Seminar Nasional “The Power of Rising Star” Dorong Generasi Muda Indonesia Tembus Panggung Dunia

Untuk memperkuat kualitas dan wawasan generasi muda Indonesia, Yayasan El John Indonesia bersama EL JOHN Academy menyelenggarakan Seminar Nasional mengangkat tema “The Power of Rising Star” dengan subtema “Dari Indonesia ke Panggung Dunia”, di Merlyn Park Hotel, Jakarta, Senin (17/11/2025).
Seminar bermanfaat ini menarik perhatian ratusan peserta yang ingin mengembangkan kompetensi diri melalui pemaparan para narasumber ahli. Peserta yang hadir diantaranya seluruh finalis Miss Chinese Indonesia 2024, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang antusias mengikuti rangkaian diskusi.
Empat pembicara dari beragam disiplin ilmu dihadirkan untuk memberikan sudut pandang komprehensif mengenai pengembangan diri dan kesiapan generasi muda menuju level global. Mereka ialah Prof. Dr. Ariawan Gunadi, S.H., M.H., Guru Besar sekaligus Ketua Yayasan Universitas Tarumanagara; Hasan Karman, budayawan Tionghoa; Fellexandro Ruby, creativepreneur dan penulis; serta Mung Na, pengajar profesional bahasa Mandarin. Masing-masing narasumber membawakan materi sesuai dengan keahlian, pengalaman, dan latar belakang profesionalnya, sehingga memberikan wawasan multidisipliner yang saling melengkapi.
Budayawan Tionghoa Hasan Karman membuka sesi dengan membahas pentingnya pentingnya akulturasi budaya dalam membentuk karakter generasi muda Indonesia. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa proses perjumpaan antarbudaya bukan sekadar fenomena sosial, tetapi sebuah landasan yang dapat memperkaya cara pandang dan memperkuat jati diri bangsa.
“Pembekalan ini adalah sebuah penyiasatan, cara untuk memahami bagaimana budaya berinteraksi, beradaptasi, dan melahirkan kebijakan yang relevan,” ujar Walikota SIngkawang periode 2007—2012 ini

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa akulturasi budaya memberikan pelajaran penting mengenai bagaimana masyarakat seharusnya menyikapi perbedaan. Menurutnya, keberagaman tidak perlu ditakuti atau dihindari, melainkan dipandang sebagai kesempatan untuk memperluas wawasan, memperkaya identitas pribadi, sekaligus memperkuat identitas nasional.
Dengan pemahaman budaya yang lebih mendalam, saya berharap generasi muda mampu tumbuh sebagai individu yang terbuka, toleran, dan memiliki karakter yang kuat saat menjalani peran mereka di tengah masyarakat yang terus berubah,” tuturnya
Dalam sesi berikutnya, Prof. Ariawan Gunadi menyoroti pentingnya kebijakan pendidikan yang visioner. Ia merujuk data UNDP Human Development Report 2023, yang menempatkan Indeks Pembangunan Manusia (HDI) Indonesia di angka 72,0 (peringkat 116 dunia), jauh tertinggal dari Singapura yang mencapai 0,939 (peringkat 8 dunia).
“Perbedaan ini bukan soal sumber daya alam. Ini soal bagaimana negara mengelola sumber daya manusianya,” tegasnya.

Menurut Prof. Ariawan, Singapura mampu melesat karena menempatkan pendidikan sebagai strategic industry, bukan beban anggaran.
Ia menekankan bahwa Indonesia membutuhkan strategi jangka panjang dan lintas pemerintahan. “Pemerataan kualitas pendidikan, pemanfaatan teknologi, hingga kolaborasi antar-lembaga menjadi faktor kunci untuk mengejar ketertinggalan,” sambungnya.
Sementara tekait Seminar Nasional ini, Ketua Umum Yayasan EL JOHN Indonesia, M. Johnnie Sugiarto, menyampaikan bahwa Seminar digelar sebagai upaya strategis untuk membangun wawasan dan cara pandang generasi muda Indonesia. Menurutnya, anak-anak muda perlu diberi ruang untuk memahami potensi diri dari berbagai sudut agar mampu menentukan arah pengembangan pribadi secara tepat.
“Menurut saya, kita perlu membangun anak-anak muda supaya mereka memiliki gambaran yang jelas,” ujar CEO & Founder EL JOHN Indonesia ini.

Ia menjelaskan bahwa konsep Rising Star memungkinkan peserta melihat diri mereka dari beragam perspektif baik dari aspek ilmu pengetahuan, personal branding, maupun kemampuan berbahasa. “Dengan begitu, mereka bisa memilih sudut yang paling sesuai untuk berkembang,” tambahnya.
Johnnie menegaskan bahwa tema seminar tahun ini dirancang untuk memberikan inspirasi sekaligus membuka cakrawala berpikir para peserta. ia berharap kegiatan ini dapat menanamkan kesadaran bahwa masa depan sepenuhnya berada di tangan setiap individu.
“Harapan saya sebenarnya memberikan wawasan kepada para peserta, baik finalis Miss Chinese Indonesia maupun masyarakat umum yang hadir. Bahwa masa depan itu tergantung kita,” ungkapnya.
“Kita boleh bermimpi setinggi-tingginya. Kalau pun tidak sampai setinggi itu, minimal kita sudah bermimpi dan bergerak ke arah sana. Jangan sampai tidak melakukan apa-apa,” sambungnya.

Sementara itu, Direktur El John Academy, Jimmy Xiao, turut memaparkan perubahan besar dalam program pembinaan yang selama ini diberikan kepada peserta Miss Chinese Indonesia. Tahun ini, konsep tersebut diubah menjadi format seminar nasional yang lebih edukatif dan relevan dengan dinamika global.
“Kita tinggalkan istilah pembekalan. Seluruh rangkaian kini dikemas sebagai seminar nasional, bagian dari bootcamp yang lebih komprehensif,” jelas Jimmy.
Menurutnya, pendekatan baru ini tidak hanya mengajarkan cara berpenampilan atau menjaga diri, tetapi memperluas wawasan peserta agar memiliki bekal hidup yang matang.

Selain itu, Jimmy menegaskan bahwa tujuan utama program ini adalah membentuk generasi muda yang tidak hanya berkompeten, tetapi juga berkarakter kuat.
“Target kami jelas: mereka harus siap tampil sebagai bintang Indonesia yang mampu bersinar di panggung dunia. Ketika mereka mewakili bangsa, mereka membawa hati, loyalitas, dan kebanggaan sebagai orang Indonesia,” ujarnya dalam penutup.
Seminar ini menjadi momentum penting bagi para peserta untuk memahami bahwa kecintaan terhadap budaya, pendidikan yang kuat, serta karakter yang matang adalah pondasi untuk melangkah menuju kancah global. Melalui kolaborasi lintas disiplin ini, Yayasan El John Indonesia berharap dapat melahirkan Rising Star baru yang membawa nama Indonesia ke level internasional.
