Pastikan Keamanan Gunung Merapi Saat Liburan Nataru, Menteri ESDM Tinjau Pos Pengamatan Gunung Api di Kaliurang
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, didampingi oleh anggota Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Gandung Pardiman, serta Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid, melakukan kunjungan ke Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Merapi di Kaliurang, Yogyakarta pada Minggu, (29/12/2024).
Kunjungan tersebut bertujuan untuk memantau langsung aktivitas vulkanik Gunung Merapi dan memastikan kondisi kegeologian tetap aman, terutama saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang biasa diwarnai dengan tingginya aktivitas wisatawan di kawasan pegunungan.
Bahlil menyampaikan bahwa kunjungannya kali ini merupakan bagian dari upaya memastikan bahwa keaktifan gunung api di Indonesia terpantau dengan baik.
“Saya bersama Pak Gandung Pardiman dan Kepala Badan Geologi datang untuk memastikan bahwa aktivitas gunung api di seluruh Indonesia, termasuk Merapi, terpantau dengan baik. Saat ini, status Gunung Merapi berada di Level III (Siaga), jadi bagi masyarakat yang ingin berwisata ke daerah pegunungan tidak ada masalah, namun tetap harus berhati-hati,” ujar Bahlil.
Menurut Bahlil, Kementerian ESDM melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi terus memantau aktivitas vulkanik di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini sesuai dengan arahan Presiden RI, Prabowo Subianto, yang meminta agar keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam pemantauan aktivitas gunung api, terlebih lagi selama masa liburan yang biasa diikuti dengan peningkatan jumlah wisatawan.
Kunjungan ke Pos Pengamatan Gunung Merapi bukan hanya sekadar kegiatan simbolis, namun juga sebagai bagian dari komitmen pemerintah untuk terus memantau dan mengawasi aktivitas vulkanik secara menyeluruh.
“Kami terus memantau gunung api di berbagai wilayah, seperti yang saya lakukan kemarin di Cilegon untuk memeriksa aktivitas Gunung Krakatau. Setiap kali saya berkunjung ke daerah, saya selalu menyempatkan diri untuk mengecek pos-pos pengamatan yang ada. Ini merupakan bagian dari perintah Bapak Presiden Prabowo untuk mengecek seluruh fasilitas yang berkaitan dengan keselamatan masyarakat,” tambah Bahlil.
Dalam upaya mitigasi bencana, Bahlil juga menekankan pentingnya koordinasi antara berbagai instansi terkait, baik di tingkat pusat maupun daerah. “Kami bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah daerah, serta masyarakat dalam upaya menjaga keselamatan dan memberikan edukasi tentang potensi bahaya gunung api, terutama di daerah-daerah yang menjadi tujuan wisata,” tutup Bahlil.
Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, turut mengonfirmasi bahwa saat ini terdapat tujuh gunung api di Indonesia yang berstatus Siaga (Level III). Tujuh gunung api tersebut antara lain adalah Gunung Awu, Gunung Karangetang, dan Gunung Lokon di Sulawesi Utara; Gunung Iya dan Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur (NTT); Gunung Ibu di Maluku Utara; dan Gunung Merapi di Yogyakarta.
Wafid menekankan bahwa PVMBG Badan Geologi terus memantau dan mengawasi aktivitas vulkanik secara kontinu, bukan hanya saat libur Nataru saja, tetapi sepanjang waktu.
“Pemerintah tidak hanya memantau gunung api saat Nataru, tetapi terus melakukannya sepanjang waktu. Semua gunung api, termasuk yang ada di daerah-daerah wisata, tetap dalam pemantauan. Jadi, meskipun tidak dalam periode liburan, kami tetap memastikan bahwa semua aspek keselamatan terkait gunung api selalu terjaga,” ujar Wafid.
Terkait dengan Gunung Merapi, Wafid juga mengingatkan masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai Merapi, seperti Kali Gendol, Kali Boyong, dan Kali Kuning, untuk tetap waspada terhadap potensi terjadinya banjir lahar dingin. Curah hujan yang tinggi di puncak Merapi selama musim hujan dapat membawa material vulkanik ke sungai-sungai tersebut, yang dapat mengancam keselamatan masyarakat yang berada di sepanjang aliran sungai.
Wafid mengimbau agar masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Merapi untuk lebih waspada terhadap potensi banjir lahar dingin. “Dengan curah hujan yang tinggi di puncak Merapi, material vulkanik bisa terbawa turun dan masuk ke dalam sungai-sungai. Oleh karena itu, masyarakat harus waspada dan selalu mengikuti informasi serta instruksi dari pihak berwenang,” tambahnya.
Selain itu, Wafid juga menegaskan bahwa meskipun status Gunung Merapi berada di level Siaga, pemerintah akan terus memastikan pemantauan dan mitigasi bencana berjalan dengan baik. Ia berharap, dengan adanya koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah, serta kesadaran masyarakat, potensi risiko bencana akibat aktivitas vulkanik dapat diminimalisir.
