Indonesia Heritage Walk di Kawasan Kota Tua Mendapat Respon Positif

0
20140419_094617

ASITA, perwakilan ASEAN, akademisi dan wisatawan mancangera dari Malaysia, Hongkong dan Finlandia  semuanya satu jawaban yang sama yakni terkesan dengan Program wisata gratis walking tour Indonesia Heritage Walk yang digelar pada hari Minggu, 27 Agustus 2017.  Mereka sungguh menikmati saat diajak keliling kawasan Kota Tua, Jakarta.

Wajah senang  ditunjukan  oleh mereka selama  tour berlangsung . Semua terkesima oleh kekayaan heritage Kota Tua Jakarta, sebuah destinasi yang sedang disiapkan menjadi ’10 Bali Baru’ itu.

Hasilnya? Seluruh peserta yang didominasi wisatawan mancanegara Itu mengaku happyProgram yang digarap keroyokan antara Kementerian Pariwisata berkolaborasi dengan Komunitas lokal Kota tua, SEATGA (South East Asia Tourist Guide Association), PT Bituris Wisata Indonesia, langsung mendapat banyak acungan jempol dari undangan yang hadir.

“Banyak pujian yang datang. Itu dikarenakan kawasan Kota Tua Jakarta tidak hanya memiliki keindahan arsitektur bangunan sisa kolonial Belanda saja. Tapi juga menyuguhkan kekayaan sejarah berdirinya kota Batavia sebagai cikal bakal kota Jakarta. Dulunya bahkan menjadi kota perdagangan dunia,” kata Esthy Reko Astuti, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar, saat didampingi Hidayat, Kepala Bidang Penguatan Jejaring Asdep Bisnis dan Pemerintah Kemenpar, Selasa 29 Agustus 2017.

Sebenarnya  walking tour  ini merupakan paket wisata tematik dan yang disuguhkan pada hari Minggu itu belum digarap secara seirus, ternyata hasilnya luar biasa. Respon positif banyak mengalir terhadap paket wisata ini.

“Sekarang kita coba create kualitas produk wisatanya. Selain untuk menyambut Asian Games 2018, juga untuk turis asing yang datang ke sini. Jadi walking tour disajikan sepenuhnya dalam bahasa Inggris,” lanjut Esthy diamini Hidayat.

Kepala Bidang Penguatan Jejaring Asdep Bisnis dan Pemerintah Kemenpar Hidayat memaparkan kegiatan yang dijalani dari awal hingga akhir walking tour ini berlangsung yakni diawali dengan  menonton pertunjukan film di Museum Mandiri.

Film yang ditayangkan berisi perjalanan bangsa Portugis dan Belanda menuju nusantara dalam mencari rempah-rempah. Setelah itu, para peserta Tour kemudian diajak mengelilingi gedung Museum ini yang dahulunya merupakan gedung Nederlandsche Handel Maatschappaij (NHM) sebuah Serikat dagang Belanda setelah runtuhnya VOC.

“Dari situ kita lanjut menyusuri Kalibesar yang saat ini tengah direvitalisasi. Kita tunjukkan peran penting sungai dan kanal ini di zaman Belanda sebagai jalur distribusi pengangkutan barang-barang yang baru diturunkan dari kapal yang bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Kebetulan saat ini di sepanjang sungai Kalibesar masih banyak gedung-gedung tua yang masih berfungsi sebagai kantor,” ujar Hidayat.

Setelah itu, para peserta diajak untuk menikmati Kopi, salah satu satu kekayaan komoditi asli Indonesia. Kopi ini juga sekaligus sebagai promosi minuman Indonesia yang diperkenalkan kepada dunia bersama soto.

“Kita ajak menyeduh Kopi di kedai Kopi Aroma Nusantara. Ini  upaya mengenalkan sejarah Kopi dari tanah Jawa yang sempat menguasai pasar dunia berabad silam. Dulu sempat dikenal dengan istilah ‘a cup of Java’.  Di sini para peserta Tour bisa menikmati berbagai jenis kopi mulai dari Aceh Gayo hingga kopi Papua,” ujarnya.

Kemudian perjalanan berikutnya melihat pertunjukan seni beladiri pencak silat Cakrabuana dan gendang rampak di Taman Fatahillah. Seni Pencak silat merupakan tradisi turun temurun yang masih eksis di kawasan Kota Tua, peserta pun diajak untuk berinteraksi dengan mencoba beberapa jurus dasar silat syahbandar yang merupakan ciri khas silat Sunda Cakrabuana dan juga belajar pukulan gendang rampak.

Rangkaian Tour ini diakhiri dengan demo masak kuliner khas Betawi nyaitu Sayur Babanci yang menggunakan 21 jenis rempah-rempah kita nusantara.

“Ini makanan khas Betawi yang sudah sangat jarang ditemui belakangan ini. Peserta kita ajak untuk terlibat langsung dalam proses memasak Sayur Babanci mulai dari pengenalan bumbu hingga proses memasaknya.

Sambil menikmati santap malam peserta dihibur dengan pertunjukan musik khas tempo dulu lewat alunan nada akordeon dan biola. Nuansa tempo dulu akan sangat terasa,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *