Ditangan Azwar Anas, Pertumbuhan Pariwisata di Banyuwangi Tumbuh Pesat

0
bupati-anas-banyuwangi_20170807_173139

Fokus untuk mengembangkan pariwisata merupakan salah satu konsep kerja yang dilakukan Bupati Banyuwangi  Abdullah Azwar  Anas sejak dipercayakan memimpin Banyuwangi sejak tahun 2010. Benar saja, konsep yang dijalankan Anas, membuahkan hasil.

Pertumbuhan pariwisata di Banyuwangi kini  semakin pesat. Wajar saja, jika  Banyuwangi didaulat  sebagai rujukan wisata baru bagi para wisatawan.

Destinasi-destinasi wisata diperbarui oleh Ana, bahkan tak sedikit Banyuwangi melahirkan destinasi baru yang bikin wisatawan jatuh cinta. Nilai budaya dan kearifan lokal Banyuwangi tak pernah dikesampingkan   Anas dalam membangun pariwisata.

Masyarakat pun diajak untuk terlibat langsung membangun pariwisata. Tak sekedar membangun, namun dari hasil gotong royong itu, masyarakat dapat merasakan manfaatnya dari sektor pariwisata.

Contohnya  desa di Banyuwangi, yang  ditata  menjadi desa wisata. Destinasi itu, kini semakin tersohor di mata wisatawan. Itu semua berkat, kerjasama antara Pemerintah Daerah, pemangku kepentingan dan masyarakat.

“Kami semua sepakat jika pariwisata menjadi payung pembangunan daerah. Untuk itu sengaja kami dorong masyarakat untuk terlibat penuh, tidak hanya sebatas menjadi penonton. Banyak festival di Banyuwangi yang berbasis adat, lahir dari dan muncul dari inisiatif masyarakat. Pemerintah hanya sebagai fasilitator. Jadilah festival spektakuler yang mendatangkan ribuan orang, menggerakkan ekonomi rakyat secara langsung,” ujar Anas dalam siaran tertulis, Rabu, 24 Oktober 2018.

Anas menyebut kemampuan pengembangan pariwisata akan menimbulkan multiplier effect. Perkembangan pariwisata akan sejalan dengan pertumbuhan fasilitas pendukung pada konsep pariwisata. Dengan pesatnya pertumbuhan pariwisata, maka kemunculan penginapan dan beberapa fasilitas pendukung lainnya bisa membawa pemasukan bagi pemda setempat.

Hasilnya, pertumbuhan ekonomi Banyuwangi terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2016 pertumbuhan ekonomi Banyuwangi sebesar 6,01 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari Provinsi Jawa Timur dan nasional.

“Rapor pariwisata Banyuwangi saat ini sangat positif. Dan ini buah kerja bersama dari semua elemen di Banyuwangi. Dalam beberapa tahun terakhir, kami sangat fokus mendorong sektor pariwisata. Hasil positif yang didapat pun sangat luar biasa,” ujar Anas.

Benar-benar multi efect, semuanya terkena imbas positifnya, sebut saja pengangguran terbuka yang turun  50%. Tingkat pengangguran berada di angka 3,07%. Padahal, direntang 2010-an, angka pengangguran terbuka masih ada di angka 6%. Bagaimana kemiskinan? Problem ini ada di angka 8,64%, padahal 8 tahun lalu 20,09%.

Catatan positif pun terus berlanjut. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Banyuwangi naik 115,4%. Angka riilnya saat ini ada di Rp69,9 Triliun. Kenaikan juga dialami pendapatan perkapitanya. Angkanya ada Rp43,65 Juta pada 2018, padahal 2010 masih Rp20,8 Juta. Perkapita ini naik 109%. “Dari pariwisata ini bisa menarik sektor lain untuk maju. Sebab, kuncinya tetap pergerakan wiatawan,” tegas Anas.

Menjadi pemicu pertumbuhan perekonomian, pergerakan wisatawan milik Banyuwangi tinggi. Jumlah arus masuk wisman tumbuh 691% dan ada di level 98.970 orang. Padahal, pada 2010 angkanya hanya 12.500 orang. Untuk arus wisnus tumbuh 10.639% atau 4,83 Juta orang di 2018. Jalur udara pun tumbuh 4.144% dan berada di angka 332.550 orang. Padahal, 2010 angka penumpang berada di 7.835 orang.

Tingginya angka kunjungan wisatawan tentu menjadi berkah. Sebab, para wisatawan ini mengeluarkan uangnya untuk menikmati berbagai fasilitas di Banyuwangi. Rata-rata wisman memiliki kemampuan spending hingga Rp2,7 Juta per trip. Sedangkan Wisnus rata-rata spendingnya sekitar Rp1,543 Juta. Spending para wisatawan ini pun menghadirkan perputaran sekitar Rp7,7 Triliun per tahun.

“Perputaran uang di Banyuwangi saat ini sangat menjanjikan. Lagi-lagi yang menikmati hasil secara langsung adalah masyarakat. Banyuwangi ini bisa digunakan model bagaimana membangun pariwisata yang ideal. Mereka berhasil mengatasi berbagai problem yang muncul sebelumnya,” terang Plt Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementrian Pariwisata RI Ni Wayan Giri Adnyani.

Tumbuh dengan postur besar, pariwisata sudah menjadi penyumbang terbesar PDRB dalam tiga tahun terakhir. Rata-rata pariwisata memberikan kontribusi sebesar 10,3%.

Pada 2016, kontribusi pariwisata terhadap PDRB sebesar 9,5% dari Rp66,3 Triliun. Angka fantastis sebesar 11,07% dari Rp60,18 Triliun pun dibukukan pada 2015. Prosentasi ini jadi donatur terbesar pariwisata dalam 6 tahun terakhir.

“Kalau pariwisata maju, otomatis semua akan mengikuti. Porsi sumbangsihnya terhadap daerah juga akan positif,” ujar Giri Adnyani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *