Banyuwangi Berpeluang Besar Masuk Global Geopark Network

0
20160624_052955-01

Peluang Banyuwangi untuk ditetapkan sebagai bagian Global Geopark Network (GGN) UNESCO semakin terbuka setelah Sekjen GGN UNESCO Guy Martini mengunjungi  kabupaten yang dijuluki The Sunrise of Jawa ini, pada 29 hingga 31 Desember 2018.  Guy Martini begitu terkesan dengan keindahan destinasi di Banyuwangi yang dikunjunginnya. Destinasi itu adalah Pantai Pulau Merah, Gunung Ijen, dan Desa Adat Kemiren.

Martini menyebut Banyuwangi memiliki segalanya yang berkaitan dengan  pariwisata. “Kesimpulan saya, Banyuwangi sangat potensial dan lengkap, baik gelogical-nya, lingkungan alamnya, intangible heritage cultural (warisan budaya tak benda) hingga keanekaragaman hayatinya. Saya kira Banyuwangi punya semua elemen potensial untuk menjadi bagian dari Global Geopark Network,” ujar Martini, Senin (31/12).

Menurut Martini, sudah tepat Banyuwangi ditetapkan sebagai Geopark Nasional, pasalnya semua yang syarat untuk menjadi Geopark sudah dimiliki Banyuwangi secara lengkap.Geopark tidak hanya sekadar bicara alam semata, tetapi seluruh aspek di dalamnya, seperti hayati dan kebudayaan. Misalkan Pulau Merah yang keindahaanya tidak tertandingi.

“Pulau Merah punya panorama yang indah, kami sempat berbicara dengan penduduk lokal yang terlibat sebagai relawan ataupun lifeguard (penjaga pantai), saya terkesan karena mereka terlibat memberikan edukasi keselamatan kepada anak-anak sekolah dan pengunjung, juga mau mengajari selancar,” ujar Martini.

Selain Pulau Merah, keindahan yang lain ada di Gunung Gunung Ijen serta Taman Gandrung Terakota dengan visualisasi ratusan penari Gandrung di kaki Gunung Ijen.

Bagi dia, Gunung Ijen sangat menawan dari sisi geologi, lingkungan alam, dan kehidupan warga lokalnya.

“Saya melihat kisah fantastik tentang gunung berapi, juga hutan yang indah dan mengagumkan di sepanjang perjalanan menuju Ijen,” ujar Martini.

Martini menjelaskan, dengan berupaya menjadi bagian geopark dunia sebenarnya Banyuwangi tengah menyiapkan rumah masa depan yang mampu memberi dampak positif bagi warga.

“Sehingga bukan hanya memelihara kekayaan alam, namun juga bermanfaat bagi masyarakat setempat, mampu membangun konsep perekonomian dan pembangunan berkelanjutan dengan mengedepankan kearifan budaya lokal,” terangnya.

Dengan menjadi jaringan geopark dunia, Banyuwangi nantinya tidak akan terjebak dalam arus mass tourism. Sebagaimana hal itu terjadi di banyak tempat lainnya di dunia.

“Pengelolaan di dalamnya menggunakan sistem kerja sama melibatkan masyarakat setempat. Begitu juga keberadaan rumah makan, homestay, dan pemandu wisata berbasis geopark. Mempromosikan produk lokal, mengedepankan budaya lokal sehingga masyarakat ikut merasa memiliki bangga dan ikut menjaganya,” urainya.

Tahap selanjutnya, untuk bisa menjadi GGN UNESCO, kata Martini, Banyuwangi harus bisa membangun ekosistem yang mendukung. Semua komponen berkepentingan harus bersatu.

“Kekayaan alam Banyuwangi memang sangat spesial tapi untuk menjadi geopark semuanya harus disiapkan. Dan saya lihat tim yang bekerja untuk persiapan hal ini di Banyuwangi berjalan dengan sangat baik, semuanya kompak dan saling mendukung baik kabupaten, pihak taman nasional, juga pihak swasta. Ini menjadi salah satu modal kunci suksesnya,” kata Martini.

Sementara itu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas berharap, kehadiran Asesor GGN UNESCO dapat memberikan masukan sekaligus motivasi untuk bisa meningkatkan kualitas pengelolaan destinasi Banyuwangi. Tentunya agar menjadi bagian taman bumi warisan dunia.

“Dengan menjadi bagian geopak dunia, kami berharap konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan bisa terus terjaga sekaligus menyejahterakan masyarakat,” harap Anas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *