Apindo Nilai Tak Tepat Pemindahan Ibukota di Saat Kondisi Ekonomi Melambat

0
Ibu-kota-pindah-ke-palangkaraya1

Belakangan ini berita seputar perpindahan Ibukota terus mewarnai hampir semua media massa nasional. Informasi terbaru, pemerintah saat ini masih mengkaji daerah mana yang nantinya  menggantikan Jakarta sebagai Ibukota Negara, meskipun kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah menjadi daerah terkuat, jika ibukota resmi berpindah tangan. Bahkan ada wancana pemindahan ibukota akan dilakukan pada tahun 2018 mendatang.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)  melontarkan kritikan terkait rencana Pemerintah itu. Rencana memindahkan Ibukota dinilai kurang tepat karena kondisi ekonomi yang masih melambat serta kondisi keuangan negara yang serba terbatas.

“Kalau ada uangnya sih bagus saja, tapi apa iya duitnya ada? Apa benar sudah siap? Saya heran kayak gini kok muncul saat kondisi begini, apalagi tidak mungkin dilaksanakan dalam jangka pendek. Jangan grasak grusuk,” ucap Ketua Umum Apindo, Hariyadi Sukamdani, kepada wartawan  di Jakarta, Kamis, 6 Juli 2017.

Keinginan pemerintah menggandeng swasta dalam urusan pendanaan pemindahan ibukota juga dinilai Hariyadi sebagai upaya yang sia-sia. Menurut  Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) ini , pihak swasta juga akan kewalahan mencari dana,  mengingat anhgaran ya g dibutuhkan untuk pemindahan  ibukota tidak sedikit.

“Swasta itu berpikir pasarnya bagaimana. Misalnya di Kalimantan Tengah, itu tidak ada apa-apanya. Mau bangun infrastruktur, duitnya dari mana. Bangun gedung pemerintahan kan ongkosnya dari pemerintah, kalau swasta duitnya dari mana,” ujar Haryadi.

Hariyadi berpendapat, zaman sekarang semua serba elektronik, menggunakan internet, sehingga fisik kantor bukan lagi sebuah keniscayaan. Pemindahan Ibukota  dan pusat pemerintah bukan merupakan sumber pertumbuhan ekonomi yang kuat. Contohnya swasta mau menggarap proyek antara di Canberra dan Sydney, Australia. Pasti investor akan lebih memilih Sydney dengan segudang potensi bisnis yang menjanjikan.

“Zaman teknologi canggih, internet, banyak perusahaan bekerja di rumah. Sekarang situasi lagi repot begini, swasta suruh begitu, mana pada mau. Kalau ekonomi lagi tidak susah pun, buat apa sih pindah,” ujar dia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *