Pagoda Shwedagon ala Myanmar di Tanah Karo
Pernah mendengar nama Pagoda Shwedagon yang terkenal di Myanmar? Kalau ingin merasakan sensasi berada di sana, cukup mampir ke Medan saja. Tidak perlu jauh-jauh terbang ke Myanmar, karena replika sempurna Pagoda Shwedagon kini telah hadir di Indonesia dalam bentuk Taman Lumbini.
Pagoda Taman Lumbini baru diresmikan pada tahun 2010 lalu dengan dihadiri oleh 100 orang Bhiksu dari seluruh Indonesia, 650 biksu dari Myanmar, 400 biksu dari Thailand dan juga biksu-biksu dari negara-negara lainnya yang mencapai 20 negara.
Pagoda tertinggi di Indonesia ini memang sengaja dibangun menyerupai Shwedagon yang ada di Myanmar. Taman Lumbini terletak Desa Tongkeh, Kecamatan Dolat Rakyat, Kabupaten Karo, Berastagi, Sumatera Utara. Jaraknya sekitar 66 km dari Medan dan menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan darat.
Begitu menginjakkan kaki di halaman Taman Lumbini, siapapun tentu akan merasakan sensasi seperti sedang berada di Pagoda Shwedagon yang asli atau di kuil-kuil di Thailand. Warna emasnya dan ukiran timbul para dewa di sepanjang tembok yang mengelilingi Pagoda Shwedagon ditambah dengan holy drum dan patung di setiap sudut membuat nuansa Buddha semakin kental terasa di sini.
Pengunjung tak hanya bisa melihat bagian luar Taman Lumbini, namun mereka juga bisa masuk ke dalam dan melakukan ritual bersembahyang.
Saat akan masuk ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi pengunjung, seperti misalnya para pengunjung diwajibkan melepas sepatu dan alas kaki serta tidak diperbolehkan membawa dupa atau hio ke dalam ruangan.
Begitu masuk, pengunjung akan disambut dengan patung 4 Buddha yang ada di tengah ruangan. Di tiap sudut ruangan juga ada patung-patung Buddha yang berbeda.
Tak hanya bisa melihat dan bersembahyang, pengunjung juga bisa membuat permohonan kepada Buddha. Dengan memberikan donasi, pengunjung bisa mendapat kertas untuk menuliskan permohonannya dan menggantungkannya di pohon harapan yang ada di depan patung Buddha.
Taman Lumbini ini selalu ramai pengunjung, baik di hari libur maupun hari biasa. Mereka yang datang tidak hanya para wisatawan, tapi juga umat Budha yang datang untuk sembahyang terutama di akhir pekan.
“Di sini selalu ramai, apalagi pas akhir pekan. Tidak hanya umat Buddha yang akan bersembahyang, tapi juga wisatawan, turis,” jelas seorang pemandu setempat.
Untuk masuk dan menikmati keindahan Taman Lumbini ini, pengunjung tidak dikenai biaya masuk apapun ataupun parkir. Pengunjung hanya perlu mengisi buku tamu dan mematuhi peraturan. Namun pengunjung bisa memberikan sumbangan seikhlasnya jika berkenan.
