Pemerintah Yakin Mampu Hadapi Puncak El Nino, Cadangan Beras Diklaim Aman
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memberikan keterangan pers tentang persiapan hadapi El Nino (Foto: BPMI Setpres)
El John News, Jakarta-Pemerintah menyatakan kesiapan menghadapi puncak fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada periode Juli hingga September 2026. Keyakinan tersebut disampaikan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman usai memenuhi panggilan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta.
Menurut Amran, salah satu indikator utama kesiapan pemerintah adalah tingginya cadangan beras nasional yang hingga Juni 2026 tercatat mencapai sekitar 5,2 juta ton. Selain stok yang tersimpan di gudang pemerintah, ketersediaan beras di masyarakat dan sektor usaha juga dinilai mampu menopang kebutuhan pangan nasional dalam jangka waktu yang cukup panjang.
“Kemudian beras di hotel, rumah, restoran, itu kurang lebih 12,5 juta ton. Artinya dengan cadangan ini, tiga-tiganya, itu bisa 10-11 bulan ke depan. Kalau anggaplah yang terendah adalah 10 bulan ke depan, artinya sampai dengan bulan April,” ujar Amran.
Ia menjelaskan, pemerintah tidak hanya mengandalkan cadangan pangan untuk menghadapi ancaman kekeringan akibat El Nino. Berbagai program penguatan infrastruktur pertanian juga terus dipercepat guna mengurangi risiko penurunan produksi di sejumlah daerah.
Langkah-langkah yang dilakukan meliputi pembangunan embung, pengembangan irigasi pompa, pembangunan sumur dalam, program pompanisasi, optimalisasi lahan rawa, hingga pencetakan sawah baru di berbagai wilayah.
“Kita sudah membangun embung, kemudian irigasi pompa, kemudian sumur dalam, kemudian pompanisasi, opla optimalisasi lahan, yaitu lahan rawa yang biasanya panen satu kali, jadi dua kali dan tiga kali. Kemudian cetak sawah kita lanjutkan. Ini semua bisa memitigasi risiko. Sekali lagi, insyaallah untuk pangan aman,” jelasnya.
Selain fokus pada sektor tanaman pangan, pemerintah juga terus menjaga stabilitas komoditas peternakan, khususnya telur dan daging ayam. Amran mengatakan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Badan Gizi Nasional (BGN), dilakukan untuk meningkatkan penyerapan produk peternak sekaligus menjaga harga tetap stabil.
“Kami langsung telpon kepala BGN, menyampaikan kalau bisa dalam satu minggu biasanya konsumsi telur satu kali, bisa menjadi tiga kali termasuk ayam, sehingga harga mulai merangkak naik, dan itu kita sepakati semua,” tuturnya.
Di sisi lain, pemerintah juga mempercepat program hilirisasi komoditas pertanian dan perkebunan seperti kopi, kelapa, dan tebu guna meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Amran menambahkan, berbagai bantuan untuk sektor pertanian akan terus dilanjutkan hingga beberapa tahun ke depan. Program tersebut mencakup bantuan alat dan mesin pertanian, pembangunan sawah baru, hingga dukungan pengembangan lahan di berbagai daerah termasuk Papua.
“Kami sudah lakukan bersama teman-teman di 2025, kita lanjutkan 2026 dan 2027. Total luasan untuk petani itu adalah 870 ribu hektare, termasuk tanah Papua, seluruh kabupaten di Papua,” jelasnya.
Menurut Amran, pemerintah telah mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk mendukung pengembangan sektor pertanian di kawasan timur Indonesia. Ia mengatakan Presiden Prabowo Subianto meminta agar berbagai program bantuan yang langsung menyentuh masyarakat tersebut terus dilanjutkan.
“Kami berikan bantuan di sana tahun ini Rp3,2 triliun, tahun lalu Rp2 triliun, totalnya Rp5,5 triliun lebih. Kami laporkan kepada Bapak Presiden, beliau mengatakan ini lanjutkan bantuan ini. Ini bantuan langsung ke rakyat,” pungkasnya.
