Konvoi Logistik UNIFIL Dihadang Militer Israel di Lebanon Selatan

Militer Israel hadang konvoi pasukan UNIFIL yang membawa logistik di Lebanon
El John News-Pasukan penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) kembali menghadapi gangguan di lapangan saat menjalankan tugasnya di Lebanon selatan. Insiden terbaru terjadi ketika konvoi distribusi logistik menuju Naqoura dihadang oleh militer Israel di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Peristiwa tersebut diungkap oleh Wakil Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Farhan Haq. Ia menjelaskan bahwa penghadangan terjadi pada sore hari terhadap iring-iringan kendaraan yang mengangkut personel militer dan sipil UNIFIL bersama kontraktor pendukung dari Beirut menuju markas besar di Naqoura.
“Konvoi rutin yang mengangkut penjaga perdamaian militer dan sipil bersama kontraktor penting dihentikan oleh personel Pasukan Pertahanan Israel beberapa kilometer sebelum mencapai tujuannya,” ujar Farhan.
Meski kendaraan berlogo PBB akhirnya diizinkan melanjutkan perjalanan, kontraktor lokal justru diminta kembali ke Beirut dengan pengawalan keamanan. Padahal, seluruh rangkaian perjalanan telah melalui prosedur koordinasi dan persetujuan sebelumnya.
PBB menilai tindakan tersebut menunjukkan ketidaksesuaian antara kesepakatan yang telah dibuat dengan pelaksanaan di lapangan. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius terhadap kelancaran distribusi logistik penting bagi pasukan penjaga perdamaian.
Farhan Haq menegaskan bahwa hambatan terhadap konvoi UNIFIL berpotensi mengganggu pengiriman pasokan vital seperti makanan, bahan bakar, dan air, khususnya di wilayah sepanjang Garis Biru yang menjadi area sensitif antara Lebanon dan Israel.
PBB pun kembali menyerukan kepada militer Israel untuk menghormati mekanisme yang telah disepakati, termasuk menjamin keselamatan serta kebebasan bergerak bagi seluruh patroli dan konvoi logistik UNIFIL.
Lebih jauh, pihak UNIFIL menekankan bahwa insiden ini bukanlah kejadian tunggal. Dalam beberapa waktu terakhir, gangguan serupa dilaporkan berulang kali terjadi, baik dalam bentuk blokade jalan maupun pencabutan izin yang sebelumnya telah diberikan.
“Pembatasan seperti ini bukan insiden terisolasi. Berbagai hambatan, mulai dari penghalangan fisik hingga pembatalan izin, telah memengaruhi operasional penjaga perdamaian dan personel pendukung,” demikian pernyataan UNIFIL.
Situasi tersebut semakin menambah tekanan terhadap misi penjaga perdamaian PBB di Lebanon, yang selama ini berperan penting dalam menjaga stabilitas kawasan. Gangguan berulang terhadap distribusi logistik dikhawatirkan dapat berdampak langsung pada efektivitas operasi serta keselamatan personel di lapangan.
