MICT Hasilkan Kesepakatan Investasi Senilai US$ 400 Juta
Tidak sia-sia Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menggelar Kegiatan Manado International Conference on Tourism (MICT) yang gelar Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang dimulai Senin 22 Mei hingga Rabu, 24 Mei 2017. Meski menguras energi namun hasilnya memuaskan. Dalam kegiatan itu disepakati nilai bisnis yang mencapai 400 juta dolar AS atau dengan Rp 5,2 triliun (dengan asumsi kurs Rp 13 ribu per dolar AS)
Kesepakatan bisnis ini merupakan kerja sama investasi antara Penanam Modal Asing (PMA) asal Cina dengan perusahaan swasta nasional terkait pembangunan di Manado Selatan. Pembangunan tersebut mencakup hotel, apartemen, shoping mall, dan diving center senilai 200 juta dolar AS. Selain itu, ada pula penyerahan izin perluasan investasi kepada PMA asal Amerika Serikat terkait akomodasi cottage dan pariwisata di Raja Ampat senilai 200 juta dolar AS. Kepala BKPM Thomas Lembong mengatakan, kesepakatan bisnis yang dihasilkan merupakan salah satu bukti nyata menggeliatnya investasi di sektor pariwisata Indonesia.
“Kesepakatan bisnis serta satu kesepakatan terkait dengan pendidikan tersebut merupakan bukti nyata upaya pemerintah untuk meningkatkan investasi di sektor pariwisata,” ujar Thomas dalam siaran persnya Kamis, 25 Mei 2017.
Thomas memperikirakan nilai bisnis tersebut bisa bertambah karena nilai yang disepakati termasuk kesepakatan yang dapat diperoleh dalam kegiatan one-on-one meeting yang hingga kini telah terkonfirmasi diikuti oleh 37 perusahaan dari Cina, Jepang, Singapura, Australia, Persatuan Emirat Arab dan Korea Selatan. Kegiatan one-on-one ini ibarat virus yang memiliki daya tarik yang kuat untuk para investor. Buktinya bukan hanya 37 perusahaan asing namun ada tujuh perwakilan kedutaan besar serta asosiasi bisnis asing dari Cina, Thailand, Australia, dan Jepang yang juga akan memanfaatkan kesempatan one-on-one meeting dengan berbagai pihak terkait investasi pariwisata di Indonesia. Kegiatan Invest Manado bertujuan untuk memberikan gambaran destinasi investasi di Sulawesi Utara sekaligus mempopulerkan tujuan pariwisata di Manado.
“Dalam forum one-on-one meeting mereka akan dipertemukan dengan perusahaan maupun pemerintah daerah secara langsung untuk membahas mengenai minat mereka,” kata Thomas.
Mantan menteri perdagangan ini mengungkapkan BKPM memliki jurus jitu dalam menawarkan investasi di Indonesia. Jurus itu yakni dengan melakukan pendekatan yang terintegrasi
untuk menawarkan potensi investasi pemerintah. Menurutnya, Presiden Joko Widodo dan tim di kabinet telah menetapkan tiga daerah prioritas untuk OBOR yakni Sumut, Kaltara, dan Sulut. Ini nantinya akan dimatangkan bersama Menko Maritim terkait penyusunan roadmapnya secara lebih detil,” ujar Thomas.
Dari data BKPM, investasi asing (FDI) di sektor pariwisata terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2014 tercatat investasi di sektor pariwisata hanya 673,1 juta dolar AS naik tipis menjadi 732,5 juta dolar AS di 2015. Kemudian, investasi tersebut naik drastis sebesar 63 persen menjadi 1,19 miliar dolar AS pada 2016. Hingga kuartal I 2017, investasi asing di sektor pariwisata mencapai 440 juta dolar AS.
Sementara itu Menpar Arief Yahya menyebut pengembangan destinasi itu rumusnya 3A, Atraksi, Akses dan Amenitas. Isu di Sulut itu, ketiga-tiganya sudah kritis. Akses udara, perlu Airports dengan kapasitas besar, dan Airlines yang lebih banyak daya angkutnya. “Sedangkan Amenitas, saat ini sangat kurang hotel di Manado! Atraksi juga harus ditambah, agar orang stay lebih lama di Sulut,” jelas Arief Yahya.
Investari di akses maupun amenitas itu menjadi isu di pariwisata Sulut. Kegiatan ini diprakarsai Badan Koordinasi Penanaman Modal, didukung Kementerian Pariwisata, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Pricewaterhouse Coopers, Broadway Malyan dan International Reseach Development Indonesia.
Sedangkan Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey menyatakan Sulut siap memfasilitasi investor di sektor pariwisata yang akan mengembangkan destinasi pariwisata di Sulawesi Utara. Menurutnya, Sulawesi Utara memiliki rata-rata pertumbuhan ekonomi mencapai 6,5 persen sejak 2010 hingga 2016. Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian Sulawesi Utara sangat prospektif dan menarik bagi investasi baik asing maupun domestik.