dr. Alfadea, Promosikan Masa Depan Medical Tourism Indonesia
El John News, Jakarta – Putri binaan Yayasan El John Indonesia, dr. Alfadea Irbah Allizaputri, yang juga menyandang gelar Miss Medical Tourism Indonesia 2026, tampil sebagai pembicara dalam ajang Taiwan Biotechnology & Healthcare Industry. Dalam kesempatan tersebut, ia membawakan materi mengenai perkembangan, tantangan, dan peluang medical tourism Indonesia di tengah pertumbuhan industri kesehatan global yang semakin pesat.
Di hadapan para peserta yang terdiri dari pelaku industri kesehatan, akademisi, dan praktisi pariwisata, dr. Alfadea menyoroti fenomena jutaan masyarakat Indonesia yang masih memilih berobat ke luar negeri setiap tahunnya. Menurutnya, kondisi tersebut harus dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan nasional dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan dalam negeri.
“Setiap tahun, hampir dua juta masyarakat Indonesia pergi ke luar negeri untuk mendapatkan layanan kesehatan. Saya tidak melihat ini sebagai kritik terhadap negara kita, melainkan sebagai sinyal bahwa ada kebutuhan besar yang belum terpenuhi dan peluang yang sangat besar untuk kita kembangkan bersama,” ujar dr. Alfadea.

Dalam presentasinya, ia menjelaskan bahwa health tourism mencakup dua sektor utama, yaitu medical tourism untuk kebutuhan pengobatan dan wellness tourism yang berfokus pada pencegahan penyakit serta peningkatan kualitas hidup. Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang di kedua sektor tersebut berkat kekayaan alam, budaya, dan sumber daya kesehatan yang dimiliki.
“Indonesia tidak harus bersaing hanya sebagai destinasi bagi orang yang sedang sakit. Kita juga dapat menjadi destinasi bagi mereka yang ingin menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup. Inilah peluang besar yang harus kita manfaatkan,” katanya.
Lebih lanjut, dr. Alfadea menekankan bahwa kepercayaan merupakan faktor utama yang menentukan keputusan seseorang dalam memilih layanan kesehatan. Akreditasi rumah sakit, komunikasi dokter dan pasien, transparansi biaya, serta kemudahan akses digital menjadi fondasi penting dalam membangun reputasi sebuah destinasi medical tourism.
“Jika saya harus merangkum seluruh konsep medical tourism dalam satu kata, maka kata itu adalah trust atau kepercayaan. Pasien memilih sebuah destinasi kesehatan bukan karena promosi yang menarik, tetapi karena mereka merasa aman, dihargai, dan mendapatkan pelayanan yang berkualitas,” jelasnya.

Selain membahas potensi Indonesia, dr. Alfadea juga mengapresiasi kemajuan Taiwan dalam bidang teknologi kesehatan, kecerdasan buatan, rumah sakit pintar, hingga pengembangan precision medicine. Menurutnya, kolaborasi antara Indonesia dan Taiwan dapat membuka peluang besar dalam peningkatan kualitas layanan kesehatan, pendidikan tenaga medis, serta pengembangan inovasi kesehatan di masa depan.
Menutup presentasinya, dr. Alfadea mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama membangun ekosistem medical tourism yang terintegrasi, berdaya saing, dan berorientasi pada pengalaman pasien. Sebagai Miss Medical Tourism Indonesia 2026, ia menegaskan komitmennya untuk terus menjadi suara yang memperkenalkan potensi Indonesia sebagai destinasi kesehatan unggulan di tingkat internasional.
“Platform yang saya miliki bukan sekadar tentang gelar yang saya sandang, tetapi tentang bagaimana saya dapat menjadi suara bagi masyarakat Indonesia agar mendapatkan layanan kesehatan berkualitas di negeri sendiri serta memperkenalkan Indonesia sebagai destinasi kesehatan yang dipercaya dunia,” tutup dr. Alfadea.
Partisipasi dr. Alfadea Irbah Allizaputri dalam Taiwan Biotechnology & Healthcare Industry menjadi bukti nyata kontribusi putri binaan Yayasan El John Indonesia dalam mendukung kemajuan sektor kesehatan dan pariwisata Indonesia. Karena masa depan medical tourism bukan hanya tentang ke mana pasien pergi untuk berobat, tetapi tentang bagaimana Indonesia menjadi tempat yang dipilih dunia untuk mendapatkan harapan, kesembuhan, dan kepercayaan.
