Dari Bahasa ke Teknologi, Wamen Ekraf Soroti Peran Literasi

0
WhatsApp Image 2026-02-07 at 22.58.39

Wamen Ekraf, Irene Umar, menjadi pembicara dalam acara Selebrasi Narabahasa (Senara) 2026 yang digelar di Omah Martimbang, 7 Februari 2026 (Foto: Birkom Kemenekraf)

El John News, Jakarta-Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar menegaskan bahwa bahasa dan literasi memiliki peran strategis sebagai fondasi utama dalam melahirkan gagasan kreatif, khususnya di tengah derasnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurutnya, kemampuan berbahasa yang kuat menjadi kunci agar ide dapat tersampaikan secara tepat dan berkembang menjadi karya bernilai.

Hal itu disampaikan Irene saat hadir sebagai pembicara dalam rangkaian Selebrasi Narabahasa (Senara) 2026 yang digelar di Omah Martimbang, Jakarta, Sabtu (7/2/2026).

Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai medium relasi yang menghubungkan manusia dengan sesama, diri sendiri, hingga teknologi.

“Bahasa menjadi fondasi dari hubungan manusia dengan manusia lain, manusia dengan diri sendiri, dan di era sekarang, manusia dengan mesin. Semakin baik cara kita bertutur saat memberi instruksi kepada AI maupun manusia, semakin dekat hasilnya dengan tujuan yang kita inginkan,” ujar Irene.

Ia juga menyampaikan dukungannya terhadap tagline Narabahasa, Kuasai Bahasa, Kuasai Dunia. Irene menilai bahasa merupakan perangkat utama untuk menyalurkan isi pikiran dan perasaan agar tercipta pemahaman bersama.

“Saya sangat setuju dengan tagline Narabahasa ‘Kuasai Bahasa, Kuasai Dunia’, karena bahasa adalah tools utama kita untuk mengekspresikan apa yang ada di pikiran dan hati untuk saling memahami,” tambahnya.

Lebih lanjut, Irene memandang karya tulis sebagai titik awal lahirnya kekayaan intelektual yang berpotensi dikembangkan ke pasar yang lebih luas. Ia menilai produk berbasis bahasa memiliki peluang besar untuk diadaptasi ke berbagai medium kreatif yang lebih mudah diakses masyarakat.

“Banyak buku, seperti karya Ika Natassa dan Marchella FP, yang berangkat dari tulisan, kemudian dikembangkan menjadi naskah dan diadaptasi ke film,” kata Irene.

Sementara itu, sastrawan Nenden Lilis Aisyah menyoroti pentingnya menjaga orisinalitas karya di tengah kemudahan produksi konten akibat kemajuan teknologi. Ia menilai pengalaman personal menjadi sumber utama yang melahirkan keunikan sebuah karya.

“Pengalaman yang dihayati secara mendalam akan melahirkan bahasa yang lebih personal dan membuat karya menjadi benar-benar orisinal,” ungkap Nenden.

Direktur Utama Narabahasa Ivan Lanin menegaskan bahwa Narabahasa hadir untuk memperkuat keterampilan berbahasa sekaligus mengangkat martabat bahasa Indonesia di ruang publik dan profesional. Menurutnya, kemampuan berbahasa yang baik juga berdampak pada kepercayaan diri dan kebahagiaan masyarakat.

Senara 2026 sendiri berlangsung secara inklusif dan kolaboratif melalui berbagai kegiatan seperti bazar komunitas, diskusi, hiburan, hingga lokakarya, sebagai upaya memperluas dampak bahasa dan literasi bagi ekosistem nasional, termasuk pengembangan industri ekonomi kreatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *