SYL Divonis 10 Tahun Penjara dan Denda Rp300 Juta Terkait Kasus Korupsi di Kementan

0

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat menjatuhkan vonis 10 tahun penjara kepada Mantan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL). Selain itu, SYL juga dikenai denda sebesar Rp300 juta, yang jika tidak dibayarkan, akan digantikan dengan hukuman kurungan selama empat bulan.

Ketua majelis hakim, Rianto Adam Pontoh, yang memimpin sidang pada Kamis (11/7), menyatakan bahwa SYL terbukti melakukan pemerasan di lingkungan Kementerian Pertanian (Kementan) RI. “Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 10 tahun penjara dan denda sebesar Rp300 juta dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayarkan, maka diganti dengan pidana kurungan selama empat bulan,” ujar Rianto saat membacakan putusan.

Selain hukuman penjara dan denda, SYL juga dijatuhi hukuman tambahan berupa kewajiban membayar uang pengganti sebesar Rp14,1 miliar dan 30.000 Dolar Amerika Serikat (AS). Uang pengganti ini harus dibayarkan paling lama satu bulan setelah putusan memperoleh kekuatan hukum tetap atau inkrah. Apabila SYL tidak mampu membayar dalam waktu yang ditentukan, maka harta bendanya akan disita dan dilelang oleh jaksa. Jika hasil lelang tidak mencukupi, maka hukuman penjara dua tahun akan dikenakan sebagai penggantinya.

Dalam putusannya, hakim menyatakan bahwa SYL terbukti melanggar Pasal 12 huruf e jo Pasal 18 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat 1 KUHP. Majelis hakim juga mempertimbangkan beberapa faktor yang memberatkan dan meringankan dalam menjatuhkan hukuman.

Faktor yang memberatkan antara lain adalah sikap SYL yang dianggap berbelit-belit dalam memberikan keterangan serta kegagalannya sebagai Menteri Pertanian RI untuk memberikan teladan yang baik. SYL juga dinilai tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan tindak pidana korupsi, kolusi, dan nepotisme. Selain itu, keluarga dan kolega SYL diketahui telah menikmati hasil tindak pidana korupsi tersebut.

Di sisi lain, hakim juga mempertimbangkan faktor yang meringankan seperti usia SYL yang sudah lanjut, yaitu 69 tahun, serta fakta bahwa ia belum pernah dihukum sebelumnya. Selain itu, SYL dianggap telah memberikan kontribusi positif terhadap negara dalam penanganan krisis pangan saat pandemi Covid-19 dan menunjukkan sikap sopan selama persidangan. SYL dan keluarganya juga telah mengembalikan sebagian uang dan barang hasil tindak pidana korupsi.

Vonis yang dijatuhkan kepada SYL lebih ringan daripada tuntutan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang menginginkan hukuman 12 tahun penjara, denda Rp500 juta subsider enam bulan kurungan, serta uang pengganti sebesar Rp44,2 miliar dan 30.000 Dolar AS subsider empat tahun penjara.

Dalam kasus ini, SYL tidak sendirian. Direktur Alat dan Mesin Pertanian Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Kementan nonaktif, Muhammad Hatta, serta Sekretaris Jenderal Kementan nonaktif, Kasdi Subagyono, juga menjalani sidang vonis pada hari yang sama. Keterlibatan mereka dalam tindak pidana ini menambah kompleksitas kasus korupsi yang terjadi di lingkungan Kementerian Pertanian RI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *