Yudha Ariyanto Promosikan Budaya Indonesia Melalui Kostum Rancangannya di Solo Batik Carnival 2026

0
1c96ad83-836e-400f-81c4-795c33a69847

El John News, Jakarta – Putra Kopi Indonesia 2022 Yudha Ariyanto menjadi salah satu peserta Solo Batik Carnival 2026 yang digelar pada Sabtu (11/7/2026). Dimulai dari Stadion Sriwedari, Yudha bersama peserta lain melakukan parade dengan memakai kostum terbaik masing-masing menuju Balai Kota Surakarta.

Sepanjang rute, masyarakat yang hadir terlihat sangat antusias menyaksikan dan mengabadikannya dengan gawai masing-masing.

“Menurut saya, ini menjadi salah satu ruang terbaik untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada publik,” katanya.

Putra binaan Yayasan El John Indonesia ini, berhasil mencuri perhatian publik dengan mengenakan kostum hasil rancangannya sendiri bernama “Dewi Sri Kang Hanggowo Kahuripan”, yang terinspirasi dari Tari Seblang Olehsari dari Banyuwangi.

“Saya memang ingin menghadirkan sebuah karya yang bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki cerita dan makna budaya yang kuat,” ucapnya.

Bagian-bagian dari kostumnya memiliki filosofi masing-masing yang membuat kostum tersebut saran akan banyak makna. Pada bagian sayap, terdapat keris yang menjadi simbol untuk melawan keburukan dan memancarkan kebajikan. Sayap belakang berbentuk sampur atau selendang yang biasanya digunakan untuk menari, dan pada bagian depan terdapat sayap berbentuk tampah yang berisikan kembang dermo.

Motif batik pada bagian selendang belakang bermotif Gajah Uling, yang memiliki makna untuk selalu mengingat dan taat kepada Tuhan. Selain itu, terdapat mahkota yang terinspirasi dari hiasan Gandrung Banyuwangi dan Barong Kemiren. Mahkota tersebut memiliki hiasan bunga yang menyimbolkan kesuburan, kemakmuran, dan keindahan.

“Saya sangat bangga dan bersyukur bisa menjadi bagian dari peserta Solo Batik Carnival. Bagi saya, ini bukan sekadar berjalan mengenakan kostum, tetapi menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui karya yang saya buat sendiri. ada rasa haru ketika melihat budaya bisa di apresiasi oleh begitu banyak orang,” ujarnya.

Merancang kostum ini bukanlah perkara mudah untuk Yudha. Ia melakukan riset mengenai sosok Dewi dan Tari Seblang Olehsari, mendesain konsep, memilih material, hingga membuat kostum yang memakan waktu tiga bulan.

“Tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan karena kostum ini memiliki ukuran yang cukup besar dan banyak detail ornamen. Namun, semua itu terbayar ketika bisa tampil maksimal di Solo Batik Carnival,” ucapnya.

Tahun ini adalah tahun kelima Yudha menjadi peserta Solo Batik Carnival. Ia ingin terus berkontribusi memperkenalkan budaya Nusantara melalui karya yang diciptakan sendiri, sekaligus menunjukkan bahwa generasi muda juga berperan aktif dalam melestarikan budaya Indonesia.

“Saya berharap, Solo Batik Carnival terus berkembang menjadi festival budaya kelas dunia tanpa kehilangan identitasnya sebagai ruang pelestarian budaya Indonesia. semoga semakin banyak anak muda yang berani berkarya, mengangkat cerita dari daerahnya masing-masing, dan menjadikan budaya sebagai inspirasi untuk berinovasi. Karena budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga identitas yang harus kitab awa ke masa depan,” harapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *