DestinationEco TourismHeadline NewsTourismTravel

ASITA Harap Pemprov DIY Buka Objek Wisata Baru Untuk Dongkrak Jumlah Wisatawan

Malioboro, Prambanan, dan Keraton jangan ditanya soal jumlah wisatwan. Ketiga objek wisata di Yogyakarta ini memang menjadi garda terdepan yang dimiliki Yogyakarta dalam menarik wisatawan mancanegara dan nusantara. Namun tidak cukup hanya ketiga objek wisata itu. Yogakarta sebagai daerah istimewa harus dapat mengembangkan destinasi wisata yang dimilikinya agar ada penyebaran wisatawan di kota pelajar itu.
Berdasarkan Indeks Pariwisata Indonesia (IPI) Kementerian Pariwisata yang diumumkan Rakornas Kepariwisataan ke-4 di Ballroom Hotel Sultan Jakarta pada 6 – 7 Desember 2016, baru Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul yang masuk 10 daerah dengan indeks pariwisata tertinggi (IPI) di Indonesia.

Kabupaten Sleman pun hanya menempati peringkat keempat dengan skor 3,72. Sedangkan Kabupaten Bantul menempati peringkat kesepuluh dengan skor 3,22.

Ketua Asosiasi Tour dan Travel Agent Indonesia (Asita) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Udhi Sudiyanto melihat ada potensi yang luar biasa yang dimiliki Gunung Kidul unttuk menarik wisatawan. Sebut saja ada Gua Pindul yang tak kalah indahnya dengan gua-gua wisata di daerah lain.
Udhi menilai alam yang menarik dan indah seharusnya bisa dijadikan terobosan bagi Pemerintah setempat untuk membuka objek wisata baru. Sangat disayangkan jika hal tersebut tidak dilakukan dan dikhawatirkan tidak terawat dan menjadi rusak. Kabupaten Kulon Progo misalnya, yang memiliki kebun teh yang ke depannya bisa menjadi maskot baru dan menjadi obyek wisata penyangga berbasis alam.

“Sekarang itu ada dua jenis wisatawan. Pertama, wisatawan yang baru pertama masuk ke Yogyakarta. Itu pasti cari yang objek wisata yang highlight. Tapi yang untuk wisatawan repeater, mereka selalu mencari hal-hal yang unik yang belum mereka kunjungi,” kata Udhi.seperti yang dikutip Kompas.com.
Udhi mengingatkan tidak hanya sekedar membuka objek wisata baru namun ada beberapa yang mesti diperhatikan pemerintah yakni soal aksesibilitas, fasilitas, sarana, dan prasarananya. Gunung Kidul misalnya, meski wisatanya sudah mulai menggeliat, namun ia menilai jika aksesibilitas masih menjadi persoalan.

“Mau tidak mau pasarnya ada di Yogyakarta, ketika menuju ke Gunung Kidul, wisatawan masih butuh waktu lama. Itu yang jadi masalah perlu diperhatikan. Agar akses mudah ke sana, jangan sampai habis waktu di jalan. Kalau bisa satu hari semua bisa selesai di Gunung Kidul dengan menikmati gunung, air, dan pantai,” ujar Udhi.
Udhi mengatakan, pembenahan aksesibilitas juga menjadi faktor menunjang penambahan wisatawan sehingga mendongkrak peringkat wisata di DIY. Sebab jika aksesnya tak segera dibenahi, ia meyakini, wisatawan enggan mendatangi objek wisata penyangga baru yang ditawarkan.

“Saya pikir DIY untuk merealiasikan menjadi destinasi unggulan di Asia tenggara tidak terlalu sulit. Bagaimanapun juga Yogyakarta masih bisa menjadi maskot pariwisata di Jawa. Saya happy juga dengan beberapa stakeholder dan pengelola obyek wisata yang sudah mulai inovatif sehingga wisatawan yang sudah ke DIY selalu ingin mencoba hal yang baru,” ungkap Udhi.
Udhi pun optimis, jumlah wisatawan baik domestik dan asing yang datang ke DIY akan terus menigkat setiap tahunnya. Terbukti, kata dia, jumlah wisatawan yang datang ke DIY pada 2016 meningkat sampai17 persen dibanding 2015. Hal itu menunjukkan objek wisata di DIY masih menjadi primadona untuk di Pulau Jawa.

“Setiap long weekend Yogyakarta itu selalu dipadati oleh wisatawan domestik dan wisatawan dari luar DIY . itu juga terbukti dengan namanya hotel-hotel terutama di ring satu itu lebih sibuk. Bahkan pada long weekend kemarin, untuk mencari penginapan cukup sulit,” kata Udhi.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button