Indonesia Dorong Akses Ekspor Komoditas Pertanian dan Farmasi ke Ukraina

0
skb ri - ukraina

Indonesia mendorong akses pasar bagi komoditas pertanian Indonesia dan produk farmasi ke Ukraina,” ujar Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kemlu RI, M. Anshor, pada Sidang Komisi Bersama (SKB) Ke-3 Kerja Sama Ekonomi dan Teknik RI-Ukraina di Kyiv, 21-22 Februari 2018, bersama mitranya dari Kementerian Ekonomi dan Perdagangan Ukraina.

Dirjen M. Anshor, menegaskan bahwa Pemerintah memiliki tugas guna memastikan ekosistem yang menunjang atmosfir kerja sama bilateral berjalan dengan baik, baik ditingkat pemerintah maupun dunia bisnis dan kerja sama ekonomi, sebagai bagian dari implementasi diplomasi ekonomi Kementerian Luar Negeri RI. Selanjutnya disampaikan bahwa SKB telah menyusun langkah untuk fasilitasi dan tingkatkan interaksi bisnis antar pengusaha kedua negara.

Kedua negara juga sepakat gunakan momentum ini untuk mengembalikan total perdagangan ke nilai lebih dari 1 milyar dollar AS seperti diraih kedua negara pada tahun 2012-2013 dibanding akhir-akhir ini berkisar lebih dari 600 juta dollar AS.

Dirjen M. Anshor yang mengetuai delegasi RI pada SKB juga mengadakan konsultasi bilateral bidang politik dengan mitra Kementerian Luar Negeri Ukraina dalam Forum Konsultasi Bilateral (FKB) ke-2 back to back dengan SKB tersebut, 22 Februari 2018 yang membahas berbagai isu bilateral, regional dan multilateral yang menjadi kepentingan kedua negara. ​

Komoditas pertanian seperti buah-buahan tropis Indonesia sangat dibutuhkan pasar Ukraina dan perlu bagi Indonesia untuk mengurangi deficit neraca perdagangan terhadap Ukraina yang didominasi perdagangan gandum Ukraina. Untuk itu, Kementerian Pertanian kedua negara akan menindaklanjuti dengan penandatanganan protokol mengenai persyaratan phytosanitary ekspor gandum Ukraina ke Indonesia, dan ekspor buah tropis Indonesia ke Ukraina yang dijadwalkan April 2018 di Kyiv, Ukraina.

SKB RI-Ukraina juga membahas inisiatif kerja sama baru kepada Ukraina, antara lain: bidang pemeliharaan pesawat melalui Garuda Maintenance Facility, kerjasama industri penerbangan  (PT. Dirgantara Indonesia), investasi pengembangan sektor pariwisata di 10 destinasi turis (10 New Bali), dan investasi industri komoditi kakao di Sumatra dan Sulawesi.

Kedua negara juga mendorong kerja sama antara  Institute Teknologi Bandung (ITB) dan Science and Technology Center in Ukraine (SCTU) yang Memorandum of Understanding (MoU) di bidang pertukaran informasi ilmu pengetahuan dan teknologi di tandatangani pada saat SKB te`rmaksud. Kedua pihak sepakat akan mengadakan joint working group untuk membahas ragam bahasan kerjasama antara lain: antariksa dan aeronotika, bioteknologi, kimia, studi lingkungan, ilmu pertanian dan kesehatan, energi nuklir, riset kemaritiman dan sebagainya.

Untuk melengkapi SKB, telah diselenggarakan kegiatan “Forum Bisnis RI-Ukraina” dan b-to-b meeting pada 21 Februari 2018 atas kerja sama Kedutaan Besar RI di Kyiv dan KADIN Ukraina dengan menyertakan perusahaan/ pelaku bisnis bidang farmasi (PT Mersifarma) dan bidang IT minyak dan gas (PT. Sukolilo Surya Indah), dan dihadiri sekitar 27 pelaku bisnis Ukraina.

PT Mersifarma mencapai kesepakatan awal dengan beberapa distributor dan perusahaan farmasi setempat untuk menjajaki masuknya ragam produk obat generik untuk dipasarkan ke Ukraina, termasuk intensi pendirian pabrik farmasi di Indonesia. Ukraina menilai industri farmasi Indonesia telah memenuhi standard good manufacturing practice(GMP) yang diakui di Ukraina. Sementara kerja sama juga dikembangkan PT. Sukolilo Surya Indah dengan perusahaan Technotrade Ukraina untuk kerja sama pengembangan sistem digitalisasi distribusi BBM di Indonesia ke pasar/konsumen secara terintegrasi, dan dengan perusahaan SDS untuk membuka sekolah vocational (kejuruan) IT di Indonesia.

Ukraina merupakan negara mitra utama perdagangan RI ke-2 di kawasan Eropa Timur (setelah Rusia). Periode Januari-November 2017, nilai perdagangan tercatat sebesar USD 683,07 juta dibanding periode yang sama tahun 2016 yaitu USD 774,52 juta. Bahkan pada tahun 2016 tercatat USD 873 juta dan tahun 2015 USD 526,9 juta. Nilai perdagangan tersebut masih belum mencerminkan potensi sesungguhnya. Dalam lima tahun terakhir, Indonesia mengalami defisit nilai perdagangan yang disebabkan dominasi impor gandum Ukraina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *