CultureHeadline NewsPageants

Yunita Bertekad Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya Tionghoa-Indonesia

Menjadi seorang beauty pageant merupakan tekad Yunita sejak beranjak remaja. Ada alasan yang kuat kenapa Yunita harus ikut  dalam kontes-kontes pageant khususnya kontes yang berkaitan dengan kebudayaan Tionghoa-Indonesia.

Dilahirkan sebagai keturunan Tionghoa, Yunita merasa terpanggil untuk melestarikan akulturasi budaya Tionghoa Indonesia. Apalagi kedua orang tuanya merupakan orang yang selalu menganut tradisi Tionghoa.

“Dorongan keluarga menjadi faktor utama yang paling penting karena memang Yunita lahir dari orangtua yang sangat menganut tradisi kebudayaan Tionghoa, keluarga Yunita masih melestarikan kebudayaan yang ada,” kata Yunita saat diwawancarai tim liputan EL JOHN News, Rabu (14/10/2021).

Itulah alasan Yunita, untuk ikut kontes-kontes pageant. Di kontes inilah, keinginan Yunita dalam melestarikan dan mempromosikan kebudayaan Tionghoa-Indonesia dapat dilakukan dengan mudah. Hal  tersebut  dibuktikan Yunita saat mengikuti pemilihan Hakka Amoi Jakarta tahun 2018 dan alhasil  gadis cantik kelahiran 7 Juli 1998 ini sukses masuk top five dalam kontes tersebut.

Tak berhenti di pemilihan Hakka Amoi,  tiga tahun kemudian, Yunita kembali mengikuti kontes pageant. Kali ini kontes yang dijalani adalah kontes yang diselenggarakan Yayasan EL JOHN Indonesia yakni pemilihan Miss Chinese Indonesia 2021.

Di kontes paling bergengsi di Indonesia ini, Yunita juga berhasil masuk top six dengan  gelar Miss Chinese Tourism Indonesia 2021. Prestasi yang membanggakan bagi Yunita,  karena di luar dugaan dirinya terpilih sebagai finalis  terbaik oleh dewan juri.

“ Yang pertama saya ucapkan terima kasih banyak kepada Yayasan EL JOHN Indonesia melalui EL JOHN Pageant mengadakan ajang pemilihan Miss Chinese Indonesia 2021, di mana ini merupakan ajang untuk generasi muda melestarikan budaya kita dan sekali lagi saya juga mengucapkan terima kasih juga kepada Bapak Martinus Johnnie Sugiarto selaku founder dari Yayasan EL JOHN Indonesia,” ucap Yunita

Prestasi yang diraih ini semakin membuat  Yunita bersemangat untuk mengajak generasi muda keturunan Tionghoa melestarikan kebudayaan leluhurnya. Yunita menilai generasi muda memiliki peran penting dalam memajukan suatu kebudayaan karena memiliki semangat, ide cemerlang dan kreativitas yang tinggi.

Yunita mengakui masih ada generasi muda keturunan Tionghoa yang tidak mengenal tentang sejarah budaya Tionghoa. Padahal sebagai keturunan Tionghoa sudah sewajarnya mengetahui asal usul budaya Tionghoa yang ada di Indonesia, apalagi banyak kalangan yang  menaruh harapan besar kepada generasi muda.

“Menurut saya itu banyak sekali masyarakat yang belum tau dan ketika Yunita membuat video tentang perayaan hari bakcang asal mulanya, nah dari situ banyak sekali teman-teman Yunita yang cerita kepada Yunita wah saya baru pertama kali tau loh, ternyata hari bakcang ini ada asal usulnya, ternyata ada sejarahnya sehingga kita dapat merayakan festival sampai saat ini,” terang lulusan Universitas Pelita Harapan ini.

Yunita tak berhenti untuk membuat konten video memperkenalkan akulturasi budaya Tionghoa-Indonesia, seperti video tentang festival bakcang. Festival ini dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek dan telah berumur lebih 2300 tahun dihitung dari masa Dinasti Zhou. Perayaan festival ini yang biasa kita ketahui adalah makan bakcang dan perlombaan dayung perahu naga.

Selain festival bakcang, Yunita juga memperdalam tentang tradisi pernikahan  Cio Tao. Prosesi upacara Cio Tao merupakan upacara sembahyang yang dilakukan dalam beberapa tahapan, dengan tujuan memberikan penghormatan kepada Tuhan, alam, leluhur, orang tua dan kedua mempelai. Pada saat upacara, kedua mempelai menggunakan baju khas adat Cina yaitu baju Pao. Upacara Cio Tao ini penuh dengan kesakralan pada setiap prosesi yang dilakukan, terlihat dari makna pada setiap simbolik yang ada.

“Jadi ketika Yunita tinggal di Tangerang yang memang ada teman Yunita yang keturunan Cio Tao Benteng itu cerita kepada Yunita, bahwa proses pernikahan Cio Tao itu sangat unik, kemudian search di Google  ternyata memang proses ini sangat unik tetapi sayangnya sudah tidak banyak lagi masyarakat yang keturunan Tionghoa Benteng yang melaksanakan proses Cio Tao ini,” tutur Yunita.Yunita berharap para generasi muda memiliki kemauan untuk mengetahui sejarah tentang budaya Tionghoa. Dengan mengetahui dan memperdalam, maka akan ada kemauan untuk melestarikan dan memperkenalkan akulturasi budaya Tionghoa-Indonesia kepada dunia.

“Menurut Yunita yang paling penting itu adalah, karena apabila kita peduli tentang akulturasi yang ada kita memiliki minat untuk mempelajari, tapi akan sayang sekali banyak sekali masyarakat yang melupakan, karena mungkin dari generasi sebelumnya tidak diteruskan  kebudayaan itu di dalam keluarganya. Karena tidak semua warga Tionghoa yang meneruskan setiap festival  yang ada itu setiap tahunnya ada beberapa keluarga yang tidak meneruskan proses festival tersebut sehingga banyak generasi yang tidak mengetahui bagaimana proses festival tersebut yang ada dan apa saja asal usulnya,” tutup Yunita.

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close