Aksara Incung Jadi Inspirasi Rebranding Produk Kerinci

0
1905102-aksara-incung-jadi-inspirasi-rebranding-produk-kerinci

Aksara Incung menjadi inspirasi pengembangan desain produk dan kemasan. Hal ini untuk memperkuat identitas lokal terhadap produk yang dihasilkan.

Mentor Desain Kemasan, Damayanti, mengatakan saat kunjungan pertama melihat banyak potensi yang dimiliki Kerinci. Dia mengaku berjalan-jalan ke pasar untuk melihat produk yang dihasilkan oleh pelaku kreatif lokal. Selama ini Kerinci terkenal dengan kopi, teh, dan kayu manis serta telah banyak produk olahan dari tiga hal tersebut yang dijual, tidak hanya di Kerinci tapi sampai luar daerah.

Namun diakuinya kemasan produk belum cukup menarik. Oleh karena itu, bersama dengan tim Institut Teknologi Bandung (ITB) yang merupakan mahasiswa pascasarjana Fakultas Seni Rupa melakukan rebranding produk.

Rebranding dilakukan dengan memanfaatkan potensi yang ada di Kerinci, seperti pembuatan tas dari limbah kayu manis dan juga logo yang terinspirasi dari aksara Incung,” ungkap Damayanti, Jumat (17/5/2019).

Aksara Incung digunakan oleh masyarakat Kerinci sejak berabad-abad yang lalu dan penggunaannya menyebar ke wilayah Lampung dan Rejang. Diperkirakan aksara ini dipergunakan secara luas pada abad ke-4 Masehi. Aksara Incung ditulis dengan menggunakan benda runcing yang guratannya mirip dengan tulisan paku pada aksara Babilonia Kuno.

Selain itu, slogan Kerinci Sekepal Tanah Surga dan Sakti Alam Kerinci juga menjadi salah satu unsur yang ditampilkan dalam branding produk. Branding tersebut nantinya tidak hanya untuk satu produk tertentu tapi seluruh produk yang dihasilkan oleh pelaku kreatif Kerinci sebagai identitas.

“Konsep yang diusung adalah kolaborasi antara tradisi dan modern, baik dari sisi teknik maupun material,” jelasnya.

Mentor Batik, Zeni Nugroho, menyampaikan batik Kerinci memiliki potensi daya saing yang kuat dalam perkembangan batik di Indonesia. Apalagi dengan menjadikan aksara Incung sebagai identitas batik Kerinci dan menjadi pembeda dengan batik lainnya. Menurut dia, batik tidak hanya produk tapi juga merepresentasikan budaya daerah. Oleh karena itu, batik tak hanya sekadar kain tapi juga memiliki filosofi yang ditampilkan dalam motif.

“Batik dengan motif aksara Incung memiliki sejarah yang kuat. Namun tidak banyak pengrajin yang masih memahami aksara Incung. Oleh karena itu, kami berupaya untuk membangkitkan lagi batik dengan pendekatan yang lebih kontekstual. Targetnya batik Kerinci akan ditampilkan dalam event kopi internasional di Jambi, dimana pewarna kain akan menggunakan kopi,” terang Zeni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *