Bekraf Rangkul Media Nasional Sharing Pencapaian Ekonomi Kreatif Indonesia

0
BEKRAF_PressKit_BincangBarengBekraf_Image_TriawanMunaf-KepalaBadanEkonomiKreatif_2

Target besar dipasang oleh Badan Ekonomi Kreatif, yaitu ingin agar dapat menyumbang lebih dari Rp1.000 triliun bagi Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2018. Berbagai strategi dan upaya pun akan digelar untuk mendukung pertumbuhan ekosistem ekonomi kreatif di Tanah Air.

“Gagasan kreatif tak akan pernah habis sehingga diharapkan dapat menggantikan sumber daya alam (SDA) menjadi tulang punggung perekonomian nasional,” kata Kepala Bekraf, Triawan Munaf dalam acara Bincang Bareng Bekraf yang diselenggarakan di Museum Macan, Jakarta, pada Senin (26/2).

Dipilih lokasi acara di Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN), karena lokasi ini merupakan museum pertama di Indonesia yang menampilkan karya-karya seni modern dan kontemporer Indonesia dan dunia, bukti nyata pelaku kreatif Indonesia bahu-membahu bersama Bekraf membangun pengembangan ekonomi kreatif Indonesia.

Kilas balik pada tahun 2015, kontribusi industri kreatif terhadap PDB tercatat sebesar Rp852 triliun. Saat itu, industri ini menyerap 13,9% tenaga kerja dan menyumbang US$19,4 miliar terhadap ekspor nasional. Selanjutnya, kontribusi industri kreatif tercatat meningkat menjadi Rp922,6 triliun di 2016.

Tahun ini, Bekraf menargetkan kontribusi ekonomi kreatif mencapai Rp1.041 triliun. Industri kreatif diharapkan menyerap 18,2% tenaga kerja dan menyumbang US$ 23,7 miliar ekspor nasional. Sedangkan di 2019, kontribusinya ditargetkan senilai Rp1.123 triliun terhadap PDB dan menyumbang ekspor US$25,1 miliar.

Sebelumnya selama tiga tahun keberadaan Bekraf, berbagai kegiatan telah dilakukan. Tahun ini kegiatan yang mendukung pengembangan ekosistem ekraf telah disusun dan mulai dilaksanakan, diantaranya Coding Mum, Bekraf Animation Conference (Beacon), Bekraf Creative Labs, Innovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON), Creative Training and Education (Create), Bekraf Festival, dan Orbit.

“Gagasan kreatif tak akan pernah habis sehingga diharapkan dapat menggantikan sumber daya alam (SDA) menjadi tulang punggung perekonomian nasional” ungkap Triawan.

Kemudahan akses permodalan pelaku ekraf diberikan melalui Dana Ekonomi Kreatif (Dekraf), Kredit Usaha Rakyat Ekonomi Kreatif (Kurekraf), IP Financing, optimalisasi crowdfunding, hingga mengadakan forum bagi investor dan filantropi ekraf.

Dari sisi pemasaran, Bekraf berkomitmen turut ‘menjual’ produk kreatif dari Indonesia yang dilakukan di dalam dan luar negeri untuk 16 subsektor ekonomi kreatif, yaitu: seni rupa, desain produk, desain komunikasi visual, interior design, arsitektur, seni pertunjukan, kuliner, fotografi, kriya, fashion, musik, periklanan, penerbitan, televisi & radio, aplikasi & pengembangan permainan (game), serta film, animasi, dan video.

Bekraf pun mengungkapkan concern-nya melindungi produk kreatif karya anak bangsa melalui bantuan pendaftaran hak kekayaan intelektual. Guna meningkatkan daya saing pelaku, dukungan sertifikasi dan pelatihan pun diberikan. Bahkan saat ini Bekraf sedang mempersiapkan sistem yang dapat memberikan ekosistem yang sehat kepada para musisi di tanah air agar dapat mendapatkan hak-haknya lewat musik.

Sementara itu, Bekraf juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak dilakukan untuk mendukung penguatan pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Dalam kolaborasi pentahelix (akademisi, sektor bisnis, komunitas, pemerintah, dan media), media sangat berperan dalam menyampaikan dan menyebarkan informasi mengenai program dan kegiatan Bekraf, sehingga masyarakat di seluruh Indonesia bahkan dunia memahami apa yang sedang Bekraf perjuangkan untuk kemajuan ekonomi kreatif Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *