Wisata Berbasis Ekosistem dan Kearifan Lokal untuk Masyarakat

0
1606269190
Dalam pengelolaan ekosistem gambut, penting adanya keterlibatan masyarakat setempat. Selain itu, pengelolaan lahan gambut juga tidak hanya untuk memperoleh keuntungan finansial saja, tetapi untuk pemulihan ekosistem gambut. Oleh karena itu, jasa lingkungan khususnya ekowisata, menjadi potensial untuk dikembangkan di ekosistem gambut.
Terkait hal ini, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (Puslitbang Hutan), Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK menggelar FGD Pengembangan Produk Wisata Berbasis Ekosistem dan Kearifan Lokal Masyarakat Sekitar Hutan Gambut di Kabupaten Pulang Pisau, yang bertempat di Aula Bappeda Kabupaten Pulang Pisau, Selasa (24/11).
Mewakili Kepala Puslitbang Hutan KLHK, Kepala Bidang Kerjasama dan Diseminasi Puslitbang Hutan KLHK, Ahmad Gadang Pamungkas mengatakan kegiatan ini merupakan salah satu bentuk diseminasi hasil-hasil penelitian kepada para pihak.
“Kami ditopang oleh tim peneliti yang kredibel, dan analisis berkualifikasi tinggi. Oleh karena itu, saran dan masukan kami kepada Pemerintah Daerah, mempunyai kompatabilitas, adaptif dan mempertimbangkan banyak hal untuk bisa dilaksanakan, baik oleh Pemerintah Daerah, masyarakat, maupun berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan destinasi wisata khusus di Kabupaten Pulang Pisau,” kata Ahmad Gadang.
Sementara itu, Ketua tim Kajian Pembangunan Wisata Alam Ekosistem Gambut, Dr. Endang Karlina menyampaikan timnya mengkaji, menggali potensi, menjadikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, dan mengemasnya menjadi objek wisata.
Sejak pertengahan Oktober, Tim Kajian bermitra dengan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru Kalimantan Selatan, melakukan koordinasi, dan diskusi dengan para stakeholder, serta identifikasi ekosistem gambut, dan budaya kearifan lokal. Bersama masyarakat, timnya juga membangun sarana, dan fasilitasi wisata budaya di Desa Gohong dan Desa Buntoi, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah.
“Dari sisi kearifan lokal, masyarakat di sini identik dengan sungai. Dari situlah kita mengembangkan wisata susur sungai misalnya. Kemudian setiap desa bahkan rumah mempunyai dermaga. Kami membuat dermaga tersebut mempunyai multi fungsi dan manfaat, misalnya sebagai spot swafoto, dan menjadi indentitas desa tersebut. Jadi gerbangnya wisata setiap desa itu dari dermaga yang ditata dengan baik,” jelas Endang.
Kegiatan pembangunannya dilakukan secara padat karya, dengan menggunakan bahan baku yang berasal lahan budi daya masyarakat, seperti bahan baku dari rotan, bambu, dan gelam. Begitu juga dengan penyusunan desain yang sesuai dengan budaya setempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *