EconomicHeadline NewsTechTechnology

Pandemi Covid-19 Bisnis EduTech “CUAN”

Penerapan kembali Pembatasan Skala Besar-Besaran (PSBB) yang lebih ketat atas keputusan Gubernur DKI Jakarta sebagai bentuk rem darurat untuk mengatasi Covid-19, berdampak positif pada perusahaan rintisan di sektor pendidikan atau EduTech.

Upaya yang dijalankan dalam penekanan penyebaran Covid-19 telah membuat lebih dari 530.000 sekolah di Indonesia ditutup atau diberhentikan sementara aktivitasnya. Teknologi informasi dan komunikasi dalam menyediakan layanan pendidikan sebagai aktivitas belajar di rumah memiliki potensi yang menjanjikan.

Berdasarkan laporan konsultan bisnis Grant Thornton Indonesia, terdapat sekitar 68 juta siswa dari tingkat pra-sekolah hingga perguruan tinggi yang membutuhkan teknologi untuk belajar. Bahkan secara global, ada 1,5 miliar siswa di 188 negara tidak dapat menghadiri kelas.

Lima tahun terakhir Cakap mengalami pertumbuhan yang luar biasa dan menjadi platform pembelajaran bahasa terbesar di Indonesia dengan 100.000 lebih pengguna. Perusahaan startup pengembangaplikasi belajar online bahasa asing ini sendiri mengadopsi platform secara ​dua arah​, two-way interaction.

Cakap berarti kompeten atau terampil dalam bahasa Indonesia, dengan visi untuk meningkatkan daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) dengan cara memberikan pendidikan berkualitas tinggi yang mudah diakses, dapat diterima dan terjangkau untuk masyarakat Indonesia.

Sekitar lima tahun yang lalu, peluncuran Cakap sekaligus menjadi ajang penyerahan Rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai ​Aplikasi Daring Pertama Belajar Bahasa dengan Interaksi Dua Arah Secara Langsung di Indonesia. Piagam penghargaan ini diserahkan secara langsung oleh perwakilan Muri Indonesia kepada CEO Cakap, Tomy Yunus Tjen.

Tim Muri ikut berbangga atas prestasi yang berhasil dicapai oleh Cakap sebagai pengembang aplikasi daring pertama Belajar Bahasa dengan Interaksi Dua Arah secara langsung di Indonesia, semoga hal ini bisa menginspirasi generasi muda lainnya untuk dapat berkarya memajukan pendidikan di Indonesia melalui teknologi.

Pengguna layanan edukasi teknologi (edutech) kian bertambah seiring dengan penerapan belajar di rumah untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Tanah Air.

Perusahaan rintisan Edutech lainnya yang menyediakan layanan tersebut adalah PT Ruang Raya Indonesia (Ruangguru). Perusahaan tersebut lewat situs resminya mengklaim telah memiliki lebih dari 15 juta pengguna serta mengelola 300.000 guru yang menawarkan jasa di lebih dari 100 bidang pelajaran.

Bertambahnya jumlah pengguna Ruangguru tak terlepas dari keberadaan Sekolah Online Ruang Guru (SORG) yang menawarkan akses gratis ke semua mata pelajaran sekolah kelas 1 hingga kelas 12.

SORG yang diluncurkan pada Maret 2020 atau awal merebaknya pandemi Covid-19 sudah mencatatkan 7,5 juta pengguna. Ruangguru juga ingin memberdayakan para guru dalam melakukan pembelajaran digital, sehingga kami mempelopori Pelatihan Guru Online – Gratis yang telah diakses oleh lebih dari 100.000 guru.

Sementara itu, Zenius mengungkapkan sejak Juli 2019 hingga akhir kuartal II/2020, Zenius mengalami peningkatan jumlah pengguna aktif bulanan sebanyak 12 kali lipat. Adapun strategi yang dilakukan perusahaan pada awal tahun ajaran 2020/2021 untuk menjaring lebih banyak pengguna adalah meluncurkan Zenius Ultima dan Optima.

Zenius Optima ditujukan buat bantu kamu mempelajari materi pelajaran secara mendalam buat pengguna yang duduk di kelas 9, 10, 11 dan 12. Program ini akan berlangsung sampai akhir tahun ajaran 2020/2021.

Adapun, Zenius Ultima ditujukan untuk pengguna yang ingin memfokuskan dirinya pada Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) atau Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).

Tak mau kalah PT Ayo Blajar Indonesia (AyoBlajar) berupaya menambah jumlah penggunanya dengan membidik mereka yang masih duduk di bangku sekolah. Sebelumnya, AyoBlajar hanya fokus membantu pengelolaan sistem manajemen pendidikan saja. AyoBlajar menargetkan mampu menggaet 100.000 pengguna tahun ini. Saat ini, layanan AyoBlajar sudah menjangkau 23 sekolah dan 13.000 siswa.

Sebelumnya, konsultan bisnis Grant Thornton Indonesia menyebut jumlah pemain EduTech di Indonesia sudah mencapai 44 perusahaan rintisan dan diperkirakan masih akan terus bertambah. Perkembangan EduTech di Indonesia tak terlepas dari potensinya yang sedemikian besar. Hal tersebut tentunya menjadi magnet bagi investor untuk menanamkan modalnya di salah satu perusahaan rintisan yang bergerak di sektor tersebut. Investor yang menginvestasikan dana di sektor ini perlu juga mempertimbangkan risiko yang dapat menyertai seperti regulasi, siklus pendanaan dan bagaimana entitas bersaing dengan kompetitor.

Dari sisi entitas EduTech juga perlu menjalankan strategi bertahan dengan melihat cara untuk menekan biaya, memberikan kualitas pengajar yang baik, dan hasil yang berdampak. Karena hal tersebut yang menjadi kunci untuk menentukan siapa pemenang dalam jangka panjang seiring pertumbuhan dan semakin matangnya pasar EduTech di Indonesia

Selain itu, perkembangan EduTech juga dibantu oleh keberadaan program subsidi kuota internet oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sejauh ini, ada 18 EduTech dan pesan instan yang bisa diakses menggunakan kuota tersebut, antara lain; (1). Cakap. (2). Google Classroom. (3). Microsoft Education. (4). Quipper. (5). Sekolah.Mu. (6). Zenius. (7). Ruang Guru. (8). Kipin School 4.0. (9). Udemy. (10). Ayoblajar. (11). Eduka system. (12). Bahaso. (13). Birru. (14). Rumah Belajar. (15). Duolingo. (16). Edmodo. (17). Aminin. (18). Ganeca digital.

Kemendikbud telah menyatakan bahwa daftar aplikasi atau situs yang dapat diakses melalui kuota belajar ini akan terus diperbarui atau ditambah menyesuaikan masukan.

Edutech Menuai Pengaruh Positif Belajar Dari Rumah

Pandemi Covid-19 yang telah kita alami lebih dari satu tahun terakhir ini telah membuat perusahaan rintisan berbasis edukasi teknologi (Edutech) merasakan pengaruh positif dari aktivitas belajar di rumah yang memiliki potensi menjanjikan dalam pengembangan bisnisnya. Peluang bisnis yang dimiliki oleh setiap perusahaan edutech, tidak lepas dari fungsi utamanya untuk menjadi pendukung dari sistem pendidikan Indonesia dengan cara baru dalam penyampaian pembelajaran. Sejak Juli 2019 hingga akhir kuartal II/2020, perusahaan Edutech telah mengalami peningkatan jumlah pengguna aktif bulanan berkali-kali lipat.

Saat ini, sudah terdapat 30 juta siswa di Indonesia yang sudah terjangkau ponsel pintar dan internet dan target Zenius adalah untuk menggaet mereka dan juga mendukung upaya pemerintah untuk terus meningkatkan penetrasi smartphone dan internet. Lebih lanjut, kaena pandemi Covid-19, para pelajar di Indonesia terpaksa harus belajar secara daring di rumah masing-masing. Di satu sisi, ini memang membuat minat terhadap industri edutech meningkat.

Namun, perusahaan Edutech bertanggung jawab untuk memastikan seluruh pelajar di Indonesia mendapatkan akses terhadap pendidikan berkualitas dengan teknologi. Inilah yang menjadi salah satu alasan perusahaan Edutech untuk meneruskan program bebas akses bebas biaya untuk semua pelajar dan pembelajar di Indonesia dan bahkan sampai hari ini pun mereka masih membuka akses terhadap video konsep dan latihan soal secara gratis

Sejak dari mulainya pandemi Covid-19 sampai saat ini, beberapa perusahaan Edutech terus berusaha mencari cara dan berinovasi untuk membuat kegiatan pembelajaran jarak jauh bisa lebih berarti dan memahami apa saja tantangan yang dihadapi dari belajar dengan menatap layar dibandingkan secara langsung di dalam kelas. Proses belajar mengajar dirancang betul-betul live dan interaktif, dan juga terus melibatkan orang tua dan guru untuk membantu sekitar 68 juta pelajar di Indonesia.

Selain itu perusahaan Edutech tidak hanya berfokus pada proses belajar siswa, tetapi juga para guru. Pemberdayaan para guru dalam melakukan pembelajaran digital telah mempelopori Pelatihan Guru Online – Gratis yang telah diakses oleh lebih dari 100.000 guru di Indonesia.

Pada awal Maret 2020, strategi yang dipilih oleh salah satu perusahaan Edutech adalah meluncurkan Sekolah Online Ruangguru (SORG) yang menawarkan kepada siswa di seluruh nusantara akses gratis ke kelas langsung pada semua mata pelajaran sekolah Kelas 1 hingga Kelas 12. Dia mengatakan bahwa sejak diluncurkan SORG Gratis sudah lebih dari 7,5 juta pelajar memanfaatkan layanan tersebut.

Data survei menunjukkan bahwa secara rata-rata, 9 dari 10 pengguna layanan Edutech menunjukkan bahwa mereka dapat belajar lebih baik setelah mengikuti Sekolah Online Ruangguru Gratis (SORG).

Pertumbuhan startup edutech sudah terjadi secara langsung dan juga banyak didukung oleh program pemerintah yang mewajibkan akses secara daring khususnya pada masa pandemi sekarang ini.Ke depan, inovasi perlu dilakukan bukan hanya pada metode pengajaran terkait penggunaan Zoom, Google Meet namun juga konten yang bisa di akses secara digital dan administrasi sekolah yang disesuaikan untuk operasional secara daring juga. Khusus bagi startup edutech lokal, perlu strategi ceruk segmen yang tepat di rantai nilai sektor edukasi ini agar tidak “head-to-head” dengan perangkat yang sudah ada dari provider besar seperti Google dan Zoom.

Hal ini karena Google dan Zoom memiliki market share dan solusi yang lengkap di layanan video call, sehingga baik bagi edutech untuk membuat solusi yang melengkapi seputar kebutuhan pengguna.

PSBB dan EDUTECH

Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah mendorong investor melirik perusahaan rintisan (startup) yang bergerak di sektor pendidikan. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam menyediakan layanan pendidikan sebagai aktivitas belajar di rumah memiliki potensi yang menjanjikan.

Melihat perkembangan sektor EduTech di Indonesia tentu terlihat prospek yang sangat menjanjikan. Bagi investor yang menginvestasikan dana di sektor ini perlu juga mempertimbangkan risiko yang dapat menyertai seperti regulasi, sikus pendanaan dan bagaimana entitas bersaing dengan kompetitor.

Peluang menjanjikan ini muncul karena penggunaan EduTech akan terus dibutuhkan oleh siswa dari berbagai tingkat. Tentunya teknologi seperti Internet, ponsel pintar, dan laptop menjadi keharusan dalam mendukung pembelajaran jarak jauh. Buktinya, salah satu penyedia jasa telekomunikasi terbesar di Indonesia mencatat adanya peningkatan arus broadband sebesar 16% selama pandemi Covid-19.

Selain itu, bukti lain moncernya EduTech tampak ketika jeda pembiayaan pada bulan Maret, di mana investor dari berbagai negara kembali menggelontorkan dana bagi EduTech dan melambungkan beberapa startup bahkan hingga melewati nilai valuasi USD1 miliar.

Investor sengaja fokus pada entitas yang memasarkan alat dan layanan langsung ke konsumen (DTC) dan bukan ke institusi. Tiga sektor EduTech DTC yang memperoleh investasi paling besar adalah bimbingan belajar online, bantuan dan aplikasi digital, serta edutainment. Pada bulan Juni lalu, pemain EduTech di Indonesia sendiri sudah mencapai 44 dan diperkirakan masih akan terus bertambah.

Beberapa startup EduTech yang semakin terkenal di Indonesia semenjak peranannya semakin terasa besar bagi siswa selama masa pandemi, di antaranya Cakap, IndonesiaX, Ruangguru, Quipper, Zenius dan masih banyak lagi.

Menilik Business Resilience Wheel yang dikeluarkan Grant Thornton Indonesia pada kuartal pertama tahun ini, disebutkan pula pentingnya opsi pendanaan sebagai salah satu strategi bertahan perusahaan di masa pandemi.

Hal ini sepertinya telah dijalankan dengan cukup baik oleh para pelaku EduTech, terlihat dari sejumlah investasi besar yang telah berhasil disuntikkan ke sektor ini dan menjadikan pandemi Covid-19 justru sebagai momentum akselerasi dan ajang pembuktian bahwa investasi tersebut dibenamkan pada sektor yang tepat.

Dari sisi entitas EduTech juga perlu menjalankan strategi bertahan dengan melihat cara untuk menekan biaya, memberikan kualitas pengajar yang baik, dan hasil yang berdampak. Karena hal tersebut yang menjadi kunci untuk menentukan siapa pemenang dalam jangka panjang seiring pertumbuhan dan semakin matangnya pasar EduTech di Indonesia.

Manfaat Anak Pelajari Bahasa Asing Menurut Psikolog

Selain bahasa ibu, mempelajari bahasa asing juga mendatangkan banyak manfaat. Selain mendukung anak di dunia kerja, dengan mempelajari bahasa asing juga bisa mendukung tingkat percaya diri dan memberikan konsep diri yang baik terhadap anak.

Hal ini disampaikan Psikolog Anak, Remaja dan Keluarga Ayoe Sutomo saat launching Cakap Mandarin For Kids, Rabu (10/2/2021). Menurut Ayoe, ada beberapa riset terkait usia emas anak bisa mempelajari bahasa asing. Ada beberapa hasil riset yang menyampaikan usia 4 hingga 12 tahun, ada pula periode emas anak mempelajari bahasa asing di usia 6-12 tahun.

Ayoe mengatakan, jika diambil benang merah, periode emas anak bisa mempelajari bahasa asing berada di usia 4-12 tahun. Di masa itu periode emas anak untuk mulai belajar bahasa asing di luar bahasa ibu.

Ayoe menjelaskan, di periode usia tersebut dinilai cukup bagus untuk mempelajari bahasa asing karena ada fungsi otak terkait dengan bahasa yang berkembang pesat di tahapan usia tersebut. “Dengan stimulasi bahasa yang masuk dan bagian otak yang sedang berkembang membuat proses pembelajaran jadi makin optimal,” kata Ayoe.

Ayoe menerangkan, bahasa bisa dikatakan sebagai satu jendela untuk melihat dunia. Saat mempelajari suatu bahasa, anak juga secara tidak langsung turut mempelahari budaya atau hal lain di negara tersebut.

Dengan mempelajari bahasa asing, lanjut Ayoe, secara tidak langsung turut membuka banyak pengalaman dan kesempatan baru. Jika dilakukan sejak kecil otomatis kesempatan dan peluang itu juga terbuka sejak dini. “Hal itu menjadi modal bagi anak dan meningkatkan percaya diri atas kemampuan yang dimilikinya,” tutur Ayoe.

Ketika anak merasa percaya diri, juga membuat anak memiliki konsep diri yang baik. Hal ini menjadi faktor yang mendukung saat dia dewasa kelak. Ketika kemampuan itu dipupuk hingga dewasa, juga akan menyebabkan anak memiliki pemahaman sosial yang baik.

 Ciptakan networking di masa depan

Efeknya anak menjadi pribadi yang mudah bergaul dan punya banyak teman. Sehingga ke depan, ia akan mempunyai networking yang baik pula. “Jaringan atau network ini penting banget. Ketika kemampuan berbahasa asing itu dipupuk terus, efeknya tidak hanya bisa berbahasa asing tapi juga secara psikologi anak dan sosial juga bagus dan menjadi modal besar ketika mereka dewasa,” tandas Ayoe.

Selain itu, manfaat positif lainnya dengan mempelajari bahasa asing yakni meningkatkan kemampuan memori anak. Selain itu anak juga bisa mengambil kesimpulan dengan cepat dan mencari problem solving yang bisa digunakan saat mereka dewasa kelak.

Butuh suasana belajar yang menyenangkan

Ketika orangtua ingin anaknya bisa berbahasa asing, tentu membutuhkan upaya besar dan kegigihan. Pasalnya sering terjadi, anak bersemangat saat memulai sesuatu tapi di tengah jalan semangatnya menurun. Dalam hal ini, orangtua harus mendampingi anak agar bisa menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Sehingga anak juga terbiasa menghadapi permasalahan dan menyelesaikan tantangan yang dihadapi, “Misalnya belajar dengan cara yang menyenangkan. Hal itu menjadi modal belajar yang penting. Anak akan lebih mudah memahami dan menangkap lebih cepat,” jelas Ayoe.

Seorang parent influencer Lina Amelia mengungkapkan, pengaruh positif ketika mempunyai kemampuan berbahasa asing. Meski dia lulusan SMA, dia bisa mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan cukup besar karena kemampuan Bahasa Mandarin yang dimilikinya. “Karena sudah merasakannya, saya juga ingin mengajari keempat anak saya dengan Bahasa Mandarin sejak dini,” beber Lina.

Namun dia tak menampik jika mengajari anak sesuatu hal baru tentu ada tantangannya. Meski di awal anak bersemangat, tapi ketik proses belajar berlangsung kadang mood anak tidak bagus atau menolak untuk belajar. Oleh karena itu, Lina menerapkan sistem reward ketika anaknya ketika bersedia belajar Bahasa Mandarin.  “Jika anaknya mau diajak belajar, saya kasih sesuatu yang disukai. Misalnya es krim atau mainan,” imbuh Lina.

Kategori Startup di Indonesia

Jika kamu mendengar kata startup, coba sebutkan satu hal yang ada di dibenakmu. Mungkin kamu akan menyebutkan beberapa nama seperti Cakap, Go-Jek, Grab atau nama lainnya. Benar, nama-nama tersebut merupakan beberapa pemain startup yang ada di Indonesia. Namun, sebenarnya apa sih startup itu? Kategori apa yang bisa mengacu kepada sebuah perusahaan untuk disebut sebagai startup.

Perkembangan startup alias perusahaan rintisan di Indonesia memang cukup kencang dalam beberapa tahun belakangan ini. Saat ini pun ada sedikitnya lima startup yang masuk dalam kasta tertinggi dan telah “naik kelas” dari status startup, seperti unicorn, decacorn dan hectocorn, yang dinilai dari segi valuasinya.

  1. Berdasarkan nilai / valuasi

Unicorn adalah startup yang memiliki valuasi 1 miliar dollar AS.  Kemudian diikuti Decacorn adalah startup dengan valuasi mencapai 10 miliar dollar AS. Adapun Hectocorn merupakan startup dengan valuasi 100 miliar dollar AS.

2. Berusia Kurang dari 3 Tahun

Kata startup berasal dari Bahasa Inggris yang merujuk pada semua perusahaan yang belum lama beroperasi atau perusahaan rintisan. Perusahaan-perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat. Istilah startup menjadi popular secara internasional pada masa gelembung.com atau gelembung teknologi informasi yang terjadi pada kisaran tahun 1998 sampai tahun 2000.

Pada periode tersebut banyak perusahaan baru di bidang situs-situs internet yang disebut perusahaan.com. Jadi, dapat disimpulkan bahwa bisnis startup adalah suatu bisnis yang baru berkembang. Biasanya berusia kurang dari tiga tahun. Namun, bisnis tersebut lebih identik pada bisnis yang terkait pada teknologi, web dan internet. 

3.  Jumlah Karyawan Minimalis

Karena merupakan perusahaan rintisan yang baru berkembang, umumnya startup memiliki jumlah karyawan yang sedikit. Biasanya jumlah karyawan yang dimiliki sekitar kurang dari lima puluh. Untuk itu, biasanya mereka mencari talent terbaik yang berada dibidangnya. Selain itu, karyawan yang bekerja di startup umumnya berasal dari kaum milenial yang berusia muda dan melek teknologi.

4. Masih Membutuhkan  Pendanaan

Untuk bisa menjalankan bisnis, umumnya startup memperoleh pendanaan dari Investor yang biasa disebut Angel Investor dan Venture Capitalist Utama (investor utama). Menurut Tech In Asia, Angel Investor adalah seorang investor yang menggunakan dana pribadinya untuk berinvestasi pada sebuah startup dengan imbalan saham perusahaan tersebut.

Sedangkan Venture Capitalist Utama adalah venture capital yang bertanggung jawab untuk menyokong startup atau berinvestasi paling besar dalam pendanaan di tahap tertentu. Dalam kedua kasus, mereka terlibat aktif dalam perusahaan investasi. Mereka ikut dalam rapat dewan direksi sebagai direktur dan terlibat dalam portofolio sehari-hari.

Selain itu, terdapat beberapa tahapan investasi yang bisa diperoleh oleh startup yang biasa di sebut dengan Round. Round terbagi menjadi tiga yaitu round pertama disebut dengan “seed round” atau pendanaan tahap awal. Kemudian round berikutnya disebut “Seri A”, “Seri B”, “Seri C”, dan seterusnya. Round terakhir disebut sebagai “final round”.

5. Produk Berupa Aplikasi Digital dan Menjadi Solusi

Meski pengertian sesungguhnya sebuah startup tidak harus bergerak di bidang teknologi, namun beberapa startup yang ada saat ini pasti memiliki aplikasi digital. Hal tersebut dilakukan untuk membuat produk sebuah startup bisa langsung digunakan oleh masyarakat. Contohnya, seperti Cakap, Go-Jek, Grab,  dan kehadiran beberapa pemain lainnya di bidang transportasi yang berupaya untuk mempermudah kebutuhan masyarakat dalam berkendara.

6.  Fokus Pada Kebutuhan Konsume

Sebuah startup harus berorientasi pada kebutuhan konsumen. Pada dasarnya, sebuah startup harus memiliki kedekatan atau mampu menjadi solusi atas masalah yang ada di lingkungan sekitarnya. Tidak harus memecahkan masalah besar namun cukup dengan masalah yang biasa dihadapi banyak orang namun belum mendapat perhatian khusus. Dengan demikian, startup akan bisa terus berkembang dan bermanfaat bagi sekitar.

Meski baru merintis, tidak menutup kemungkinan sebuah startup untuk bisa menjadi perusahaan terbesar nantinya. Apakah Anda tertarik untuk berinvestasi atau bekerja di startup?

 

Data dirangkum dan diolah dari berbagai sumber oleh :

Dr. Andy Kurniawan Bong, SE, MBA. (Dosen Senior.)

 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close