Kisah sukses pioner si Burung Biru

0

sttTaxi

Bagi anda yang tinggal di Jakarta untuk taksi denga nama Blue bird mungkin anda sering lihat, dengar atau anda juga pernah menggunakan jas tersebut, tapi apakah anda tahu siapa yang telah mendirikan usah jasa taksi ini ? yuk kita mengenalnya, siapa tahu kita bisa belajar sukses dari beliau. Alm. Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono. Wanita kelahiran Malang, 17 Oktober 1923 ini merengguk kesuksesan bisnis sebagai buah dari kerja keras dan perjuangan hidupnya. Selama belasan tahun menetap dan menuntut ilmu di kota Malang hingga tamat SMA, Mutiara memutuskan untuk menikah dengan Prof. Djokosoetono.

Berasal dari keluarga berada, namun pada usia 5 tahun keluarganya bangkrut. Kehidupan berubah drastis. ia kemudian meniti bangku sekolah dalam kesederhanaan luar biasa. Banyak hal yang mencirikan kesederhanaan hidup Bu Djoko semasa kecil. Makanan yang tak pernah cukup, pakaian seadanya, tak pernah ada uang jajan. Hidup betul-betul bertumpu pada kekuatan untuk tabah.

Di saat yang sulit itu ia berusaha merengkuh bahagia diantaranya banyak membaca kisah-kisah inspiratif yang diperoleh dengan meminjam. Salah satu kisah legendaris yang selalu menghiburnya adalah “Kisah Burung Biru” atau “The Bird Happiness”. Kisah tersebut dilahap berkali-kali dan selalu membakar semangatnya, penabur inspirasi dan pemacu cita-citanya. Menginjak remaja ketegaran semakin terasah. Ia bertekad memperkaya diri dengan ilmu dan kepintaran. Bu Djoko remaja menyelesaikan pendidikan HBS di tahun 30-an dan kemudian lulus Sekolah Guru Belanda atau Europese Kweekschool.

Dengan tekad yang kuat ia meninggalkan kampung halaman untuk merantau ke Jakarta. Dan berhasil masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan menumpang di rumah pamannya di Menteng. Kemudian jalan hidup membawa berkenalan dengan Djokosoetono, dosen yang mengajarnya, yang juga pendiri serta Guberbur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Hingga kemudian beliau menikah dan melahirhkan 3 anak yaitu Chandra Suharto, Mintarsih Lestiani, dan Purnomo Prawiro.

Untuk menambah penghasilan keluarga, Bu Djoko berjualan batik door to door. Tak ada gengsi, tak ada malu, tak ada rasa takut direndahkan oleh sesama isteri pejabat tinggi. Semuanya dilakukan murni sebagai kepedulian isteri untuk membantu suami mencari nafkah. Namun usaha yang telah dilakoni tidak selalu mulus karena banyak kendala yang dihadapi dan menyebabkan usah batiknya bangkrut. Kemudian beralih ke usah penjualan telur yang pada saat itu merupakan salah satu makanan yang ekslusif, namun usaha yang di jalankan tidak mulus karena pada saat itu suaminya mengalami penyakit sehingga harus masuk rumah sakit.

Penyakit Pak Djoko tak kunjung sembuh, sampai akhirnya pada tanggal 6 September 1965 beliau wafat. Tak berapa lama setelah kepergian Pak Djoko, PTIK dan PTHM memberi kabar yang cukup menghibur keluarga. Mereka mendapatkan dua buah mobil bekas, sedan Opel dan Mercedes. Adanya mobil yang didapatkan merupakan cikal bakal kesuksesan ibu Mutiara.

Awalnya usaha taksi ini bernama Chandra taksi karena mobil yang telah diserahkan tersebut sering di bawa oleh anak pertama, tapi dalam menjalankan usaha ini berawal dari yang tersulit dahulu karena awalnya usaha ini tidak mendapatkan izin usaha karena pada saat itu yang diberikan izin hanya pada kendaraan besar saja. Izin sebagai perusahaan taksi, diperoleh Mutiara era Gubernur Ali Sadikin (alm) memimpin Jakarta, pada tahun 1971. Mutiara yang tak kehabisan akal akhirnya meminta para pelanggan setia Chandra Taksi untuk merekomendasikan layanan Chandra Taksi. Akhirnya, enam tahun setelah Chandra Taksi beroperasi tepatnya pada tahun 1971, Mutiara berhasil mendapatkan izin perusahaan taksi ketika Jakarta dipimpin oleh Ali Sadikin.

Sekarang seperti yang kita ketahui Dari awal bergulirnya dengan 25 kekuatan taksi, kini Blue Bird telah memiliki lebih dari 20.000 unit armada. Kini ada 30.000 karyawan yang berkarya di kantor pusat dan cabang. Tak kurang 9 juta penumpang dalam sebulan terangkut oleh armada Blue Bird di sejumlah kota di Indonesia. Jumlah pool telah mencapai 28 titik. Armada juga terus diremajakan. Beberapa kali mengganti kendaraan dengan yang baru. Armada Silver Bird yang semula menggunakan sedan Nissan Cedric kemudian diganti dengan Mercedes di tahun 2006. Semoga cerita ini bisa menginspirasi anda. (arf)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *