Kemenpar dan ASITA Perkuat Pasar ASEAN dan Domestik Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah

0
DSC02837

Meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi perhatian serius Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Dalam pernyataan yang disampaikan di sela-sela pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ASITA 2025 di Jakarta, Selasa (24/6/2025), Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf, Ni Made Ayu Marthini, menegaskan bahwa pemerintah sedang mengarahkan strategi pariwisata nasional untuk mengurangi ketergantungan pada pasar Timur Tengah dan memperkuat penetrasi di pasar regional, terutama Asia Tenggara.

“Adanya eskalasi dan situasi yang memanas di Timur Tengah tentu berdampak terhadap pergerakan wisatawan global. Untuk itu, strategi kami saat ini adalah mengandalkan pasar lokal dan regional, terutama ASEAN,” ujar Ni Made Ayu.

Sebagai salah satu implementasi nyata dari strategi tersebut, Kemenparekraf telah meluncurkan inisiatif baru bertajuk “Batam Bintan Welcome You” yang menyasar wisatawan dari Singapura dan negara-negara tetangga.

Program ini hadir dalam bentuk paket wisata bundling, yang menggabungkan berbagai elemen wisata seperti tiket ferry, penginapan, restoran, spa, golf, dan aktivitas rekreasi lainnya dalam satu harga menarik.

“Kalau wisatawan menyebrang sendiri dari Singapura ke Bintan, harga ferry-nya bisa mahal. Tapi kalau dibundling, dengan hotel, makan, spa, dan golf—maka nilainya jadi jauh lebih menarik. Ini juga mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama,” jelasnya.

Kemenparekraf, kata Ni Made Ayu, tidak berjalan sendiri. Pemerintah menggandeng sejumlah maskapai penerbangan dan agen perjalanan dari luar negeri untuk ikut mempromosikan dan menjual paket-paket tersebut.

“Kami bekerja sama erat dengan airlines dan travel agent, baik dari Australia maupun ASEAN, agar promosi ini tepat sasaran dan terdistribusi secara luas. Mereka punya jaringan dan pengaruh besar terhadap keputusan perjalanan wisatawan,” tambahnya.

Sementara itu,  Sekretaris Jenderal DPP ASITA, Budijanto Ardiansjah, menyampaikan pentingnya langkah mitigasi yang terencana dan pemanfaatan situasi ini sebagai peluang strategis untuk memposisikan Indonesia sebagai destinasi alternatif yang aman dan menarik bagi wisatawan internasional.

Menurut Budijanto, ASITA melihat krisis global bukan semata-mata sebagai hambatan, melainkan juga sebagai peluang untuk merebut kembali minat wisatawan asing yang mungkin batal berkunjung ke negara-negara terdampak konflik.

“Bukan berarti kita menari di atas penderitaan orang lain, tentu bukan itu. Tapi ini bisa menjadi satu opportunity, saat negara lain tidak aman untuk dikunjungi, Indonesia bisa tampil sebagai destinasi yang bisa mereka pilih,” tegasnya.

Budijanto mengungkapkan ASITA  telah mengambil langkah untuk menjalin komunikasi aktif dengan para mitra di luar negeri, khususnya agen perjalanan dan pelaku industri pariwisata mancanegara. Tujuannya adalah menyampaikan pesan bahwa Indonesia adalah negara yang aman dan siap menyambut wisatawan dengan tangan terbuka.

“Kita perlu memberikan informasi dan pemahaman kepada partner kita di luar negeri bahwa Indonesia itu aman. Jika ada negara lain yang mungkin dinilai kurang aman oleh calon wisatawan, kami ingin mereka mempertimbangkan untuk datang ke Indonesia. Better come to Indonesia,” jelasnya.

Selain menyasar pasar internasional, ASITA juga menekankan pentingnya memperkuat pasar domestik yang terbukti menjadi tulang punggung industri pariwisata saat terjadi krisis global, seperti saat pandemi COVID-19.

“Kita tak boleh lupa, pada saat pandemi, justru kekuatan pasar domestiklah yang membuat industri kita tetap bertahan. Negara lain jatuh, tapi kita bisa bertahan karena masyarakat Indonesia masih mau dan mampu berwisata di dalam negeri,” ujar Budijanto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *