Ketum PSMTI Wilianto Tanta Apresiasi Penetapan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional, Simbol Keadilan dan Toleransi untuk Semua

Ketua Umum Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Pusat, Wilianto Tanta, menyambut dengan penuh apresiasi keputusan Presiden Prabowo Subianto yang menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Bagi Wilianto, keputusan tersebut bukan sekadar penghargaan negara, melainkan bentuk pengakuan atas jasa besar seorang tokoh yang telah memperjuangkan kesetaraan, toleransi, dan kemanusiaan tanpa batas.
“Keputusan Presiden Prabowo sangat tepat. Gus Dur memperjuangkan kesetaraan dan toleransi tanpa batas. Kami di PSMTI merasa sangat berterima kasih,” ujar Wilianto
Menurutnya, keputusan tersebut bukan sekadar seremoni kenegaraan, melainkan momen bersejarah yang menjadi pengingat bahwa perjuangan Gus Dur dalam menegakkan keadilan dan kemanusiaan masih terus hidup hingga kini. Ia menilai, apa yang dilakukan Gus Dur puluhan tahun lalu telah membentuk fondasi penting bagi kehidupan berbangsa yang lebih terbuka dan setara.
Nama Gus Dur bagi masyarakat Tionghoa memiliki makna yang istimewa. Ia adalah presiden yang dengan keberanian dan ketulusan mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, aturan yang selama lebih dari tiga dekade membatasi ekspresi budaya Tionghoa di Indonesia. Melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000, Gus Dur menghapus batasan tersebut dan mengembalikan hak masyarakat untuk menjalankan tradisi leluhur mereka.
Tidak hanya itu, Gus Dur juga menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional, sebuah keputusan yang mungkin tampak sederhana, tetapi memiliki makna simbolis yang luar biasa yakni pengakuan atas keberagaman dan penghormatan terhadap kebudayaan.
“Langkah-langkah Gus Dur membuka babak baru dalam kehidupan bangsa. Semua warga negara kembali memiliki ruang yang sama. Pengakuan negara atas jasanya kini menjadi bukti bahwa kebaikan tidak pernah sia-sia,” kata pengusaha sukses asal Makassar ini.
Wilianto menilai penetapan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo merupakan wujud nyata bahwa nilai-nilai pluralisme, persaudaraan, dan kemanusiaan masih dijaga dengan teguh. Ia menyebut keputusan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok yang tidak hanya menjadi pemimpin, tetapi juga penjaga moral bangsa.
“Gus Dur berjasa bagi semua kalangan. Ia menjembatani perbedaan dan melindungi mereka yang lemah. Semangat itu harus terus dijaga agar bangsa ini tidak kehilangan arah,” tegasnya.
Menurut Wilianto, di tengah dinamika zaman yang semakin kompleks, warisan pemikiran Gus Dur menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi persatuan dalam keberagaman. Keteladanannya menunjukkan bahwa kemanusiaan melampaui batas agama, etnis, maupun golongan.
“Keputusan Presiden Prabowo ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan masih menjadi roh utama bangsa. Gus Dur telah menanamkan semangat persaudaraan yang harus terus kita rawat,” imbuhnya.
Di akhir pernyataannya, Wilianto mengajak masyarakat menjadikan momen ini sebagai ruang refleksi bersama. Ia berharap, semangat dan nilai-nilai perjuangan Gus Dur dapat terus hidup di hati generasi muda Indonesia yang notabenya sebagai generasi yang akan meneruskan cita-cita bangsa dengan semangat kebersamaan dan saling menghormati.
“Kami berharap semangat Gus Dur tetap menyala di hati anak muda. Keputusan Presiden Prabowo ini bukan hanya penghargaan, tetapi juga inspirasi agar persatuan bangsa tetap kokoh dan harmoni terus terjaga,” tutupnya.
Seperti diketahui Gus Dur merupakan satu dari 10 toko bangsa yang dianugerahkan gelar Pahlawan saat Hari Pahlawan di Istana Negara, pada Senin (10/11/2025)
Dalam suasana yang penuh haru dan kebanggaan, para ahli waris hadir mewakili para tokoh menerima gelar dan tanda penghormatan dari Presiden Prabowo. Kepala Negara menyerahkan secara langsung piagam dan tanda kehormatan negara kepada masing-masing ahli waris sebagai wujud penghargaan atas jasa-jasa besar yang telah diberikan oleh para pahlawan bagi bangsa dan negara.
