi yang pertama kita harus benar-benar adaptif. Terus inovatif, menciptakan produk-produk yang laku, kemudian kolaborasi, kalau kita tidak punya mitra kita bisa ga untuk kerja sendiri. Kolaborasi pun kita harus traning mereka, rangkul mereka, didik mereka menjadi mitra-mitra yang canggih,” ungkap Deddy. (Sigit)


