Atraksi Budaya Nusantara dan Mancanegara Tampil Menakjubkan di EIFAF 2018
Parade Budaya Internasional Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival (EIFAF) 2018 yang dilangsungkan di Stadion Rondong Demang, Tenggarong, Kalimantan Timur begitu memukau. Masyarakat dibuat takjub melihat atraksi budaya nusantara dan mancanegara.
Antusiasme warga dan wisatawan memang sudah terlihat sejak pukul 08.00 WITA. Sisi kiri kanan di sepanjang rute yang dilalui peserta festival budaya nusantara dan internasional ini, sudah disesaki lautan manusia. Semuanya menonton dengan tertib kirab budaya yang melintas sejauh dua kilometer.
Pengunjung yang datang dibuat bergairah dengan suguhan beragam budaya. Ada Dayak, Minang, Kutai, Toraja, Sulawesi Utara, NTT, Jawa, Banyuwangi, Lombok sampai Reog Ponorogo.
Dari mancanegara ada Hongaria Hongaria, India, Polandia, Rumania dan Turki yang unjuk kebolehan. Jalanan yang sudah disterilkan aparat kepolisian berubah jadi lautan manusia.
“Kabupaten Kutai Kartanegara adalah daerah yang kaya. Terutama kaya akan sumberdaya alam berbasis fosil. Selain itu, Kabupaten Kutai Kartanegara juga mempunyai potensi pariwisata yang luar biasa. Baik yang berbasis budaya, alam, maupun berbasis kreativitas buatan manusia. Di lain pihak, pasar pariwisata berkembang sangat pesat, dengan captive market yang besar. Baik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara,” kata Deputi Pengembangan Pemasaran I Kemenpar, I Gde Pitana, Minggu, 22 Juli 2018.
Dengan kekayaan yang dimiliki itu, Pitana menilai sangat tepat kalau Kutai mulai menempatkan Pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan dalam pembangunan.
“Pilihan tepat jika pariwisata menjadi sektor unggulan. Di samping itu, pariwisata juga mempunyai karakteristik yang sangat positif. Termasuk dalam hal pelestarian alam dan budaya. Semakin dilestarikan semakin menyejahterahkan. Dan ini sudah terbukti,” terang Pitana.
Pitana pun memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Erau Adat Kutai dan International Folk Arts Festival yang tahun ini memasuki usia ke-6.
“Saya menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Juga segenap pemangku kepentingan. Karena, sudah berhasil secara rutin melaksanakan event Erau Adat Kutai dan International Folk Arts Festival,” katanya.Dijelaskannya, dalam pelaksanaan festival ada satu prinsip yang patut digarisbawahi adalah cultural festival jangan berhenti pada cultural values. “Harus dikonversi ke arah economic atau commercial values. Sebab, ujungnya adalah kesejahteraan masyarakat,” terangnya.
Ditambahkan Pitana, yang tidak kalah penting dalam menyelenggarakan sebuah festival adalah aktivitas-aktivitas pasca festival. “Termasuk transaksi ekonomi yang terjadi setelahnya,” sambungnya.
Pitana juga menyebut jika sebuah festival atau event, menjadi cara yang efektif untuk mempromosikan suatu daerah atau destinasi pariwisata. Sebuah event atau festival, juga mempunyai manfaat multi-ganda. Baik langsung maupun tidak langsung.
“Manfaat tersebut di antaranya, memperkenalkan destinasi, melalui media values dan news values yang tinggi, terutama sekarang melalui media sosial. Kemudian sebagai ikon untuk mendatangkan wisatawan secara langsung untuk menyaksikan event, kemudian memotivasi masyarakat lokal. Khususnya untuk mengembangkan kreativitas dan secara langsung terlibat dalam kepariwisataan, serta menggairahkan dan membangkitkan kesenian dan kebudayaan lokal. Hal ini merupakan modal dasar kepariwisataan,” jelasnya.
Pitana pun yakin Erau Adat Kutai dan 6th International Folk Arts Festival bisa mengangkat Kutai Kartanegara.
“Dengan berbagai kajian empiris di atas, Kami yakin event Erau Adat Kutai dan 6th International Folk Arts Festival akan mampu mengangkat Kutai Kartanegara sebagai tujuan wisata yang diperhitungkan. Karena, sekali lagi kami meyakini bahwa event merupakan cara yang sangat efektif untuk mempromosikan destinasi pariwisata,” jelasnya.
