Angeline Wibawa Sabet Gelar Miss Heritage Indonesia 2025, Siap Lestarikan Budaya Tionghoa-Indonesia

Di tengah gemerlap panggung dan tepuk tangan penonton yang tak henti menggema, Angeline Wibawa mencatat sejarah pribadi dengan memenangkan gelar Miss Heritage Indonesia 2025. Namanya, diumumkan pada malam Granf Final Miss Chinese Indonesia 2025 yang diselenggarakan di Golden Sense International Restaurant, Mangga Dua Square, Kamis (20/11/2025).
Kemenangan ini menjadi bukti bahwa konsistensi dan keberanian untuk terus mencoba selalu membuahkan hasil. Prestasi ini juga menjadi momen yang sangat berkesan bagi Angeline yang mengaku bangga dan bersyukur atas hasil kerja kerasnya selama kompetisi berlangsung.
“Tentunya saya sangat senang dan bangga, karena semua effort saya akhirnya mendapatkan hasil,” ujar gadis cantik kelahiran Tangerang, 15 Maret 2001 ini.
Angeline tak lupa menyampaikan rasa terima kasih kepada orang-orang yang selama ini mendukung dirinya. Ia mengaku sangat terbantu oleh dukungan keluarga serta para pengikutnya dari berbagai negara.
“Keluarga saya dan juga followers dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina selalu memberikan kepercayaan dan support buat saya. Terima kasih banyak untuk semuanya,” ungkapnya.

Apresiasi untuk Yayasan EL JOHN Indonesia
Ia juga menyampaikan penghargaan mendalam kepada Yayasan EL JOHN Indonesia dan pendirinya, Daddy M. Johnnie Sugiarto.
“Daddy Johnnie Sugiarto, thank you very much untuk kesempatan ini. Tanpa Daddy, kita semua tidak akan ada di sini. Saya belajar sangat banyak, dan selama satu tahun ke depan saya akan berusaha memberikan yang terbaik,” ucap lulusan Taylor’s University, Hospitality ini.
Komitmen Lestarikan Heritage Indonesia
Sebagai Miss Heritage Indonesia 2025, Angeline mengungkapkan bahwa fokusnya adalah memperkuat dan melestarikan budaya serta bahasa Tionghoa sebagai bagian dari kekayaan heritage Indonesia.
“Saya ingin menjadi penguat dan pelestari budaya dan bahasa Tionghoa. Melalui peran saya sebagai livestreamer dan content creator, saya ingin membagikan budaya dan bahasa Tionghoa baik kepada sesama Tionghoa maupun non-Tionghoa,” jelasnya.

Menurut Angeline, identitas budaya merupakan hal yang harus dibagikan, bukan dibatasi oleh suku, ras, atau agama.
“Kita semua adalah bangsa Indonesia. Jadi saya percaya kita bisa saling berbagi informasi mengenai budaya masing-masing,” tambahnya.
Siap Berkolaborasi dengan Stakeholder
Selain memanfaatkan media sosial, Angeline juga berencana memperkuat jejaring dengan berbagai pihak untuk memperluas dampak advokasinya.

“Saya percaya selain melalui digital media, saya juga bisa berkolaborasi dengan Yayasan EL JOHN Indonesia, komunitas-komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya untuk mengembangkan advokasi saya,” tuturnya.
Dengan gelar baru yang ia sandang, Angeline berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam pelestarian budaya dan memperkenalkan kuliner serta identitas Tionghoa-Indonesia ke masyarakat luas.
