Kabupaten Sleman Berpartisipasi Mendorong Pertumbuhan Homestay di Indonesia

0
rsz_sleman

Rakornas Kepariwisataan II yang diselenggarakan 18-19 Mei 2017 lalu mengenai Homestay Desa Wisata terus menyebar ke berbagai penjuru. Hal ini membakar semangat daerah lainnya untuk memperkuat Desa Wisata nya masing-masing. Apalagi beberapa daerah sempat mendapat penghargaan dalam Desa Wisata Award dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).

Salah satunya yang semakin bersemangat adalah kabupaten Sleman Jogjakarta yang dipimpin Bupati Sri Purnomo. Sri mengatakan bahwa akan berusaha mendorong pertumbuhan homestay untuk memenuhi akomodasi pariwisata. Sempat disinggung oleh Purnomo pada Sosialisasi Kebijakan Kemenpar di Sheraton Mustika Jogjakarta.

“Sleman akan terus mendorong Homestay Desa Wisata, karena sudah dikeluarkan moratorium hotel hingga 2021 mendatang. Jadi tidak akan ada hotel baru sampai 2021. Yang ada homestay desa wisata,” ujar Purnomo.

Hal tersebut juga diperkuat oleh Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman Sudarningsih pada  Minggu 28 Mei 2017 lalu.

“Untuk memenuhi akomodasi wisatawan, saat ini kami sedang mengembangkan homestay di desa-desa wisata,” ujar Sudarningsih.

Untuk saat ini, Sleman telah memiliki sekitar 300 unit homestay dan tersebar di berbagai desa wisata yang ada di Sleman. Contohnya di Desa Wisata Pentingsari terdapat 50 unit homestay. Tentunya hal ini mendukung pencapaian target pariwisata nasional yaitu 20 ribu homestay desa wisata tahun 2017 dan 20 juta wisatawan pada 2020.

Nantinya untuk mengembangkan desa wisata Dispar Sleman menyelenggarakan kegiatan Travel Dialog yang diperuntukan bagi para pelajar dengan tujuan memberikan ketertarikan bagi pelajar untuk mengunjungi desa wisata setempat.

“Belum lama ini sudah ada 200 sampai 300 pelajar yang ingin belajar di desa wisata. Di desa wisata para pelajar bisa belajar mengenai budaya dan keseharian masyarakat desa,” tambah Sudarningsih.

Sudarningsih mengatakan di Sleman sudah terdapat 31 desa wisata yang tersebar di 17 kecamatan. Untuk keseluruhan desa wisata tersebut terdapat berbagai pilihan pariwisata yang beragam seperti agrowisata, budaya, hingga pesona alam.

“Peningkatan kunjungan ke desa wisata akan berdampak baik bagi distribusi pendapatan masyarakat. Pasalnya desa wisata memiliki potensi ekonomi yang cukup besar. Bahkan tahun lalu Desa Pentingsari mampu mencetak transaksi senilai Rp 2 miliar,” papar Sudarningsih.

Semakin mencuatnya isu homestay desa wisata apalagi ketika Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya sudah menetapkan homestay desa wisata sebagai unggulan ketiga dalam prioritas kerja Kemenpar. Dengan adanya desa wisata akan menjadi atraksi wisatawan yang berkunjung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *