Wisata Bengkulu, Panorama Kecantikan Alam Tak Terlupakan
Dalam Bahasa Belanda Bengkulu disebut Benkoelen atau Bengkulen, sedang dalam Bahasa Inggris disebut Bencoolen. Sementara itu dalam Bahasa Melayu disebut pula sebagai Bangkahulu.
Ada banyak cerita tentang asal usul dan nama Bengkulu. Sebagian menyebut bahwa nama Bengkulu berasal dari Bahasa Melayu, gabungan dari dua suku kata yaitu, “Bang” dan “Kulon”. Kata “bang” yang berarti “pesisir” dan “kulon” yang berarti “barat”, kemudian terjadi pergeseran pengucapan “bang” berubah menjadi “beng” dan “kulon” menjadi “kulu”.
Sementara sumber lainnya menyatakan nama Bengkulu atau Bencoolen diperkirakan diambil dari sebuah nama bukit di Cullen, Skotlandia, Bm of Cullen (Ben Cullen). Namun penamaan ini kurang berdasar karena bukanlah tabiat bangsa Melayu untuk menamakan daerahnya dengan nama daerah yang tidak dikenal, apalagi asal nama itu dari Skotlandia yang jauh disana.

Kota Bengkulu terletak di kawasan pesisir yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Memiliki luas wilayah 144,52 km persegi dengan ketinggian rata-rata kurang dari 500 meter.
Kota Bengkulu yang terkenal dengan maskot Bunga Rafflesia Arnoldi, adalah ibukota dari Provinsi Bengkulu, Indonesia. Kota ini merupakan kota terbesar kedua di pantai barat Pulau Sumatera, setelah Kota Padang. Sebelumnya kawasan ini berada dalam pengaruh Kerajaan Inderapura dan Kesultanan Banten. Lalu kemudian dikuasai Inggris sebelum diserahkan kepada Belanda.
Pada masa dulu, di Bengkulu pernah berdiri kerajaan-kerjaan yang berdasarkan etnis seperti Kerajaan Sungau Serut, Kerajaan Selebar, Kerajaan Patpetulai, Kerajaan Balai Buntar, Kerajaan Sungai Lemau, Kerajaan Sekiris, Kerajaan Gedung Agung dan Kerajaan Marau Riang di bawah Kesultanan Banten.

Bengkulu dulunya juga merupakan wilayah penghasil rempah terutama lada yang diburu oleh orang-orang Eropa. Hingga pada puncaknya didirikanlah sebuah perusahaan dagang Inggris yang kala itu menguasai komoditi lada hitam Bengkulu. Hingga kini bangunan yang menjadi pusat perdagangan Inggris, masih bisa ditemukan yaitu, Benteng Marlborough.
Dalam perjalanan sejarah Indonesia, Provinsi Bengkulu memiliki peranan yang patut diperhitungkan. Menurut catatan Prof. DR. Haji Abdullah Siddik (Sejarah Bengkulu: 1500-1990, Balai Pustaka, 1996), pada era penjajahan, Bengkulu sudah menyita banyak perhatian negara-negara kolonis barat, karena hasil buminya yang sangat melimpah. Hal ini tentu saja mengundang para pedagang dari Eropa terutama Inggris dan Belanda mulai ramai melakukan pelayaran hingga sampai ke Bengkulu.
Pada tahun 1685, dengan alasan perluasan kebun lada, Inggris mulai menetap di Bengkulu. Saat itulah dimulai era tanam paksa lada terhadap rakyat. Tercatat, Inggris bertahan selama 139 tahun di Bengkulu.

Lebih dari satu abad kemudian, aksi heroik menentang penjajahan masih terus bisa disaksikan. Sumbangsih rakyat Bengkulu terhadap kemerdekaan Indonesia tidak bisa begitu saja dihilangkan. Termasuk dalam periode mempertahankan kemerdekaan.
Pada tahun 1930-an, Bengkulu menjadi tempat pembuangan sejumlah aktifis pendukung kemerdekaan termasuk Bung Karno. Di masa-masa inilah Bung Karno berkenalan dengan Fatmawati yang kelak menjadi istrinya.
Setelah masa kemerdekaan Indonesia, Bengkulu menjadi keresidenan dalam Provinsi Sumatera Selatan. Baru setelah itu sejak tanggal 18 November 1968 Bengkulu ditetapkan sebagai Provinsi ke-26 termuda setelah Timor-timur.

Selain kaya akan wisata alam seperti pantai, gunung, danau, air terjun, serta pemandian air panas, Provinsi Bengkulu juga kaya akan seni dan budaya. Jadi ketika Anda berwisata ke Provinsi Bengkulu tentu sangat disayangkan jika Anda melewatkan mengenal seni dan budaya daerah setempat.
Di Bengkulu memiliki kesenian berupa Batik Basurek, yaitu kain batik yang dihiasi dengan huruf arab gundul dan diakui oleh pemerintah sebagai salah satu warisan budaya Republik Indonesia, serta turut memperkaya khasanah budaya di Indonesia.

Bengkulu juga memiliki tari-tarian tradisional di antaranya, Tari Tombak Kerbau, Tari Putri Gading Cempaka, Tari Pukek, Tari Andun, Tari Kejei, Tari Penyambutan, Tari Bidadari Menimang Anak dan Tari Topeng. (Yulia Gumay)