BusinessHeadline News

Dampak Keluarnya Inggris dari Uni Eropa

Uni Eropa (UE) telah memperjelas bagaimana cara Inggris dapat mengawali negosiasi formal untuk keluar dari blok mereka setelah hasil referendum yang berlangsung pada Kamis lalu (23/6)

Menurut UE, Inggris bisa menerapkan prosedur Pasal 50 Uni Eropa, yang menetapkan tenggat waktu dua tahun untuk kesepakatan tersebut, dengan membuat deklarasi formal melalui surat maupun pernyataan.

Perdana Menteri Inggris David Cameron sudah mengatakan akan mundur pada Oktober tahun ini untuk membiarkan penggantinya melakukan pembahasan.

Namun para menteri luar negeri UE sudah meminta Inggris agar segera mengawali proses tersebut. Sejak referendum yang berlangsung Kamis lalu, ada spekulasi yang intens tentang kapan dan bagaimana Inggris memulai negosiasi formal untuk keluar dari UE.

Juru bicara Dewan Eropa, yang menentukan arah serta prioritas politik Uni Eropa, menegaskan pada Sabtu kemari (25/6) bahwa menerapkan Pasal 50 adalah langkah formal yang harus dilakukan oleh pemerintah Inggris terhadap Dewan Eropa.

“Harus dilakukan dengan cara yang eksplisit dengan maksud untuk menerapkan Pasal 50,” kata juru bicara.

“Bisa lewat surat kepada presiden Dewan Eropa atau lewat pernyataan resmi dalam pertemuan di Dewan Eropa yang kemudian tercatat secara resmi dalam notulen pertemuan.”

Dampaknya Bagi Perekonomian Indonesia

Bank Indonesia (BI) memandang bahwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa berdampak relatif terbatas pada perekonomian domestik, baik di pasar keuangan maupun kegiatan perdagangan dan investasi.

Perekonomian Indonesia saat ini memiliki ketahanan ekonomi yang baik. Stabilitas makroekonomi tetap terjaga yang tercermin dari inflasi yang rendah, defisit transaksi berjalan yang terkendali, dan nilai tukar yang relatif stabil. Ketahanan ekonomi ini diyakini mampu menjaga perekonomian Indonesia terhadap dampak hasil referendum di Inggris.

“Di pasar keuangan domestik, di tengah terjadinya pelemahan di pasar uang Eropa dan Asia, nilai tukar Rupiah relatif stabil,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Minggu (26/6).

Seperti dihimpun dari beberapa media terkenal mancanegara, Dolar Amerika Serikat (USD) setara Rp 13.375. Pasar saham Indonesia juga mengalami koreksi relatif terbatas, terutama apabila dibandingkan dengan negara-negara peers seperti India, Thailand dan Korea Selatan. IHSG pada penutupan perdagangan Jumat kemarin terkoreksi hanya 0,82%.

Terhadap jalur perdagangan, dampak Brexit juga diyakini relatif terbatas. Pangsa ekspor Indonesia ke Inggris hanya sekitar 1% dari total ekspor Indonesia.

Hal yang harus dicermati adalah dampak lanjutan dari terganggunya hubungan perdagangan UK-Eropa, mengingat pangsa ekspor Indonesia ke Eropa (di luar Inggris) mencapai 11,4% (tahun 2015).

Sebagian besar ekspor Indonesia ke Eropa adalah bahan baku dan mentah. Sementara itu, dampak pada kinerja investasi di Indonesia juga diprediksi terbatas. Dalam lima tahun terakhir, pangsa penanaman modal asing langsung dari Inggris terhadap total penanaman modal asing di Indonesia tercatat di bawah 10%.

“Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati potensi risiko yang muncul dari hasil referendum di Inggris. Bank Indonesia akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah untuk memonitor perkembangan perekonomian global, serta tetap mendukung langkah-langkah Pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui penguatan stimulus pertumbuhan dan percepatan implementasi reformasi struktural,” tuturnya.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button