Di GWBN 2017, ASITA Perkenalkan ASITA Go
Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) ikut ambil bagian dalam pameran Gebyar Wisata dan BudayaNusantara (GWBN) 2017 yang berlangsung di Hall A, Jakarta Convention Center, JCC, Senayan Jakarta pada 11-14 Mei 2017. Kali ini ASITA memperkenalkan produk teranyarnya yakni ASITA Go.
Meski belum resmi diluncurkan secara keseluruhan, produk berbasis aplikasi wisata ini sudah diperkenalkan oleh ASITA diberbagai daerah. Ajang memperkenalkan aplikasi ini, dilakukan saat digelarnya kegiatan ASITA di daerah seperti rapat kerja daerah (rakerda) di Bandung beberapa waktu lalu. Rencananya jika tidak ada halangan, ASITA Go akan resmi diluncurkan usai lebaran.
“Sebenarnya sekarang sudah, misalnya kemarin di rakerda Bandung, kita sudah mempresentasikan, kemudian di Palembang, Medan nah kemudian besok di Padang ada acara dari Kementerian. Kita ada launching tapi nanti secara keseluruhan di grand launchingnya itu setelah habis lebaran,” kata Sekjen ASITA, N Rusmiati saat ditemui di b0oth ASITA, Jumat, 12 Mei 2017.
ASITA Go ini memiliki fitur lengkap sesuai dengan kebutuhan traveller, mulai dari booking tiket penerbangan hingga tempat penginapan tersedia di aplikasi ini. Selain itu, ASITA Go juga menyediakan paket perjalanan perorangan yang harganya juga cukup miring.
Rusmiati mengaku perlu waktu yang tidak sebentar untuk membuat aplikasi ini, karena ASITA ingin ASITA Go benar-benar sempurna saat diperkenalkan oleh masyarakat.
“Kita membuat ini tidak sebentar sampai supaya bagus. Terus hampir mencapai tiga tahun lebih Sebenarnya buat kita simple tapi kita mau bagus sekali, karena ASITA Go setelah dilaunching tidak ada lagi kekurangan, ungkap pemilik PT.PATHINDO PERMAI Tours and Travel ini.
Menurut Rusmiati, kehadiran ASITA Go tidak akan mematikan aplikasi yang dimiliki agen perjalanan yang menjadi anggota ASITA. Justru ASITA Go membantu anggotanya, baik yang telah memiliki aplikasi maupun yang belum memiliki aplikasi travel.
“Yang belum punya kita membantu travel agen yang belum punya online karena pemerintah terutama Kementerian Pariwisata ingin menyatakan kita harus melek teknologi,” tutup Rusmiati.

