BBKSDA Sumatera Utara Sambut Lahirnya Gajah Sumatera Betina di Barumun Nagari

0
barumun

Kabar gembira datang dari Barumun Nagari di Desa Batunanggar, Kecamatan Batang Onan, Padanglawas Utara, Sumatera Utara, pada hari Sabtu (16/6) kemarin. Kabar baik yang dimaksud yaitu seekor Gajah (Elephas maximus sumatraensis) bernama Dini melahirkan bayi berjenis kelamin betina.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar yang memberinya langsung nama Fitri. Sementara itu, kabar duka kematian gajah jinak bernama Bunta di CRU Serbajadi, Aceh Timur, Aceh setelah lebih dari sepekan masih menyisakan misteri.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut), Hotmauli Sianturi, pada hari Jumat (22/6), mengatakan, bayi gajah tersebut lahir pukul 05.00 WIB. Pihaknya mengaku belum mendapatkan angka berat dan tinggi badannya.

“Kita sudah melaporkannya ke pusat dan Ibu Menteri merespon dengan memberinya nama Fitri karena pas dengan hari lahirnya yaitu hari Idul Fitri,” kata Hotmauli.

Terkait dengan masih terus terjadinya perburuan dan perdagangan gading gajah, pihaknya turut berduka cita. Namun, kabar kelahiran bayi gajah jinak di BarumuI menurutnya adalah hal yang menggembirakan.

“Yang jelas semua perburuan gading gajah harus semua pihak bersama-sama melindungi dari perburuan atau perusakan habitat,” ungkapnya.

Di Sumatera Utara keberadaan gajah – gajah jinak di Sumatera Utara tersebar di beberapa titik misalnya di Barumun Nagari sebelumnya terdapat 12 individu, Taman Wisata Alam Holiday Resort di Desa Aek Raso, Kecamatan Torgamba, Labuhanbatu Selatan 3 individu, dan Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) di Penangkaran Hutan Aek Nauli, Nagori Sibaganding, kecamatan Girsang Simpangan Bolon (Girsip), kabupaten Simalungun terdapat 4 individu dan Medan Zoo terdapat 2 individu.

“Gajah kita sangat sehat berarti cocok makanan dan iklimnya. Perkembangan di Aek Nauli menggembirakan. Mudah-mudahan tahun depan bisa ada yang melahirkan karena sudah ada yang kawin atau breeding,” katanya.

Dihubungi via telepon, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo mengatakan, hingga kini kasus pembunuhan gajah jinak Bunta belum terkuak. Namun menurutnya sudah ada perkembangan yang bisa menunjukkan titik terang.

“Di Aceh, dari setahun lalu ada 11 kasus, 6 di Aceh Timur tak ada yang terungkap,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *