Mengenal Seni Scannography
Scannography, mendengarnya saja mungkin sangat asing. Padahal scannography sudah ada sejak era 1800-an, yang dimulai dari teknologi sinar X hingga akhirnya tercipta mesin scan. Sejak lama seniman-seniman di Amerika dan Eropa menggunakan media scan dan menuangkannya di media datar. Namun dengan scannography, Anda diajak melihat sekeliling kita melalui sebuah cara baru.
Di Indonesia terdapat seniman yang terkenal dengan seni tersebut. Ia adalah Angki Purbandono, seniman asal Yogyakarta yang menonjol dalam seni scannography. Pada tahun 2010, ia diundang oleh Museum Seni Fukuoka di Jepang, dan di bulan September 2011 ia juga disibukan dengan kegiatan pameran di London, Inggris.
“I
ni bukan gambar dokumentasi, tetapi kadang memiliki kesamaannya. Ini juga bukan fotografi tetapi juga mereproduksi realitas yang sama seperti gambar foto,” ujar Angki
Pria kelahiran 24 September 1971 ini, merupakan jebolan sekolah Institut Kesenian Indonesia di Yogyakarta. Ia memulai melakukan karya seni scannography pada tahun 2005. Ketika itu ia tinggal di Korea selama setahun saat mendapatkan beasiswa untuk belajar di Museum Nasional Seni di Seoul. Ia melatar belakangi aliran seninya sekarang ini dengan bekal pendidikan jurusan fotografi di Institut Kesenian Yogyakarta.
Karya-karya yang dihasilkan Angki dengan scannography sangat unik. Salah satu contoh adalah karyanya berjudul Bihun Park (taman bihun) yang menggambarkan ikan paus tengah tenggelam diantara gelombang putih yang ternyata adalah sperma dari mamalia terbesar di laut tersebut. Untuk membuat gelombang putih sperma itu, Angki meletakan sejumlah bihun alias mie putih.
“Sebagai seorang seniman, aku sudah sembilan kali menggelar pameran tunggal, seperti Yogyakarta, Bali dan Jakarta. Lalu di manca negara, seperti di Seoul, Korsel, Kuala Lumpur, Malaysia, dan baru saja di Singapura,” bebernya.
Karyanya yang lain yang terinspirasi dari kunjungannya ke Fukuoka, Jepang berjudul Soldier (tentara). Angki meletakan sebuah foto lama mengenai seorang berpakaian tentara Jepang, dan di belakangnya ia meletakan boks makanan berisi ikan-ikan kering dan tempelan tulisan Jepang.


