Business

Ketoprak Juragan – Ubah Makanan Favorit Jadi Tumpukan Duit

 

Menggeluti bisnis dari makanan favorit ternyata bisa meraup keuntungan menyenangkan. Meski, memang tak segampang membalik tangan. Bagaimana Ahmed membuka bisnis dari makanan ketoprak yang disukainya? Simak perjalanan usahanya.

IMG_0034

Sejak kecil, Ahmed penggila makanan yang khas dengan lontong dan sambel kacang, yang di Surabaya disebut tahu telor. Ia biasa berkeliling kota kelahirannya di Surabaya hanya untuk mencari makanan favoritnya itu. “Tahun 2000, aku pindah ke Jakarta. Di sini aku menemukan ketoprak yang rasanya juga berasal dari lontong dan sambel kacang itu. Wah, enak banget. Aku merasa cocok sekali. Karena senengnya, aku mulai mencoba menu itu di sejumlah tempat.  Mulai dari pinggiran jalan, sampai mall, aku sudah cobain macam-macam rasa ketoprak. Di tahun 2005, aku mulai kepikir untuk memulai usaha jualan ketoprak,” ungkap pria kelahiran Surabaya 7 Juli 1970 ini.

“Dari pengamatanku, tidak ada desain booth ketoprak yang berbeda. Lalu, kebanyakan penyajiannya kurang higienis, misalnya piring bekas pakai asal saja disiram, tidak dicuci dengan benar. Terus yang lebih utama, bagaimana kita bisa membagi kecintaan usaha ketoprak ini, kepada orang lain yang mungkin tertarik berjualan juga. Aku mengalami sendiri, ketika ada pedagang ketoprak yang jualannya lezat, ketika aku ajak untuk bermitra agar berkembang, mereka semua menolak. Padahal jika mereka mau mencoba system kemitraan atau kerjasama, usahanya akan lebih berkembang lagi.” ungkap Ahmed.

Ditentang orang-orang dekat

Tak ada bisnis tanpa hambatan. Dan hambatan untuk membangun bisnis terkadang datang memang dari orang-orang terdekat. Begitu pula dengan Ahmed. Niatan untuk membuat usaha ketoprak dengan budget Rp. 50 juta, dianggap hal yang mubazir. “Banyak yang nanya, bikin ketoprak aja kok sampai Rp. 50 juta? Nah, hampir semua orang di sekeliling saya kurang setuju. Ya teman, saudara, orangtua,” kenangnya.

Bahkan hampir semua berpendapat sama, asal rasa ketopraknya enak, ya pasti jualannya laku ! “Mereka nggak memahami apa yang aku pikirk. Aku ingin membuat bisnis kemitraan  dengan orang lain. Jadi, memang butuh biaya besar. Kalau dihitung booth outdoor yang bagus itu harganya hingga 10-15 jutaan rupiah. Belum lagi booth indoornya. Terus alat promosi seperti banner, SOP, perlengkapan masak, bahan baku, dan lain-lain,” ujarnya.

Ahmed akhirnya membuka usahanya, dengan label Ketoprak Juragan pada 24 Juni 2011 di depat apotik, seberang RS Fatmawati. Menu andalannya adalah Ketoprak telor dan Tahu telor. “Juragan ini adalah sebutan untuk pelanggan yang punya selera ingin menikmati jajanan rakyat yang sehat dengan kelas yang berbeda. Menu Ketoprak Juragan dijual  dengan harga Rp. 12.000 / porsi,” bebernya.

Tahu telor memang menu khas Surabaya, yang snegaja diperkenalkan Ahmed ke Jakarta. Bedanya di Surabaya bumbunya menggunakan petis, tetapi kalau di Jakarta, ditiadakan. “Alhamdulillah respons untuk menu kedua itu lumayan bagus. Pernah ada pesanan sampai 50 porsi dalam 1 hari, hanya untuk tahu telor saja, Awalnya itu aku berjualan sendiri, dan hanya dibantu 1 karyawan. Di hari pertama, daganganku laku 19 porsi. Hari kedua meningkat 30 porsi. Seiring berjalannya waktu, aku bisa menjual 250 porsi dalam sehari,” jelas Ahmed.

Omset menurun karena pindah

Dalam berjualan, Ahmed juga pernah punya pengalaman pahit menghadapi pelanggan. “Waktu itu ada pembeli seorang ibu, Begitu pesanannya disajikan, ia makan. Tapi baru 1 suap, ketopraknya langsung dilempar. Dia marah-marah, katanya menunya asin banget. Rupanya dia penderita tekanan darah tinggi dan nggak boleh makan asin. Padahal, menunya juga sama dengan yang aku sipakan untuk yang lain,” kenangnya.

Dengan meningkatnya pelanggan, Ahmed tergerak untuk mengubah pola penyajian agar waktu pennyajian lebih cepat namun rasa yang diinginkan pelanggan terpenuhi semua. “Sekarang bumbu sudah rapi diolah dalam bentuk siap saji. Ada bumbu pedas, bumbu manis, asin dan sebagainya. Dengan sistem ini, para mitra akan lebih mudah dalam menyajikan ketoprak. Tidak perlu mengulek lagi dan takarannya pasti sama enaknya,” kata Ahmed.

Mengalami kerugian, memang acap terjadi dalam setiap  bisnis. Begitu juga yang dialami Ahmed. “Ketika jalan 1 tahun, pemilik ruko tempat aku berjualan, minta aku untuk pindah karena dianggap mengganggu. Padahal kita juga selalu menjaga kebersihan, mengikuti aturan, dan sebagainya. Namun, karena mereka meminta untuk pindah, ya akhirnya dengan berat, aku pindah ke jl. Cipete Raya no 7. Omset langsung menurun, tadinya 200 porsi sehari, jadi 20 porsi. Aku lalu menggenjot dengan  promo lagi. Alhamdulillah dari hari ke hari  terus membaik dan omzet kembali seperti semula. Menghadapi masalah seperti itu, tidak usah galau, yang penting bagaimana kita tetap berusaha bangun setelah terjatuh,” jelasnya.

IMG_0038

Tingkatkan pelayanan

Demi menjadikan produknya sebagai jajanan sehat, Ahmed juga menggunakan bahan baku organik. “Bahan baku seperti kacang dan sayuran, memang kita beli yang organik. Memasaknya pun tanpa MSG. Hal yang membedakan dari Ketoprak Juragan adalah bumbu kacangnya lebih kental dan gurih,” promosinya.

Untuk meningkatkan pelayanan, Ketoprak Juragan sudah membuka layanan Mobile Selling. “Mobile Selling itu adalah kita jualan dengan motor. Jadi bukan delivery. Adanya Mobile Selling di BSD. Kalau untuk delivery, kita baru wilayah Jakarta Selatan saja,” ungkapnya.

Menurut Ahmed, banyak hikmah yang didapat meski ia baru pindah tempat. “Alhamdulillah, banyak artis yang makan di sini, misalnya saja Nunung OVJ, Ruben, Piyu, dan masih banyak lagi,” jelasnya.

Untuk mengembangkan usaha, Ahmed telah membuka kemitraan untuk Ketoprak juragan. “Kita ada paket Rp. 15 juta, yang akan dapat box 5000 pcs, booth untuk indoor, bahan baku, perlengkapan masak komplit, dan promosi. Untuk paket Rp. 25 juta, ditambah perlengkapan mobile selling. Kalau yang Rp. 50 juta, itu mendapat booth indoor, outdoor, dan perlengkapan mobile selling,” bebernya.

Ke depan Ahmed berharap bisa mengeluarkan menu-menu baru seperti ketoprak empal, ketoprak sosis, ketoprak jamur, dan lain-lain. Agar bisnis berjalan mulus, Ahmed berbagi tips. “Yang penting dimulai dari kesenangan hati. Jadi bisnis yang dijalani akan punya jiwa. Jangan mikirin untung dulu, karena itu bisa menyebabkan masalah. Kalau ngejalaninya dengan rasa senang dan nyaman, pasti bisnisnya jalan. Tapi kalau bisnis karena ikut-ikutan  sekali dia merugi, maka akan terasa seperti hantaman yang besar. Ini akan sulit untuk bangun lagi,” tutupnya. (Ade)

 

 


http://www.facebook.com/ketoprak.juragan

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button