Finalis Koko Cici Jakarta 2024 Tampilkan Bakat dalam Talent Night

0

Sebanyak 32 finalis Koko Cici Jakarta 2024 menunjukkan bakat masing-masing dalam sesi talent night di Pantjoran PIK, Jakarta Utara, Sabtu (8/7/2024).

Para finalis yang terdiri dari 16 pasang ini tampak semangat menampilkan talentanya di hadapan para juri dan masyarakat yang hadir dengan menampilkan drama musikal berjudul Echoes of The Past, di mana menceritakan sepasang kekasih dari putri kerajaan dan seorang ajudan yang dilarang untuk saling mencintai.

Namun, mereka memilih untuk kabur dan memperjuangkan cinta mereka hingga masuk ke dunia modern. Sejak saat itu, raja menyadari bahwa ia tidak bisa mengartikan yang namanya cinta sejati.

Pada drama musikal tersebut, para finalis tampil berakting, menari, bernyanyi, dan masih banyak lagi.

Salah dua finalis Koko Cici Jakarta 2024 adalah Bryan Viriya Kurniawan finalis nomor 27 dan Natasha Christy finalis nomor 19 yang telah mempersiapkan talent night sekitar seminggu.

“Kita juga mungkin banyak yang harus di prepare, tapi kita semua kompak banget sih, dan itu yang bisa menjadi kunci kita sukses untuk talent show,” ucap Bryan.

“Kita benar-benar jadi satu, saling membantu. Kayak tadi di backstage benar-benar hiruk-pikuk dan kita semua saling membantu satu sama lain,” kata Natasha.

Bryan dan Natasha mengaku gugup saat menampilkan bakat. Meski begitu, mereka tidak merasa lelah saat latihan dan tampil bersama finalis lain.

Di atas panggung, Bryan menampilkan band, di mana ia dan finalis lain menyanyikan beberapa lagu medley, mulai dari lagu bahasa Mandarin, bahasa Indonesia, dan juga beberapa akulturasi lagu. Sedangkan Natasha menjadi narator drama musikal tersebut.

Bryan merupakan seorang mahasiswa semester 6 di Binus University jurusan Computer Science. Ia memilih mengikuti Koko Cici Jakarta 2024 karena ingin mempelajari budaya Tionghoa di Indonesia, khususnya di Kota Jakarta.

“Karena saya sebagai orang Jakarta juga kadang beberapa tidak tahu tentang budaya-budaya, kegiatan-kegiatan, akulturasi budaya yang ada di Jakarta. Aku pengen dengan adanya kegiatan ini, bisa menambah ilmu aku, pengalaman aku tentunya di bidang budaya sosial,” jelas Bryan.

Hal senada juga diungkapkan oleh Natasha yang merupakan mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi semester 3 di Universitas Trisakti.

“Jadi buat aku sendiri, aku mau mencari pengalaman, ingin bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan juga tentunya aku ingin melestarikan budaya Tionghoa untuk generasi-generasi yang muda,” kata Natasha.

Adapun finalis lain yang menunjukkan bakat menari di hadapan khalayak adalah Denny Himawan finalis nomor 15 dan Jovita Zabrina finalis nomor 16.

“Aku hari ini bawain tarian tradisional dari Betawi dengan gabungan daerah Bali juga, jadi kita sebut Bali Pong atau Bali Jaipong, judulnya adalah tarian Bajidor Kahot,” ucap Jovita.

Denny dan Jovita juga merasa gugup, tetapi mereka berusaha melakukan persiapan sebaik mungkin untuk memberikan penampilan terbaik.

“Kalau kendala, pastinya ada kendala karena kita yang biasanya tampil individual, kita harus jadi satu cerita. Tentunya kita harus punya harmonisasi satu sama lain dan bangun kemistri satu sama lain,” ucap Jovita.

“Untuk saya sendiri, saya harus membagi waktu karena tentu saja saya menari berdua dengan pasangan saya, dan juga (terserang) penyakit-penyakit karena kondisi cuaca yang kurang membaik,” kata Denny.

Denny yang kini sudah bekerja sebagai konsultan kesehatan, memiliki hobi menari sejak duduk di bangku SMP hingga saat ini, serta pernah melakukan tarian di sanggar budaya dan mengikuti beberapa perlombaan.

“Di sini kita ingin belajar bagaimana bisa menjadi seorang duta budaya, pariwisata, dan sosial, dan mengembangkannya dan membantu kepada masyarakat luar,” kata Denny.

Begitupun dengan Jovita yang kursus menari di sanggar tari sejak umur empat tahun, bahkan ia juga pernah mengikuti perlombaan dan festival budaya. Kini ia sudah bekerja sebagai marketing communication di Perusahaan Agung Sedayu Group.

“Pastinya (di Koko Cici Jakarta) yang pertama menambah pengalaman dan mengasah skill karena kita tahu Koko Cici Jakarta itu punya banyak aspek, dan aspek-aspek di sini benar-benar dilatih, dan juga bukan ajang belajar saja, tapi di sini kita dilatih untuk menjadi duta pariwisata, budaya, dan sosial,” jelas Jovita.

Ketua Pelaksana Pemilihan Koko Cici Jakarta 2024 Birgitta Keisha menjelaskan, diadakannya talent night untuk mengambil nilai talenta dari para finalis Koko Cici Jakarta 2024 dan akan mendapatkan gelar Koko Cici Jakarta Berbakat 2024.

“Kalau di Koko Cici itu ada 4 core values, yaitu 3B dan 1T, yaitu behavior, brain, beauty, and talent. Jadi ini untuk mengambil nilai dari talent tersebut,” kata Birgitta.

Birgitta berharap, para finalis Koko Cici Jakarta 2024 dapat terus melestarikan budaya-budaya Tionghoa di Jakarta.

“Terus membawa budaya-budaya tersebut agar tidak terlupakan di generasi muda, seperti tema kami yaitu Resilience of the Dragon, di mana kami mengharapkan generasi muda memiliki jiwa yang tangguh dan bisa membawa berkat bagi masyarakat di Jakarta,” harap Birgitta.

Sementara itu, Koko Cici Jakarta 2023 Hendra Ivantie Santoso dan Alvania Artamevia mengatakan, setiap finalis perlu memiliki rasa percaya diri dan menjadi diri sendiri.

“Semoga Angkatan 2024 dapat menampilkan yang terbaik, nanti kalau sudah penobatan dan sudah bertugas sebagai koko cici Jakarta 2024 bisa menjalankan tugasnya dengan baik,” ucap Alvania

“Tentunya kita sangat bangga atas persiapan mereka semua and what they have done so far, same like Cici Vania. We hope for the best so that they can continue the spirit of Koko Cici Jakarta, and spread the Chinese culture to the rest of the world,” harap Hendra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *